Intimidasi Buat Bu Dokter Tinggalkan Desanya, Seperti Palestina yang Diusir Israel

Intimidasi Buat Bu Dokter Tinggalkan Desanya, Seperti Palestina yang Diusir Israel

340

FPI dan kelompoknya sepertinya semakin menjadi-jadi. Mereka terus meneror siapa saja yang bersuara atau beda pendapat dengannya. Seorang ibu-ibu beranak dua di Sumatera Barat hanyalah salah satu contohnya. Selain beliau, rupanya sudah ada banyak sekali orang-orang yang mereka intimdiasi.

Intimidasi juga terjadi di beberapa tempat. Pokoknya siapapun yang berkomentar negatif tentang kaburnya seorang pengecut, langsung dianggap menghina ulama, menista ulama, dan seterusnya. Padahal yang kabur kan pimpinannya, tapi yang disalahkan adalah orang yang mempertanyakana.

Dari serangkaian kejadian dan intimidasi yang dilakukan di banyak tempat, saya melihat ini sesuatu yang dapat berakhir fatal bagi FPI dan semua kelompok radikal yang menjadi pengikutnya.

Setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 1998, negeri ini sudah jauh dari aksi-aksi intimidasi secara terbuka. Indonesia kemudian menjadi negara demokrasi, dimana kebebasan berpendapat dilindungi oleh undang-undang.

19 tahun sudah negara kita aman dari segala kesewenang-wenangan hanya karena beropini. Tapi sekarang, kita kembali melihat nuansa orde baru, dimana berbeda pendapat atau berkomentar negatif tentang suatu isu, kemudian mendapat intimidasi, teror dan pemaksaan permohonan maaf. Bedanya, dulu yang melakukan pembungkaman, intimidasi dan teror adalah pemerintah. Sekaang terbalik, yang mengancam dan semena-mena adalah kelompok oposisi atau yang tidak suka dengan pemerintah.

Saya melihat Rizieq menjadi manusia paling agung di muka bumi ini, sehingga tidak boleh ada satu orang pun yang mengomentari kepengecutannya dengan kabur ke Arab Saudi, menghindari beberapa kasus yang menjeratnya, dari kasus chat sex, penistaan Pancasila, pelecehan hansip sampai penghinaan budaya.

Para pengikut Rizieq ini tak peduli bahwa kenyataannya junjungan mereka memang kabur ke luar negeri. Tak peduli. Yang penting tidak ada yang boleh menyenggol Rizieq untuk alasan apapun. Bahkan polisi, kalau mau memanggil Rizieq, langsung dicap melakukan kriminalisasi ulama, anti Islam, dan seterusnya. Mereka tak mau tau, pokoknya Rizieq tidak boleh diproses hukum. Sebab Rizieq pasti tidak bersalah. Jadi kalau ada orang yang mengomentari sikap pengecut Rizieq, orang tersebut berpotensi diintimdasi.

Saya melihat betapa luar biasanya para pengikut Rizieq ini. Hanya segelintir orang saja sebenarnya, namun bisa dengan bebas mengintimidasi secara terbuka. Sampai berhasil membuat seorang bu dokter frustasi karena terus diancam, diintimidasi dan dibully, sehingga kemudian memilih pindah ke luar dari Provinsi Sumatera Barat.

Soal intimidasi dan teror terhadap orang yang berbeda pendapat, ini mirip dengan rezim Soeharto. Mirip sekali. Entah apakah karena ini ada kaitannya dengan sampah-sampah orde baru yang coba menguasai Indonesia lagi, atau kah ada aktor politik yang mendalangi dan memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok radikal ini.

Sementara keberhasilan mereka membuat ibu-ibu untuk keluar dari rumahnya, pindah ke luar kota karena merasa tidak aman, ini jadi seperti warga Palestina yang kemudian diusir dari rumah dan tanahnya sendiri oleh Israel.

Cerdasnya, kelompok radikal ini menyasar orang-orang lemah yang tidak punya jaringan pertemanan yang luas. Mereka seperti memilih targetnya dengan sangat sempurna, agar penyerbuan bisa berhasil dan sukses tanpa perlawanan, berhasil membuat targetnya menangis dan sesegukan. Kalau perlu targetnya adalah janda beranak dua yang sudah tak punya orang tua.

Penyebab dan dampaknya

Dalam pengamatan saya, penyebab kesewenang-wenangan mereka ini adalah karena selama ini mereka tidak pernah mendapat perlawanan. Di Jakarta, mereka bisa mengancam siapapun. Beda pilihan politik? kalau ada keluarganya meninggal, tidak dishalatkan. Kalau mau dishalatkan, harus tanda tangan dulu, menyatakan akan mendukung Anies.

Anda muslim tapi mendukung Ahok? langsung auto kafir dan pasti masuk neraka. Anda muslim dan tidak mendukung Anies? Otomatis dicap sebagai pembela penista agama.

Semua teror, ancaman sampai memaksa seseorang menandatangani surat pernyataan permintaan maaf, merupakan alur yang sama dengan pemaksaan tanda tangan menyatakan mendukung Anies. Sama persis.

Sehingga saya pikir ini semuanya saling berkaitan. Saat mereka berhasil memaksakan kehendaknya, mereka kemudian mencontoh dan memaksa lagi. Terus diulang-ulang, sampai akhirnya berhasil membuat orang ketakutan.

Dampak dari semua ini adalah perlawanan yang juga radikal. Saya melihat beberapa orang teman sudah benar-benar frustasi dengan beragam intimidasi dan kesewenang-wenangan mereka. Sehingga sedikit lagi, jika program intimidasi atas nama ulama ini terus berlangsung, maka akan sampai pada suatu titik, dimana orang-orang yang dianggap lemah itu akan melakukan segalanya untuk mengekspresikan emosi dalam dirinya.

Soeharto lengser karena masyarakat sudah muak diintimidasi, diteror, ditekan. Masyarakat yang tanpa senjata, tak punya kekuatan apa-apa, kemudian berani melawan. Padahal Soeharto menguasai seluruh angkatan bersenjata di Indonesia.

Begitu juga dengan intimidasi dan teror dari FPI ini. Jika terus menerus dilakukan, dibiarkan oleh aparat, maka akan tiba masanya, seorang yang diteror dan diintimidasi akan melawan dan membunuh laskar-laskar FPI yang mendatangi rumahnya. Karena sebagian orang lebih memilih mati dibanding hidup dalam ketakutan. Jadi kalaupun laskar FPI datang beramai-ramai, pada akhirnya, akan ada orang yang siap mati melawan gerombolan FPI.

Jika titik jenuh itu tercapai, ini bisa menjadi kabar buruk bagi negara kita. Karena pemerintah tidak hanya bertugas mengendalikan FPI, tapi juga harus mengendalikan masyarakat yang sudah muak dengan tingkah FPI. Dan buruknya, tak akan ada yang tau berapa jumlahnya, sehingga pemerintah dipastikan akan kewalahan untuk mengantisipasi.

Saya berharap Polri bisa dengan tegas menindak aksi-aksi intimidasi dan teror tersebut. Segera menyelesaikan kasus Rizieq dan memberinya kepastian hukum. Sehingga semuanya jadi jelas dan jamaahnya tidak lagi membantah bahwa itu skenario atau fitnah. Ada banyak kasus Rizieq, bukan chat sex saja. Penistaan Pancasila, pelecehan budaya, penghinaan hansip dan banyak lagi. Nyanyian bunuh-bunuh-bunuh si Ahok juga bisa dilaporkan dan diproses. Selesaikan semuanya. Jika tidak, maka intimidasi dan aksi-aksi teror akan terus berlangsung….Begitulah kura-kura.

Share.

About Author

Analyst, Pemikir, Pakar Mantan dan Spesialis Titik-titik WA: +15068028643 BBM: 74B86AE4

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage