Ahok Sang Penggugah Kebangkitan lndonesianuraga

Ahok Sang Penggugah Kebangkitan lndonesianuraga

2

Sebagai penyandang minoritas majemuk bertingkat, Ahok memang fenomenal di tengah suatu bangsa dengan penganut agama mayoritas Islam. Upaya memberangus cahaya kebaikan dalam membangun Ibu Kota Jakarta sejak bersama Jokowi maupun Djarot memang gencar dilakukan oleh orang-orang cingkrang dengan segala atribut ormas berbagai kemasan.

Menariknya, kekalahan Ahok-Djarot pada perhelatan Pilkada DKI yang lalu justru dicatat sejarah sebagai kekalahan paling manis di dunia. Euforia kemenangan Anies-Sandi justru ditenggelamkan oleh samudera karangan bunga di Balai Kota hingga jalan-jalan raya di sekitarnya. Kemenangan Anies yang seharusnya berasa manis menjadi kekurangan narasi.

Mengapa kekalahan Ahok-Djarot justru lebih manis ketimbang kemenangan Anies-Sandi? Tidak dapat disangkal bahwa perubahan yang terjadi di Jakarta sangat berkesan bagi siapa pun yang mengunjungi Ibu Kota ketika dipimpin Tjahaja Purnama. Tingkat kepuasan warga terhadap kinerja Ahok-Djarot hingga lebih dari 70% tentu bukan angka pemanis bibir. Bukan pula sebuah panggung sandiwara tebar pesona.

Rangkaian bunga yang datang bak gelombang benar-benar menjadi panggung Basuki untuk menunjukkan jati diri. Surga dan dunia pasti menilai. Ia yang kini dipenjara atas tuduhan penodaan agama Islam, Ia adalah yang sejatinya memberangkatkan umroh para marbot masjid yang selama ini tidak dihargai oleh orang Islam sendiri. Apalagi oleh si imam besar FPI yang tega berangkat umroh sendiri dan makin sibuk lari kian kemari ketika dicari polisi. Pasti mata dunia dan mata para dewa kini pun terbuka secara terbelalak.

Lagipula, penjara ternyata juga ditakdirkan untuk tidak mampu menenggelamkan sinar terang Tjahaja Purnama. Putusan hakim dua tahun penjara ditanggapi dengan semangat menyalakan lilin namaskara untuk Tjahaja Purnama di berbagai kota. Tidak hanya negara Indonesia tapi hingga kota-kota besar mancanegara.

Sungguh aksi yang berbobot tinggi sebagai kontra radikalisme yang sering diperagakan FPI dengan senjata fentung tumful bersertifikat halal. Tak heran bila aksi seribu lilin hingga memancing MUI berkomentar yang agak-agak gimana gitu.

Simak saja komentar Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis yang mengingatkan, jangan sampai aksi berlebihan dan malah terjadi pemborosan. Demikian tuturan selengkapnya kepada Republika.co.id. (15/5/2017).

“Sebaiknya, dana-dana itu dikumpulkan untuk disantunkan ke orang-orang yang membutuhkan, anak yatim dan barangkali mereka yang berkekurangan”

Rangkaian kata-kata yang menunjukkan kejanggalan tanpa diminta, kala tidak lupa dengan biaya aksi bela non safira 212 dan angka-angka tak bermakna lainnya. Berapa coba dananya? Kadang memang gampang dibedakan, komentar yang memakai pikiran utuh dengan komentar yang asal membuka mulut.

Tampaknya bagi penggemar logika yang aneh-aneh harus kursus ke MUI. Contohnya ketika bicara soal korupsi pengadaan Al-Quran yang dianggap tidak menodai kesucian suatu Kitab Suci.

“Masih perlu kami kaji, tapi yang jelas kan ini korupsinya pengadaan Al-Quran. Bukan mengurangi ayat Al-Quran,” ujar Iksan, dalam diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/4/2017).

Setelah baca pernyataan Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI itu mau ngakak sendiri kok ya kurang seru… Kalau tidak ngakak kok ya sayang sekali. Hahahaha… Kalau yang dianggap menista Al-Quran itu mengurangi ayat, yang digebukin FPI nanti kan ya mesin cetaknya. Karena yang bikin ayat kurang itu gara-gara mesin cetak! Hahahaha, semakin bikin ngakak saja.

Kalau pengadaannya saja sudah dinodai dengan korupsi, berarti kitabnya menjadi tidak suci alias najis gara-gara dikorupsi. Ingat, korupsi itu jahat! Berani berbuat jahat terhadap pengadaan Al-Quran? Kalau sumbu otak FPI sudah panjang karena Habib Rizieq sudah pulang, alamat bisa kena fentungan itu nantinya. Karena bisa dicap MUI membela koruptor pengadaan Al-Quran.

Apa si koruptor pengadaan Quran tidak kasihan dengan umat yang begitu menghormati Kitab Suci. Apa tidak membayangkan bahwa umat tidak berani membaca Quran ketika kentut berkepanjangan. Ini pengadaan Kitab Suci malah dijahati dengan tindakan korupsi. Ah sudahlah, biar itu jadi perenungan para ulama di MUI bersama FPI.

Mau kembali membahas Ahok saja yang telah memberi teladan taat dan menghormati hukum, daripada Habib Rizieq besar yang pengecut berhadapan dengan hukum. Ahok jelas jauuuuh lebih terhormat ketimbang si imam besar Islam yang tengah dikangenin Firza itu.

Kisah pengabdian Ahok di DKI Jakarta hingga kini dipenjara sungguh menggugah kesadaran hidup berbangsa. Apalagi dalil pemenjaraan Ahok yang dibacakan hakim itu berdasarkan fatwa MUI. Fatwa dijadikan dasar menghukum orang! Kenthir ora, Cak?  Dongane wae muga ora kenthir… Ini benar-benar anomali yang harus dituliskan supaya dicatat sejarah kehidupan.

Ahok yang taat pada proses hukum hingga menghuni jeruji besi kini membangkitkan kesadaran bahwa Indonesia yang bhinneka tunggal ika masih ada. Gerakan ormas radikal sekalipun didukung MUI tidak bisa menghilangkan dasar negara Pancasila.

Kebangkitan mayoritas hening, melalui aksi seribu lilin hingga berbagai seminar bertema merajut kebhinnekaan, merajut persaudaraan yang terjadi di mana-mana adalah penanda tentang Indonesianuraga. Indonesia masih ada. Belum lagi, ketika lagu-lagu kebangsaan dikumandangkan, sungguh-sungguh menggetarkan jiwa Ibu Pertiwi bersama semua putra-putri yang mencintainya.

Itu semua gara-gara Ahok! Sang penggugah kebangkitan lndonesianuraga. Indonesia masih akan selalu ada. Selamat hari kebangkitan nasional.

Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage