Djarot: seperti Mandela dan Soekarno, Ahok Dipenjara karena Memperjuangkan Kebenaran

Djarot: seperti Mandela dan Soekarno, Ahok Dipenjara karena Memperjuangkan Kebenaran

5

“Saya bangga dengan Pak Ahok, dia dipenjara bukan karena korupsi, tapi dia dipolitisasi, akibat politisasi.”
_Gubernur Djarot_

Ha ha ha ha… Inilah tertawa gagah yang mengawali tulisan dalam artikel ini. Sebuah tawa karena juga ikut berbangga bersama Pak Djarot tentang sosok Ahok. Ia memang dipenjara. Tapi ingat, beliau tidak dipenjara karena terlibat kasus korupsi!

Apalagi korupsi dana pengadaan Al Quran. Jenis korupsi yang sangat menistakan kitab suci agama Islam. Bayangkan ada berapa kitab Al Quran yang dikorupsi dari dana itu? Artinya juga, ada berapa ayat yang dihilangkan atau dikorupsi dari dana tersebut? Subanalloh… pasti banyak sekali jumlah ayatnya, bukan?

Dibayangkan saja jumlah rupiah yang dikorupsi. Dana itu bisa untuk mencetak berapa kitab Al Quran. Jumlah Al Quran yang bisa dicetak dari dana itu tinggal dikalikan dengan jumlah ayat dalam Al Quran. Dengan cara pikir ini mudah-mudahan bisa mengobati ketidaksinkronan cara berpikir Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Iksan Abdullah.

Masak kasus dugaan korupsi pengadaan Al-Quran tidak bisa disebut sebagai penodaan agama karena tidak mengurangi ayat Al Quran. Antara korupsi ayat dan salah cetak ayat kan beda. Maka jidat dipelihara jangan sampai gara-gara warna item jadi tidak bisa untuk mikir!

Kembali ke Ahok, ia dipenjara namun tetap membanggakan. Itulah yang digaungkan Gubernur Djarot Saeful Hidayat dalam acara silaturahmi kepala SD, SMP, dan SMA se-DKI Jakarta di Gedung Yayasan Budha Tzu Chi, Jakarta Utara, Sabtu (12/8/2017), seperti diberitakan Kompas.com.

Djarot berpendapat seperti itu karena tahu persis bahwa pemenjaraan Ahok adalah hasil politisasi agama, politisasi ayat. Pemenjaraan yang tidak lebih dari rekayasa orang-orang yang telah putus asa. Saking putus asanya ayat agama saja harus dijual begitu murah hingga diobral di jalan-jalan sambil bawa angka-angka. Hiii, menjijikkan sekali. Semenjijikkan tingkah pimpinan aksi 212, si Habib Rizieq di dekat kandang kambing yang menanam pisang tanpa pupuk.

Meski pendahulunya itu berakhir di balik jeruji besi, Djarot mengaku tetap bangga karena Ahok dipenjara bukan karena terlibat korupsi. Ahok dipenjara karena tekanan massa yang mabok ayat agama hingga kehilangan akal sehat. Maklum sumbunya pendek, jadi susah mikir sebelum berdzikir dan makan buah biji kecipir.

“Saya bangga dengan Pak Ahok, dia dipenjara bukan karena korupsi, tapi dia dipolitisasi, akibat politisasi. Mohon maaf, saya akan bela. Lihat kerjanya (Ahok),” ujar Djarot bersemangat. Sebuah hasil kerja yang sudah terbukti, buah dari dedikasi seorang abdi konstitusi.

Sebagai seorang politikus, kata Djarot, Pak Ahok masuk penjara merupakan salah satu risiko yang harus dihadapi. Untuk menegaskan pendapatnya, Djarot pun mencontohkan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Rolihlahla Mandela dan Proklamator Soekarno yang juga pernah dipenjara.

Luar biasa cara Djarot membukakan mata banyak orang. Ahok disejajarkan dengan tokoh besar dunia. Nelson Mandela, pejuang anti Apartheid dari Afrika Selatan. Tokoh besar yang menginspirasi dunia hingga berhak mendapatkan Nobel Perdamaian. Tanda pengakuan dari dunia internasional sebagai tokoh berjiwa besar. Bukan badan besar tapi jiwa kerdil kayak Imam Besar FPI yang suka ngacir tanpa banyak pikir.

Sedangkan Soekarno adalah Bapak Proklamator, Presiden pertama Republik Indonesia yang tiada duanya. Ayah Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan adalah contoh pemimpin yang visioner. Simpang Semanggi yang kini berkat Ahok menjadi Simpang Susun Semanggi (Simsuse), penggagas awalnya adalah Bung Karno. Jauh hari, Bung Karno telah berpikir bahwa suatu saat Ibu Kota Negara harus pindah dari Jakarta.

Kedua pemimpin itu, kata Djarot, dipenjara karena memperjuangkan kebenaran. Desakan dan proses politiklah yang mengharuskan dua tokoh besar itu masuk penjara. Djarot pun meminta Ahok untuk ikhlas dalam menjalani masa hukuman.

Ahok, di mata Djarot, tetap mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran dalam hidupnya. Djarot pun berharap para kepala sekolah dan guru-guru yang mendengarkan pidatonya bisa mempertahankan prinsip-prinsip yang sama.

“Kebenaran itu tidak bisa dibungkam dan sekali waktu kebenaran itu akan menunjukkan dirinya, entah berapa tahun,” ucap Djarot dengan yakin.

Semoga tidak menunggu pakai lama, cahaya kebenaran bulan purnama menerangi jagad Nusantara.

Referensi:
  • http://megapolitan.kompas.com/read/2017/08/12/13255811/djarot–saya-bangga-pak-ahok-dipenjara-bukan-karena-korupsi-
Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage