Jalan-Jalan ke Ende, Kota Tempat Lahirnya Pancasila

Jalan-Jalan ke Ende, Kota Tempat Lahirnya Pancasila

0

penulis kurang-lebih 4 tahun lalu

Para pembaca seword.com yang berbahagia. Di weekend kali ini, saya mau menulis yang ringan-ringan aja ah… Hiruk-pikuk perpolitikan di negeri ini yang kian memanas, sebenarnya, membuat kita perlu rehat sejenak. Merasakan bahwa negeri ini nggak melulu soal Jakarta. Negeri ini punya kekayaan alam yang orang-orang asing beramai-ramai datang. Mereka tidak peduli dengan carut-marut perpolitikan di negeri kita. Toh, mereka cuma butuh piknik.

Orang Bule sangat menghargai diri mereka sendiri. Itulah yang mereka anggap sebagai peradaban sebagai manusia. Kalau kita saja tidak bisa menghargai diri kita sendiri, apalagi orang lain. Itulah sebabnya, Orang Bule suka traveling dan backpacker-an. Dan Indonesia adalah destinasi wisata yang cukup seksi untuk didatangi. Percaya nggak? Harus percaya dong!

Sepuluh juta pekerja asing yang akan masuk ke Indonesia saja banyak orang yang percaya, bahkan kebakaran jenggot. Padahal, sepuluh juta itu target wisatawan asing yang akan masuk ke Indonesia. Ah.. Sepertinya orang Indonesia butuh piknik. Makanya, piknik yuk.

Baiklah. Saya akan tawarkan sebuah destinasi piknik yang mungkin tak banyak orang tahu. Tempat itu bernama Ende. Belum banyak yang tahu kan? Saya akan kasih gambarannya sedikit. Siapa tahu para pembaca seword.com terpikat hatinya. Bukankah tak kenal maka tak sayang?

Dahulu kala, sebelum kemerdekaan negeri ini. Ende adalah tempat dimana Sang Proklamator, Bung Karno, diasingkan. Sejarahnya panjang. Saya tidak akan bercerita disini. Takutnya, segmen pikniknya kehabisan ruang. Padahal, yang kita butuhkan sekarang adalah piknik. Pembaca bisa googling sejarahnya seperti apa.

Singkat cerita. Di Kota Ende lah, Bung Karno menerima ilham untuk merumuskan Pancasila. Itulah sebabnya, Kota Ende disebut sebagai Kota Pancasila. Bagi saya, setelah saya tinggal beberapa tahun di Ende, lalu menyaksikan radikalisme dan terorisme makin menjadi di luar sana, Ende seharusnya jadi kota yang paling bersejarah.

Mengapa? Karena, yang membuat negeri ini bertahan dari gempuran radikalime, fanatisme, dan terorisme adalah Pancasila. Sebuah formulasi mutakhir yang membuat kita bersatu, melupakan identitas keagamaan kita, kesukuan kita, kebahasaan kita. Kita harus berhutang budi pada Kota Ende, sebab di tempat inilah Pancasila lahir. Dan ia terus mengasuh kita. Terus memberikan pelajaran kepada kita bahwa biar kita berbeda, tapi kita harus tetap bersatu.

Kota Ende terletak di sebuah pulau yang besar. Anda pasti kenal Pulau Flores? Sebab, dulu, saat saya masih di Jakarta, yang saya tahu adalah Flores. Nggak tahu ada Ende, Bajawa, Manggarai, Maumere, Larantuka, dan lain sebagainya. Dan Kota Ende adalah kota dengan jumlah muslim terbesar di daratan Flores. Itu fakta.

Jumlah Muslim dan Kristen (Katolik) di kota Ende hampir seimbang. Di kota ini, setiap umat beragama saling menghargai. Saat Lebaran tiba, umat Kristiani berkunjung ke saudara atau temannya yang merayakan. Saat Natal tiba, umat Islam berkunjung ke saudara atau temannya yang merayakan. Tidak ada gesekan di masyarakat berkaitan dengan agama. Ini sangat dihindari. Ini menjaga predikat Kota Ende sebagai kota tempat lahirnya Pancasila. Disamping, memang, unsur kearifan lokal yang membuat penduduk Kota Ende saling menjaga kerukunan beragama.

Kalau urusan lain boleh ribut, karena perselisihan itu manusiawi. Tapi kalau sudah menyangkut masalah agama, suku dan ras, setiap orang harus menahan diri. Orang di luar Ende silahkan ribut soal penistaan agama. Disini, orang tidak ambil pusing. Sebab, setiap umat beragama disini berusaha menahan diri. Bukankah kata Rasul orang yang kuat bukanlah orang yang jago gelut (berantem), tapi mereka yang mampu menahan amarahnya ketika marah.

Waduh… mukadimahnya panjang banget yah? Pikniknya mana? Hahaha.. Sabar yah, orang sabar disayang aku, lah..

Ende tak hanya bersejarah. Kota ini pun menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Saya sendiri pusing mau membahas yang mana, karena saking banyaknya. Tapi. Yang menjadi primadona wisata di Kabupaten ini, tentunya, adalah Danau Kelimutu. Danau yang dulu gambarnya muncul di uang 5000 rupiah.

Waktu kecil dulu. Saya hanya bisa berimajinasi tentang Danau Kelimutu. Hingga akhirnya, saya pun bisa melihatnya secara langsung. Bagaimana caranya ke Danau Kelimutu dari Kota Ende?

Jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih 66 kilometer dari Kota Ende. Perjalanan bisa memakan waktu hingga 2 jam kalau santai. Lama yah? Ya, karena jalannya berliku-liku. Seperti jalur Puncak lah. Meski, jalur ke Danau Kelimutu lebih berliku.

Pernah saya bersama beberapa teman kesana cuma satu jam. Ya, asli satu jam. Sampai rumah langsung mabok berat. Berkendaranya sambil nge-drift gitu. Lalu, apakah ada kendaraan yang kesana? Untuk kendaraan umum tidak ada yang langsung ke Danau Kelimutu. Kendaraan umum hanya sampai Moni. Dari Moni bisa naik ojek ke Danau.

Kalau dengan keluarga atau teman, enaknya sih sewa mobil. Saya nggak tahu harganya berapa sekarang. Dulu sih nggak mahal. Cuma setengah juta-an sudah termasuk supir dan bensin. Kalau backpacker-an sendiri sih bisa saya anterin pakai motor. Tapi nggak janji yah. Hahaha..

Biasanya, agen-agen travel disini punya paket wisata. Kalau ambil jasa travel bisa sampai Waerebo di Manggarai sana. Sebuah kampung adat yang namanya telah mendunia. Tentu akan lebih puas, karena banyak tempat-tempat wisata yang bakal disinggahi di daratan Flores, nggak cuma di Ende.

Bagaimana dengan oleh-olehnya? Oleh-oleh yang paling terkenal di Ende adalah kain tenun. Karena ditenun secara manual, harganya relatif mahal jika dibandingkan kain sarung buat shalat. Mulai dari harga 250ribu hingga jutaan. Tergantung dari kerumitan motif dan bahan baku yang digunakan.

Bagaimana dengan kuliner disana? Di Kota Ende, sepengetahuan saya, ada satu rumah makan yang khusus menyediakan makanan khas Ende. Selebihnya, kebanyakan warteg, padang, bakso, mie ayam, yang didominasi orang-orang Jawa. Letak rumah makan khas Ende itu dekat bandara. Jadi, saat keluar bisa langsung makan.

Sebenarnya, masih banyak lagi tempat-tempat piknik yang awesome di Kabupaten Ende. Seperti Taman Laut 17 Pulau Riung. Tempat yang bagus buat diving dan snorkeling. Pembaca bisa googling tempatnya seperti apa.

Saya hanya ingin menyadarkan pembaca seword.com terutama yang suka jalan-jalan ke Singapur cuma buat minum kopi. Negeri ini pun tak habis-habisnya menyimpan kekayaan alam yang lebih patut untuk dikunjungi. Dengannya, kita bisa melihat bahwa bangsa ini bukan cuma soal Jakarta. Ada tempat-tempat lain yang perlu kita lihat. Sebagai bukti bahwa negeri ini besar. Dan harus dibesarkan. Oleh kita. Masa orang lain.

Ra(i)sa-Ra(i)sanya begitulah.

Share.

About Author

~cuma buih yang hendak berbagi secuil makna~

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage