Dilema Lembaga Permasyarakatan di Indonesia

Dilema Lembaga Permasyarakatan di Indonesia

5
http://bali.tribunnews.com/2016/08/12/sebuah-granat-meledak-di-penjara-filipina-yang-penuh-sesak

Sejak Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerangi perdagangan narkoba, penjara di negara itu penuh sesak. Beginilah antara lain kondisi di penjara di Filipina.

 

 

Tulisan ini sebenarnya adalah tulisan yang tercecer, ide untuk bikin artikel banyak, tapi waktunya nggak ada. Jadi ya sudahlah. Penulis itu yang penting menyampaikan isi hati, bukan hanya sekedar sebuah profesi, apalagi kalau sekedar cari sensasi

Trivia

Ketika saya menulis masalah ini, saya terus terang terhenyak, kaget. Saya belum pernah masuk penjara, dalam arti dihukum maupun dalam artian menjenguk seseorang di dalam Lapas (Lembaga Pemasyarakatan). Saya hanyalah seseorang yang mencoba mengumpulkan data dengan riset kecil-kecilan di google, membaca berita ini itu, mengamati kalau ada wawancara di televisi. Bila saya yang hanya “orang awam” dalam dunia Lapas tercengang dengan hal ini, maka saya tidak berani membayangkan bagaimana dengan mereka-mereka yang sudah sering meneliti keberadaan Lapas khususnya di Indonesia. Coba saya beri beberapa fakta “kecil” tentang dunia perlapasan di Indonesia, diambil dari berbagai sumber

  1. Indonesia menduduki peringkat 10, jumlah napi terbanyak di dunia. Jumlah napi di Indonesia tahun 2015 lalu tercatat 173.713 orang (sumber) dan tahun ini diperkirakan sudah mencapai lebih dari 180 ribu orang. Tapi jangan salah, peringkat itu didapatkan oleh Indonesia “semata-mata” karena populasi Indonesia memang menduduki peringkat 4 dunia. Prison Population Rate di Indonesia hanya 67, artinya dari setiap 100.000 orang, ada 67 orang yang menginap di Lapas. Bandingkan dengan Singapura yang 219, Thailand 468 dan Amerika yang PPR-nya mencapai 693. Kalau mau jujur, angka PPR di Indonesia menduduki peringkat 180 dunia, yang artinya sangat kecil sekali. Sampai di sini, saya ijinkan semua pembaca Seword untuk bernafas lega
  2. Tingkat hunian Lapas di Indonesia 149,2%. Ini artinya Lapas kita overcapacity setengahnya. Serem bukan? Orang Jawa, mempunyai kata ajaib yang selalu kami katakan ketika mendapatkan kabar buruk atau mengalami kejadian yang tidak enak. Apa kata itu? Untung. Indonesia masih sangat beruntung karena dari 200 lebih Negara yang disurvey, maka 115 negara juga mengalami overcapacity. Untungnya lagi, Indonesia hanya menduduki peringkat 50 berdasarkan prosentase penjara yang “kelebihan muatan”. Bandingkan dengan peringkat 1, Haiti, yang kelebihan kapasitasnya sampai 454,4%. Lalu Negara tetangga kita Filipina yang berhasil nangkring di urutan 5, dengan 316%. Saya pikir, kata untung masih layak kita berikan untuk Negara kita
  3. Biaya makan untuk napi yang dikeluarkan oleh Negara per tahun adalah 2,4 triliun. Saya tidak tahu bagaimana angka itu muncul, yang jelas, setiap napi mendapat jatah makan sekitar 15-17 ribu rupiah per hari. Apakah angka itu cukup besar atau kecil, silakan para pembaca Seword menentukan sendiri. Bila dibandingkan dengan seorang pekerja yang gajinya sekitar 50 ribu atau 100 ribu dengan seorang istri dan dua orang anak, mungkin angka itu akan terlihat cukup besar. Tapi bila dibanding dengan anggaran konsumsi untuk anggota DPR sekali makan, maka jumlah itu kelihatan begitu minim

 

Buah simalakama

Setelah kita tahu “sedikit kenyataan” kondisi Lapas kita, mari sekarang kita lihat pilihan solusinya. Saya mencoba memberikan solusi, tapi kita lihat juga pro kontranya, lalu dampak buruknya, serta yang paradoks-nya. Kalau nanti setelah para pembaca Seword membaca artikel saya, lalu nggak ngelu, berarti anda normal. Wkwkwkwkkwkkw……., so cekidot:

Chapter 1 : Penambahan jumlah penjara

Prinsip dasar berpikirnya sangat sederhana, kalau penjaranya kurang, ya tambah saja jumlahnya. Simple. But, my friend, kalau persoalannya bisa semudah itu, saya pikir dari dulu ya kita sudah banyak bikin penjara baru. Menkumham Yassona Laoly pernah menyatakan dalam suatu wawancara, kecepatan Negara untuk membuat penjara, selalu kalah cepat dengan petumbuhan para calon penghuninya. Belum lagi biaya yang begitu besar untuk membuat penjara, membayar para sipir, dan yang tadi sudah kita bahas membiayai kebutuhan hidup para penghuninya

Kita nggag usah muluk-muluk dengan membandingkan penjara kita dengan penjara di Negara-negara super makmur. Di Negara yang kaya, satu orang per hari bisa mendapat budget hidup di penjara ratusan ribu rupiah bahkan ada yang lebih dari satu juta rupiah per hari. Sedangkan kita di republik ini, penjaga penjaranya saja super minim, fasilitasnya pas-pasan. Nggak heran, kalau banyak tahanan kabur, mungkin mereka nggak kerasan di penjara, wekz……

Chapter 2 : Diskresi polisi

Secara sederhana, diskresi polisi artinya polisi berhak mengabaikan kasus yang kecil, dalam artian jumlah kerugiannya minim, tidak terlalu mengganggu. Kasus-kasus model ini, kalau memungkinkan lebih baik diselesaikan dengan “persaudaraan atau mediasi”. Jadi kalau kita pernah mendengar berita tentang nenek-nenek yang mencuri kayu bakar atau beberapa buah coklat, hal itu sepatutnya tidak perlu sampai mampir di pengadilan. Selain bikin repot banyak orang, biayanya besar, kalau mereka masuk penjara malah nambah-nambahin beban Negara lagi

Persoalannya mungkin adalah belum adanya standar prosedur yang jelas tentang masalah berapa nilai kerugian yang patut mendapat pengabaian, bagaimana bentuk pertanggungjawabannya, dan beberapa tetek bengek lainnya. Cilakanya lagi, pengaturan masalah diskresi sering dikritik oleh para pengamat kepolisian, karena itu bisa jadi “lahan subur” penghasilan tambahan oknum-oknum korup. Dengan diskresi, maka polisi dikuatirkan bisa melakukan negosiasi dengan para penjahat, supaya kasusnya tidak perlu dinaikkan lebih jauh. Ya kayak kamu, iya kamu….. Kamu kan lebih memilih membayar uang damai daripada musti repot-repot membayar tilang. Tapi saya mengerti, kita memang cinta “perdamaian” 😀

Chapter 3 : Rehabilitasi bagi para pengguna Narkoba

Trivia lagi, hampir separuh dari penghuni Lapas kita itu, karena kasus narkoba. Supaya jangan salah, narkoba itu beda dengan markobar. Kalau markobar itu martabak bikinan anaknya Pak Presiden kita. Narkoba itu narkotika dan obat/bahan terlarang, don’t try this ever

http://life.viva.co.id/news/read/901420-ridho-rhoma-mulai-jalani-rehabilitasi-narkoba-rss

Ini bukan suting film, ini sungguhan

 

Sebagian memang adalah pemasok, pembuat, penjahat lah pokoknya. Tapi sebagian lagi memang hanya pemakai, seperti yang paling heboh barusan ya Ridho Roma, yang kata bapaknya, korban proxy war. Memang harus diakui yang jadi pemakai dan terpaksa menghuni penjara kita jumlahnya sangaaaaaatt banyak. Yang bikin susah juga, penjara sering kali juga tempat yang gampang untuk dapat narkoba. Jadi pecandu nggak malah sembuh, tapi malah tambah pinter plus nekat. Nah, lalu ada wacana untuk mencegah hal tersebut sekaligus mengurangi jumlah penghuni Lapas

  • Ganja dilegalkan. Alasannya bejibun banyaknya. Di Negara A hal ini sudah lama dilegalkan, daun ganja sudah biasa dikonsumsi dengan dijadikan sayuran, yang agamis pake ayat bahwa semua yang diciptakan Tuhan itu baik untuk dikonsumsi. Yang menentang hal ini, lebih vocal lagi, alasannya banyak deh, kalian cari sendiri. Tapi nyarinya nanti, sekarang baca dulu artikel saya sampai habis
  • Rehabilitasi. Kalau ngomongin rehabilitasi, ya memang benar. Tapi persoalan turunannya yang bikin susah. Aturan yang mengatur antara siapa yang bisa dikategorikan pengedar dan pemakai bisa dibilang cukup kabur. Sempat ada wacana misal, kalau cuman bawa sabu-sabu seberat 0,5 gram berarti tidak usah ditahan, cukup direhabilitasi. Lagi-lagi kekuatiran bahwa ada kongkalikong antara penegak hukum dan pelaku, jadi perdebatan panjang. Belum lagi bila para aktifis anti narkoba teriak-teriak bahwa masalah narkoba adalah extra ordinary crime, maka Undang Undang yang mengatur masalah ini, mentok lagi. Ada lagi masalah tempat rehabilitasi yang juga (lagi-lagi) sangat terbatas, siapa yang mengawasi, siapa yang membiayai, dll dst dsb

Kalau sampai di sini, anda sudah mulai ngelu, tenang, pembahasan masih panjang

Chapter 4 : Mempercepat masa (waktu) pemenjaraan

Ada dua hal yang saya gabung jadi satu untuk topik ini. Yang pertama, mereka yang dihukum mati dan keputusannnya sudah inkhract, sebaiknya proses eksekusi-nya jangan lama-lama. Memang jaman SBY itu jaman ajaib, Beliau ini begitu ragu-ragu untuk melakukan eksekusi mati bagi para terpidana mati. Baru di era Jokowi, mereka yang sudah “menunggu” belasan tahun, mendapatkan keputusan akhir di depan regu tembak. Jangan ditanya dilema untuk usul mempercepat eksekusi mati ini. Selain jumlah terpidana mati memang nggak terlalu signifikan, proses eksekusi juga mendapat banyak kritikan dari para penentang hukuman mati.

Yang kedua, penambahan remisi, pembebasan bersyarat. Tujuannya ya supaya para terpidana cepat-cepat keluar dari penjara, jadi nggak bikin penuh penjara. Mau tau pro kontranya? Saya istirahat dulu ya, anda silakan ngopi-ngopi sebentar

Oke, sudah cukup ya istirahatnya. Masalah remisi dan pembebasan bersyarat ini lagi-lagi sangat dilematis. Lihat saja (lagi-lagi) komunitas anti narkoba yang mengharap bahwa para pengedar narkoba tidak diberi remisi. Pelaku tindak kejahatan terorisme, korupsi, juga diwacanakan untuk tidak mendapat remisi. Saya nggak tahu, apakah ada di antara pembaca Seword yang membaca di media masa, bahwa Jaksa Urip Tri Gunawan sekarang sedang mendapat pembebasan bersyarat. Topik ini saja, bisa saya jadikan satu artikel, tapi saya betul-betul tidak punya waktu. Artikel tentang penjara ini saja, saya perlu empat malam untuk menyelesaikannya.

Hukuman seberat-beratnya

Yang jadi paradox adalah para “penuntut keadilan” seringkali menginginkan seorang pelaku kejahatan dihukum seberat-beratnya, untuk efek jera katanya. Memang ini juga campur-campur dengan dendam, jengkel, dan sentimen kepada seseorang. Tapi intinya bukankah sering kita mendengar, bahwa mereka yang jadi korban, atau keluarga korban sering mengharapkan balas dendam kepada seorang pelaku tindak pidana.

Kalau sungguh seluruh hukum di Indonesia ini dijalankan sungguh-sungguh, maka walaupun jumlah penjara yang sekarang dilipatgandakan, tetap tidak akan pernah cukup. Lihat saja masalah “kecil”, misal penghinaan kepada Presiden. Kalau hal itu semua diusut, maka akan ada ratusan orang yang bakal mendekam di penjara. Contoh kecil lagi, misal tentang pungli. Bila semua PNS yang melakukan pungli diusut, maka penjara kita bisa dijadikan ajang reuni bagi para PNS, rameee. Belum lagi kasus-kasus lain yang jumlahnya tak terhitung. Kalau saya yang jadi Presiden, pasti saya sudah ngelu

Jadi, apa saran sederhana saya untuk masalah Lapas di Indonesia? Bagi saya membangun Lapas baru plus memperbaiki sistem hukum, sistem penyelenggaraan Lapas yang baik, adalah suatu hal yang tak terelakkan. Whatever it takes……

Epilog

Sebagai penutup, saya ingin memberikan keprihatinan saya terhadap begitu banyaknya hoax yang malang melintang di media kita, khususnya dunia maya. Saya sengaja menulis paragraph dibawah ini di halaman facebook sebagai pengantar tulisan saya

 

Ini gambar hasil rekayasa, bukan gambar asli

Saya sedih sekali ketika menyaksikan seorang yang jujur, seorang yang berada di garis depan perjuangan menghadapi korupsi, harus berakhir di balik jeruji besi. Saya muak, saya marah dengan bangsa ini ketika tekanan dari jutaan orang akhirnya berhasil mengintimidasi para penegak hukum kita. Saya jengkel ketika seorang yang sering koar-koar untuk menuntut Ahok dimasukkan ke dalam penjara, akhirnya bisa melenggang santai, jalan-jalan keluar negeri

Kalimat-kalimat diatas tadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi artikel saya hari ini. Gambar diatas juga merupakan rekayasa photoshop. Tapi bila nanti orang-orang di halaman FB saya, atau di halaman FB Seword sibuk berdebat tentang masalah diatas. Maka mereka “tidak ada bedanya” dengan orang-orang diluar sana yang hanya sibuk membaca judul, lalu sudah merasa mengerti apa sebenarnya yang jadi isi pikiran sebuah artikel. Tidak heran sebenarnya, Buni Yani sanggup mengumpulkan 7 juta orang, hanya dengan postingan video di bawah 30 detik

#aku kok ngelu

Bila ingin menyaksikan tulisan-tulisan yang anti hoax lainnya, klik saja di sini

 

Share.

About Author

Istri saya ngomong kalau saya ini mirip Andi Lau, sedang teman-teman berkata kalau Andi Lau mirip saya # aku kok ngelu

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage