Edisi Aksi Bela Rakyat 121: Mahasiswa, Riwayatmu Kini

Edisi Aksi Bela Rakyat 121: Mahasiswa, Riwayatmu Kini

17

Beberapa hari yang lalu saya ke pasar buat beli cabe rawit dan kawan-kawan, wuaaaahhh cukup terperanjat saya ketika melihat harga Rp 10.000 sama dengan takaran harga Rp 3.000,-. Tapi terpaksa dibeli juga. Habis, makan apapun tanpa pedas, rasanya tidak sedang makan, jauuuuhh dari kata enak, apalagi rasa ingin tambah. Pokoknya jaaaauuh!!

Tapi tidak ada yang mengalahi rasa keterkejutanku ketika mahasiswa ingin demo masalah kenaikan cabe dan kawan-kawan dengan tema Aksi Bela Rakyat 121. Pikir saya, ini mahasiswa atau emak-emak sih? Emak-emak saja santai.  Entah apa maksudnya. Mungkin makan mie instan tanpa cabe rawit kurang seru. Atau uang kiriman tidak ikut naik seiring kenaikan harga cabe dan kawan-kawan. Hidup yang sudah susah, serasa makin susah. Begitu kura-kura.

Jadi izinkan saya menyampaikan ribuan kata sebagai mantan mahasiswa yang sudah banyak makan asam garam menjadi mahasiswa.

”Adik-adik yang berstatus MAHAsiswa, menyandang kata maha tidak otomatis menjadikan seseorang atau segerombolan makhluk hidup menjadi tukang demo. Sudah cukup di negeri ini ada auto kafir. Tidak usah ditambah-tambah lagi dengan auto tukang demo.

Memangnya salah menyampaikan aspirasi?

Sama sekali tidak! Toh saya juga dulu pernah protes kepada kebijakan pemerintah di pemerintahan sebelumnya. Tapi bedanya saya tidak terjun ke jalan. Soalnya harga handbody susu domba mahaaaaal!! Saya tidak sanggup beli! Saya cuma bisa pakai handbody murahan biar sedikit mulus dan kinclong. Saya sama sekali tidak ikhlas jika kulitku gosong dan badan bau hangus karena ikut-ikutan ikan kering eksis di bawah terik sang surya.

Lagi pula saya tidak mau bernasib sama dengan mahasiswi yang suka galau karena harga perawatan tubuh mahal sementara belum ada yang melirik karena kurang menarik karena kulitnya bersisik. Cukup sudah mamaku galau saat sampai SMA saya belum pacaran-pacaran juga. Sudah saatnya saya harus membuktikan kepada mama bahwa saya ini laku hanya saja mahal. Hahaha.

Ehm, saya juga dulu protes masalah harga naik saat kenaikan BBM di era “sang mantan” yang berimbas kepada naiknya harga sembako. Sekarang saya sudah tidak protes jika apa-apa naik. Bukan karena sudah kaya, karena memang belum kaya. Bukan juga karena saya cincah mati sama Pakde Jokowi! Bukaaaann!!

Wong ya kalau mau protes itu lihat-lihat konteks dulu. Dulu saya protes, karena memang pemerintah sebelumnya rajin sekali pinjam uang, belum lagi apa-apa suka naik tapi pembangunan kalian lihat sendirilah, mangkrak sana-sini. Nah, sekarang? Pembangunan infrastruktur ada dimana-mana. Memangnya kalian pikir membangun itu pakai daun? Ibarat dalam kehidupan sehari-hari pinjam uang di bank untuk membangun rumah, ya tidak masalah, ada hasilnya dilihat dan bernilai investasi. Daripada pinjam uang untuk sogok dan suap rakyat dengan BLT yang sudah jelas-jelas perlahan-lahan membunuh mental dan menumpulkan potensi bangsa.

Jadi sungguh bukan karena saya sudah tidak berstatus mahasiswa lagi makanya tidak protes. Jika kalian pikir saya ini dulu mahasiswa kaya sehingga tidak mau turun ke jalan, jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Kenapa? Awal saya datang ke Makassar hanya membawa baju, buku dan tempat sampah favorit! Ini foto tempat sampahnya, biar tidak dikira hoax. Karena zaman sekarang, no photo is hoax.

Tempat sampah untuk apa? Ya untuk tempat buang sampahlah. Ini merupakan aset berharga saya soalnya yang saya beli dengan harga Rp 12.000 sekitar 10 tahun yang lalu! Rp 12.000 dari upah saya Rp 80.000 per bulan bukanlah uang kecil bagi saya saat itu. Itulah mengapa keranjang sampah ini masuk dalam aset berharga saya. Wkwwkwk

Sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar mahasiswa pasti memiliki masalah keuangan! Saya tahu betul itu. Karena saya juga pernah jadi mahasiswa kere luar biasa. Tapi hei, demo tidak akan mendadak mengubah keadaan! Apalagi membuat harga terjun bebas. Karena meski berstatus mahasiswa, tapi kita ini bukan siapa-siapa untuk didengar! Lebih tepatnya belum teruji sebagai manusia pencari solusi. Tapi giliran menjadi manusia pemaki-maki, sudah sangat teruji. Seandainya sudah ada sertifikatnya, mungkin bisa menjadi tambahan untuk melengkapi SKS saat akan ujian akhir.

Dalam situasi kere dulu saya makan Rp 1000/hari. Cukup beli kangkung seikat. Bukan beli mie instan! Kangkungnya saya tumis.  Biar serasa makan daging, saya kasi Royco rasa ayam atau sapi. Kangkungnya dibagi 2 buat makan siang dan malam. Kebetulan dulu saya dikirimkan beras, jadi tidak beli beras lagi dan tentunya berasnya tidak saya jual untuk beli lipstik. Enak? Bangeeeett! Itu namanya kangkung rasa rendang. Hahahah. Sampai sekarang saya masih suka menu ini. Belum ada restoran yang mengalahi nikmatnya kangkung tumis buatanku.

Tapi.. Dulu saya pikir tidak mungkin saya mau hidup begitu terus. Bisa-bisa lentur saya jika makan kangkung terus. Hahahah. Jadi saya cari beasiswa. Ternyata beasiswa itu banyak yang berhamburan. Hanya saja pandai-pandai cari beasiswa yang kasi banyak biar tidak double. Hanya mahasiswa kurang gaul, lekas menyerah, tidak mau berkorban, gengsian dan malas mengurus saja yang susah sejahtera. Cari beasiswa itu tidak dosa. Yang dosa itu kalau kaya tapi ngaku-ngaku kere dan double beasiswa sehingga mahasiswa lain tidak kebagian beasiswa.

Mahasiswa sekarang, jika kere sejati malah gengsi cari beasiswa. Tapi kalau sudah bergaya malah berlagak kaya. Mahasiswa kaya malah kadang mengaku-ngaku kere karena serakah.

Esensi dari menjadi mahasiswa adalah berjuang pakai otak, bukan berjuang pakai otot. Sampai mama saya yang tidak tamat SD itu pernah bercerita tentang seorang mahasiswa yang sudah semester 4 tapi memilih berhenti kuliah dengan alasan biaya. Astagaaaa!! Ini bukti kalau status MAHAsiswa tidak otomatis menjadikan seseorang mendadak cerdas, apalagi suaranya mau didengar.

Dari beasiswa ini saya bisa beli kulkas, lemari, laptop, hp, buku dan kamus mahal dan barang elektronik lainnya. Dari beasiswa pula saya bisa menabung dan bisa membelikan mama beberapa barang berharga. Bisa pula traktir teman-teman setia yang toleran di Pizza Hut, bukan di Fitsa Hats. Bisa juga bantu teman dan saudara. Kalau sudah begini, karyawan Fitsa Hats mah kalah tajir. Wkwkwkwk. Ini fotonya, biar tidak dikira membual.

Benar-benar tidak masalah menyampaikan aspirasi. Tapi kualitas antara maha dan non maha harus dibedakan dari cara penyampaiannya! Masa’ kalah sama ibu-ibu yang demo masak di Youtube saja laris manis? Belum lagi tante-tante yang demo gambar alis di Instagram juga jadi viral? Nah, situ yang ngaku mahasiswa? Haruskah turun ke jalan di era media sosial ini? Inovatif sedikit, kenapa?

Saya dulu suka demo tapi dengan cara menulis di Fb. Bukan berlenggak-lenggok di jalan. Ingat, di zaman sekarang, tempat nongkrong favorite sebagian besar masyarakat Indonesia ya di media sosial. Sudah jarang yang nongkrong di depan TV karena kebanyakan iklan yang susah di-skip. Bahkan balita saja bisa habis pulsa Rp 200.000/bulan demi internetan! Ini yang dinamakan rakyat susah?

Nah, sekarang cabe rawit naik, ya siasati pakai lada atau merica. Wkwkwk. Jadi tolong, tidak usah sekali-kali mengatasnamakan bela rakyat ketika mama dan bapak di kampung masih sering disusahkan dengan biaya kuliah dan biaya bergaya apalagi biaya rokok. Yang rakyat mau, mahasiswa ini menjadi pencari solusi dan memberi kontribusi nyata di lapangan. Misalnya mengajar, aktif di kegiatan sosial, kerja part time dan seterusnya. Itu yang rakyat mau dari mahasiswa! Bukan menjadi biang kemacetan sehingga membuat orang-orang yang sedang berjuang untuk biaya sekolah dan kuliah anaknya menjadi meradang dan mengumpat di jalan.

Sebenarnya yang bikin susah rakyat ini pemerintah atau mahasiswa? Lebih baik masuk kelas dan belajar dengan baik, kali saja bisa seperti Jokowi. Meski ganteng minimalis tapi bisa jadi presiden. Atau sana cari beasiswa biar bisa meringankan kesusahan orangtua. Karena kalau malas urus beasiswa, ya sama saja kalian sedang membiasakan dan membiarkan para pejabat akademis untuk korupsi dana beasiswa karena mahasiswa malas berjuang.

Akhir kata, mahasiswa boleh eksis tapi suaranya harus berisi dan bergizi dan caranya tidak bikin risih. Jangan sampai kalah sama mamaku yang ketika apa-apa naik, cuma bisa bilang “perasaan dari dulu juga apa-apa naik tapi tetap terbeli meski kere.”

Karena kenaikan harga cabe rawit seharusnya berbanding lurus dengan kenaikan semangat berusaha dan kenaikan potensi dan kualitas manusia.

Hidup mahasiswa!

Sumber gambar: bemindonesia.or.id

 

BACA JUGA artikel yang relevan dengan artikel ini:

Edisi Fitsa Hats: Tak Mau Ketinggalan, Jokowi Nge-Tweet Dari Istana

Era Jokowi: “Wajah Memang Ndeso, Tapi Otak internasional” Mulai Mencapai Klimaksnya

 

 

 

 

 

Share.

About Author

> Pembelajar Kehidupan > Pakar Doi > Kekacauan Yang Indah > Salah Satu Keajaiban Dunia Yang Pernah Ada > FB: Meyliska Padondan

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage