Bila Puasa Ramadhan Menjadi Gerakan Berjamaah Anti Korupsi, Indonesia Hebat!

Bila Puasa Ramadhan Menjadi Gerakan Berjamaah Anti Korupsi, Indonesia Hebat!

1

Puasa adalah ritual. Itu benar. Puasa itu ritual universal. Yes! Tepat. Tidak salah. Puasa memang menjadi tradisi hampir semua agama.

Tidak bisa Islam yang mayoritas di negeri ini mengklaim bahwa puasa itu tradisi berhak cipta Islam. Sekalipun dengan mengganti istilah ‘shaum’ atau ‘siyam’. Apalagi orang-orang Yahudi yang sering dikafir-kafirkan kaum cingkrang, melalui bahasa Ibrani yang digunakan juga memakai istilah ‘shaum’ untuk menunjuk puasa. Dyaarr ora?

Mau meminta Firza dan Habib Rizieq bersama Front Pembela Islam beraksi? Walaupun FPI menggelar aksi bela puasa dengan hak cipta Islam, tetaplah puasa itu telah menjadi kekayaan rohani hampir semua agama. Rasa-rasanya untuk hal ini juga tidak bisa minta bantuan Majelis Ulama Indonesia untuk membuat fatwa dan mendukung aksi.

Mengingat, sebelum Islam lahir, Yahudi dan Kristen lebih dulu menjalankan ibadah puasa. “Tetapi puasa yang paling sempurna kan hanya dalam Islam?” Silahkan saja kalau FPI mau ngotot hingga melotot untuk mengklaim diri seperti itu. Asalkan jangan larang ketika pada gilirannya ada orang berotot tertawa terkekeh-kekeh sampai meleleh.

Tradisi puasa dikenal dan dipraktikkan oleh hampir semua agama. Dr. Alwi Shihab dalam bukunya Islam Inklusif (1999) menguraikan tentang topik tersebut. ‘Puasa dalam Tradisi Agama-agama’. Dijelaskan alasan mengapa dalam agama-agama ada olah kesalehan yang dikenal sebagai tradisi puasa.

Sejak awal sejarah kemanusiaan, puasa memang dikenal sebagai sarana untuk mencapai kedalaman spiritual. Puasa yang seperti apakah itu? Hingga membantu orang mencapai kedalaman spiritual?

Tentu ketika puasa tidak hanya dipahami sebagai ritual semata. Seolah dengan mengerjakan puasa secara taklik buta otomatis membuat orang menjadi mendalam spiritualitasnya. Itu tidak cukup.

Puasa mesti dikerjakan dengan kesadaran segenap akal budi dan hati, sepenuh jiwa dan raga. Artinya apa makna puasa mesti digali dengan nalar dan nurani. Puasa ditempatkan sebagai ritual yang tidak terpisah dengan hal yang bersifat spiritual.

Hal itu ditandai dengan pembaruan budi. Orang makin mencintai budaya kehidupan dan meninggalkan pemujaan pada budaya kematian atau teologi maut. Budaya kematian adalah semua hasil budi daya kebencian yang bersemayam dalam hati. Sebaliknya, budaya kehidupan adalah hasil budi daya welas asih yang mekar dari dalam hati.

Untuk itu, puasa tidak hanya sebagai olah fisik, karena sejatinya menjadi kebutuhan jiwa. Hal mana ini senada dengan anjuran puasa oleh hampir semua agama dan aliran filsafat keagamaan. Puasa dianjurkan bertujuan menyucikan jiwa.

Tak heran bila dalam tradisi Hindu, para pemuka agamanya pasti mengerjakan puasa sebelum menjalankan upacara keagamaan. Begitu pula dalam Konfusianisme yang mempraktikkan puasa sebelum melakukan penyembahan terhadap roh nenek moyang. Dalam Buddha puasa menjadi sarana instropeksi diri, demi penyucian jiwa.

Pentingnya berpuasa juga diakui dalam tradisi Mesir kuno. Dengan puasa, indra makin tajam, rasio jernih, sehingga dimudahkan menyingkapkan tabir kebenaran.

Masyarakat awal bahkan memaknai puasa sebagai sarana menyucikan diri. Dengan penyucian diri dimaksudkan supaya kekuatan setan yang sering menjadi pengganggu harmoni tidak memasuki tubuh. Ini penting dalam rangka berkomunikasi dengan Tuhan atau mengalami penyatuan dengan Yang Mahakuasa.

Selain motivasi keagamaan, berpuasa memiliki arti tersendiri bagi orang-orang yang ingin meningkatkan moralitas dan budi luhur. Mereka yang berpuasa dengan maksud ini bertujuan untuk melampaui tingkat moralitas rata-rata anggota masyarakatnya. Contohnya Mahatma Gandhi yang berhasil mewujudkan aksi puasanya menjadi gerakan ahimsa, anti kekerasan.

Sayang bahwa di Indonesia puasa bulan Ramadhan masih sering tertawan dalam wujud ritual rutin dengan aneka kegiatan safari. Belum ada aksi puasa yang melahirkan gerakan berpengaruh besar seperti ahimsa-nya Gandhi. Paling tidak, dan ini sudah ditunggu-tunggu, aksi puasa yang mampu menghentikan korupsi!

Andai saja aksi puasa pada bulan Ramadhan bisa melahirkan aplikasi nilai-nilai luhur dalam kehidupan nyata. Puasa sebagai wujud perlawanan terhadap korupsi. Puasa sebagai gerakan moral anti korupsi. Pasti bangsa ini tidak disandera oleh para koruptor yang berbaju dan berpartai gamis. Bangsa Indonesia pasti hebat!

Bulan Ramadhan tahun ini menjadi ironi bagi puasanya Fahri Hamzah, dan kawan-kawan. Semestinya energi positif dari puasa bisa untuk memerangi nafsu korupsi, eeee malah hendak melanggengkan korupsi. Pansus angket DPR dibentuk untuk melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi. Edian njaran tenan!

Kalau dipikir-pikir, apa coba arti Ramadhan bagi para wakil rakyat?

Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage