Habib Riziek Simbol Tokoh Rakyat

Habib Riziek Simbol Tokoh Rakyat

20

Halo Pembaca Seword yang budiman, penulis kemaren melihat tayangan sebuah acara wawancara di tv one, dengan narasumber pengamat politik yang berlatar belakang Islam Dr. Fachri Ali.

Karena penulis hanya memperoleh tayangan itu hanya pada bagian setengah akhir, namun konteks yang diangkat dalam pembicaraan itu adalah tentang kepopuleran tokoh simbol rakyat.

Pada kesempatan itu Fachri Ali memaparkan analisanya tentang kemunculan tokoh Habib Riziek yang mengemuka mulai akhir tahun 2016 hingga sekarang. Kemunculan tokoh ini begitu populer setelah menjadi salah satu penggagas gerakan aksi bela Islam pada pertengahan september yang diikuti aksi 411 dan 212.

Fachri Ali mengatakan bahwa, fenomena munculnya seorang Habib Riziek ini dikarenakan masyarakat indonesia sudah terlalu jemu dengan perilaku tokoh politik yang berasal dari partai yang lebih sibuk dengan konsolidasi politik pada elite tanpa menyentuh sedikitpun permasalahan yang dihadapi masyarakat lapis bawah.

Partai sebagai saluran aspirasi rakyat yang konstitusionil dinilai telah mengesampingkan dan melalaikan tugas utamanya sebagai penghubung komunikasi antara rakyat dan pemerintahan. Sehingga pemerintah dapat secara tepat menjalankan program kerja yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Sedangkan pada era reformasi ini partai lebih disibukkan dengan konsolidasi-konsolidasi politik untuk mempertahankan atau menduduki beberpa posisi dalam kekuatan legislatif.

Sebagai contoh disampaikan bahwa PDIP yang dinilai tidak dapat menjaga marwahnya sebagai partai “wong cilik”.

PDIP beserta kader terbaiknya Jokowi dinilai terlalu sibuk melakukan konsolidasi dan deal-deal politik untuk mengamankan kedudukannya sebagai Presiden dan merebut kursi pimpinan di DPR. Sehingga masyarakat mulai merasa jemu dan insecure dalam dengan para tokoh politik dari partai.

Fenomena ini memunculkan beralihnya simpati masyarakat kepada tokoh-tokoh nonpartai seperti ketiga paslon Cagub DKI Jakarta 2017, terpilihnya Jokowi sebagai Presiden pada 2014 dan yang terakhir aliran simpati kepada Habib Riziek.

Habib Riziek digambarkan sebagai simbol perlawanan rakyat yang membela kepentingan masyarakat lapis bawah yang beragama Islam.

Penulis memahami aliran pemikiran seorang Fachri Ali, namun dengan penokohan seorang Habib Riziek tidak sependapat.

Penulis akan mengajak pembaca melihat pergeseran konflik sosial sekitar 20 tahun terakhir ini.

Kenapa konflik sosial ?

Hal ini dikarenakan kemunculan seorang tokoh pasti identik dengan sebuah peristiwa besar yang menjadi panggungnya. Peristiwa itu akan menjadi besar apabila sudah menjadi konflik sosial secara luas sampai seluruh sendi kehidupan.

Sejarah mencatat pada era sebelum perang dunia ke dua dan separuh masa pada dekade ‘80an konflik terjadi karena adanya perang ideology. Hal yang potensial menjadi sumber konflik ini adalah ideology kebangsaan (Nationalism), Kapitalism dan Komunism.

Bersamaan dengan runtuhnya imperium Komunisme beserta saudara angkatnya Fascisme yang mulai dari tahun ‘40an sampai tahun ‘80an dan separuh medio ‘90an, muncullah kebangkitan sentimen agama dan etnisitas (kesukuan) sebagai sumber konflik baru.

Kemunculan sumber konflik baru ini didasarkan atas gerakan keagamaan yang fundamentalis radikal dan sentimen etnis yang militan.Pada masa kini genocide atau pemusnahan etnis oleh etnis lain bukan saja dilandasi kondisi sosial-politik dan ekonomi tapi juga melibatkan sentimen keagamaan sebagai landasan pembenaran teologisnya.

Seperti pembersihan etnis Rohingya pada kawasan Rakhine di Burma, hal ini sebenarnya seperti debat lama, duluan telur apa ayam. Etnis Rohingya yang mendiami kawasan Rakhine di Burma ini sedianya adalah satu suku di Bangladesh yang memeluk agama Islam. Sentimen etnis yang bercampur aduk dengan sentimen agama dan dibumbui oleh kepentingan sosial-politik dari pihak penguasa Burma ini telah menimbulkan bencana kemanusiaan yang menyita perhatian dunia.

Esensi ajaran Buddha yang berdasarkan cinta kasih dan anti kekerasan berdasarkan konsep pemahaman ketuhanan yang menghidupkan mahkluk tidaklah beda dengan esensi ketuhanan yang ada dalam setiap makhluk hidup ini menjelma menjadi Budha pembunuh yang seperti gambaran dewa perang dalam sejarah Tiongkok dengan membasmi muslim di Rohingya. Padahal ada kepentingan sosial politik penguasa yang telah merubah wajah Budha yang agung, lemah lembut, cinta kasih dan anti kekerasan.

Juga konflik berkepanjangan di Palestina, selain karena faktor politik penerapan “standar ganda” Amerika Serikat dalam penyelesaian konflik ini, juga lantaran pertikaian antara Muslim dan Yahudi yang sama-sama mengklaim sebagai pewaris sah atas tanah Palestina berdasarkan Kitab Sucinya masing-masing.

Bagi Yahudi Israel menganggap tanah Palestina ini sebagai promise land berdasarkan Kitab Sucinya Bible (Perjanjian Lama). Sedangkan bagi kaum muslimin Palestina adalah tempat suci dengan terdapatnya Masjidil Aqsa ( Dome of the Rock) disitu juga batu bersejarah tempat berpijaknya Nabi Besar Muhammad SAW melakukan Isra’ Mi’raj.

Dengan legitimasi agama, maka kelompok fundamentalis Islam Palestina melakukan aksi terorisme terhadap bangsa Israel, notabene Yahudi.

Pemahaman agama yang secara parsial, sepotong ini memunculkan klaim kebenaran ajarannya, teks sucinya dengan doktrin sebagai kebenaran mutlak satu-satunya. Sehingga umat terperangkap dengan pemahaman yang selalu mengatasnamakan Tuhan sebagai senjata pemukul untuk pembenaran tindakannya.

Pemahaman sempit kontekstual Kitab Suci ini bahkan melupakan bahwa Tuhan sebenarnya hanyalah sebutan bahasa manusia yang tidak bisa menjabarkan tentang ke-Maha-annya oleh bahasa dan kata-kata manusia (penulis menyitir pengajian Maiyah oleh Habib Anis dan Cak Nun).

Ketaatan yang fanatik kepada pemimpin agamanya juga dapat menyebabkan timbulnya konflik sentimen agama dan etnis, apalagi bila sang pemimpin terlibat dengan kepentingan politik praktis tertentu.

Kemunculan penokohan seorang Habib Riziek, menurut penulis hanyalah suatu fenomena kepentingan saja. Kejelian melihat tren konflik sosial yang didasarkan pada sentimen agama dan ras, kecerdasan memanfaatkan momentum timbulnya gesekan ini yang menjadi faktor utama kemunculan seorang Habib Riziek.

Dan penulis juga berasumsi bahwa adanya the invisible hand yang menggerakan dan menciptakan potensi konflik ini bukan hanya untuk kepentingan pilkada saja, tetapi ada kepentingan dari kekuatan luar yang lebih besar yang ikut memanfaatkan situasi ini.

Sumber konflik ini cukup ideal untuk diciptakan dengan Ahok sebagai perwakilan ras minoritas Cina yang bisa dimunculkan sentimen etnis dihadapkan dengan Habib Riziek sebagai wajah Islam yang mayoritas sehingga dapat mencampur adukan sentimen agama yang melebar ke sentimen etnis untuk menutupi kepentingan sosial politiknya.

Akhir kata, hendaklah kita selalu berhati-hati terhadap gerakan agama yang bertentangan dengan akal sehat, membatasi kebebasan intelektual, menghalangi kebebasan demokrasi tentang prinsip persamaan hak manusia.

Adalah sebuah kebodohan dengan menempatkan seorang Habib Riziek sebagai salah satu kekuatan politik hingga meminta dukungannya dalam suatu pencapaian proses politik semacam pilkada saat ini. Hal ini hanya akan menaikkan harganya dalam melakukan deal-deal bisnis mobilisasi massa yang dia lakukan akhir-akhir ini.

Demikianlah Kura Kura pendapat saya yang mulai bosan ber Pura Pura memahami permasalahan bangsa ini…Wassalam.

 

 

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com, jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage