Jangan Menuntut Jokowi Untuk Sempurna, Tetapi Bantu Jokowi Membangun Indonesia

Jangan Menuntut Jokowi Untuk Sempurna, Tetapi Bantu Jokowi Membangun Indonesia

2

Banyak orang menjelek-jelekkan Jokowi. Menyebar fitnah. Lalu mereka juga menebar banyak benih kebencian. Apa sebetulnya yang orang-orang ini cari? Baca juga tulisan ini: Menghalalkan Segala Cara Untuk Melemahkan Jokowi

Apakah mereka hendak menuntut kesempurnaan dari Jokowi? Nobody is perfect. No government is perfect. Tetapi bukan berarti tak ada keberhasilan dan pencapaian apapun yang telah dilakukan Jokowi. Jangan pernah menuntut kesempurnaan dari Jokowi, karena Anda akan kecewa. Jokowi tidak pernah menjanjikan kesempurnaan, ia menjanjikan perubahan dan pembaharuan.

Hasilnya belum bisa Anda lihat secara utuh hari ini. Progresnya sudah sangat memberi harapan. Tetapi hasil akhir baru akan bisa dideteksi setelah 2019, dan beberapa tahun sesudahnya.

Jokowi bukan Tuhan yang maha sempurna, makanya kita tentu punya hak untuk mengkritisi dan memberikan masukan. Silahkan saja. Namun, alangkah adil dan bijaksana bila kita juga tidak menuntut segala kesempurnaan dari seorang Jokowi. Kritikan yang wajar dan kritikan yang membangun tentu akan ditanggapi. Tetapi Anda harus mampu mebedakan mana yang memberi kritik dan mana yang memfitnah, menghujat, nyinyir tingkat mahadewa, dan hoax. Bedakan.

Misalnya komentar-komentar ajaib yang datang dari beberapa ‘anak ajaib’ semisal Jonru, Fadli, dan Fahri, yang jelas-jelas menurut saya keterlaluannya sudah sangat sontoloyo banget itu. Maka rasanya nggak perlu ditanggapi sama sekali. Nggak ada untungnya juga. Anggap saja kentut yang baunya minta ampun itu ocehan orang-orang seperti mereka. Jangankan mendengarkan atau menanggapi, lihat congor tiga pentolan jenis ini saja sudah bikin orang mau muntah.

Jokowi jelas bukan tukang sihir yang serta merta dapat membuat sesuatu yang sudah jelek bertahun-tahun lamanya tiba-tiba langsung ‘kinclong’. Menjadi bagus hanya dengan sekali ‘colek’ saja.

Kita selalu mengharapkan kesungguhan hati dan kekuatan penuh Presiden memberi dan membaktikan diri memimpin negeri ini secara bijak dan baik, namun selayaknyalah dia juga didukung penuh oleh kita semua, jangan setengah hati, jangan seperempat hati.

Kalau ada yang sudah kebelet ingin berkuasa cobalah ditahan dulu barang sebentar. Tahan dua tahun. Bersabar sampai 2019 dan bertarunglah secara fair di sana.

Jangan kita hanya tau mengeritik, dan menyalahkan Presiden melulu untuk apapun yang semenatara terjadi di negeri ini. Anda bayangkan saja bila ada satu peniti atau jarum pentul yang rusak lantas kemudian Presidenlah yang dipersalahkan. Kita itu jangan jadi lebay, serempak jangan juga kita mentang-mentang.

Kita ini mestinya adalah bangsa yang penuh rasa bersalah. Harus ada pengakuan massal. Kesalahan yang sudah terjadi dan ditimbun selama puluhan bahkan ratusan tahun. Untuk apa-apa yang terjadi di negeri ini, maka kita turut terlibat dan harus pula merasa bersalah.

Sebagaimana kebenaran dan kebaikan di negeri ini bukan hanya milik satu orang saja, maka kesalahan dan kealpaan juga tidak hanya milik satu orang saja. Bertanyalah sekarang pada diri sendiri apa yang sesungguhnya sudah Anda (kita) perbuat buat negeri tercinta ini?

Mengomel, mengutuki, menghujat, mencaci, memaki terus menerus…atau apa? Ataukah kita sudah benar-benar berbuat sesuatu yang baik selain hanya mengoceh sana sini, kritik sana sini, fitnah sana sini?

Kita menuntut tidak ada banjir lagi, eh malah kardus-kardus sampah kita buang seenaknya di sungai atau selokan. Kita nuntut supaya tidak ada macet, eh ulah kita sendiri kerap yang membuat kemacetan semakin menjadi-jadi. Trotoar jadi jalan, jalan jadi trotoar. Warung pindah ke jalan, sisa-sisa dari warung pindah ke sungai dan selokan.  Dan seterusnya dan sebagainya. Ulah kita-kita juga.

Jangan jadi bangsa yang hanya tahu menuntut dan menyalahkan. Mestinya kita itu saling membantu dan menolong. Seperti ada ujar-ujar bijak yang berkata, “Bertolong-tolonganlah kalian menanggung beban…”

Kita harus benar-benar jujur terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita, baik yang mendukung Jokowi maupun yang tidak mendukung dari sejak awal. Kalau memang Jokowi sementara berusaha dan berbuat apa yang terbaik yang dapat ia lakukan untuk negeri ini dengan sungguh-sungguh (kerja…kerja…kerja), maka apa sebetulnya yang dapat dan harus kita lakukan? Mencaci dia secara sporadis dan terus menerus atau bekerja membantu dia secara bersama-sama membangun negeri ini?

Ada sebuah istilah dalam serial NCIS, yang mungkin saja ada di antara Anda yang sudah sempat menontonnya. Istilah itu adalah “SEMPER FI”. Buku tentang Semper Fi juga sudah terbit lama dan pernah saya baca berulang kali. Buku itu sangat bagus, ditulis oleh seorang mantan komandan Angkatan Laut Amerika.

Menurut Wikipedia sendiri, Semper Fi atau Semper Fidelis adalah suku kata yang diambil dari bahasa Latin, dan dapat diartikan sebagai “Always Faithful” or “Always Loyal”.  ||Well known in the United States as the motto of the United States Marine Corps (and often shortened to Semper Fi in Marine contexts).||

Slogan Semper Fidelis (Semper Fi) sudah banyak dipakai oleh entahkah itu perusahaan swasta, perusahaan pemerintah, maupun keluarga-keluarga di banyak negara. Sejak abad ke 16 slogan ini sudah digunakan umum, dan umum digunakan di banyak tempat. Semper Fi adalah ‘modal’ kita yang luarbiasa dalam menjalankan apapun.

Ungkapan ‘SEMPER FI’ ini adalah sebuah motto marinir yang sangat kontekstual dan aplikatif. Yaitu marinir yang selalu setia. Ya setia pada janjinya, ya setia pada negeri dimana dia sementara berbakti, ya setia kepada institusinya. Bahkan pun mereka bisa begitu setia kepada sesama kawan seperjuangannya. Kesetiaan mahal harganya namun ia dapat dimiliki oleh semua orang, siapapun tanpa terkecuali.

Kita mungkin pernah lihat dalam banyak film perjuangan, dimana ada adegan seorang tentara pejuang yang tidak akan pernah meninggalkan rekannya yang terluka dalam medan perang. Ia bahkan akan berusaha sekuat tenaga untuk menggendong yang terluka itu keluar dari arena peperangan.

Ada juga adegan-adegan di film perang, dimana seorang prajurit yang tertangkap musuh tetapi saat disiksa sekalipun ia tetap saja tidak mau membongkar rahasia apapun dari pasukannya. Semper Fi adalah motto untuk selalu setia.

Semoga para pejabat dan penguasa negeri ini, juga kita semua, siapapun kita untuk memiliki motto serupa Semper Fi ini. Untuk setia terhadap keyakinan, perjuangan, dan sumpah jabatan. Untuk juga berjanji akan setia terhadap pengabdian bagi negeri ini. Setia dalam mempertahankan NKRI, Pancasila dan keutuhan berbangsa, setulus-tulusnya.

Kalau kita bersama-sama Presiden Jokowi saling bahu membahu membangun negeri ini, saya menjadi sangat yakin bahwa dalam beberapa tahun ke depan niscaya kita akan menuai apa yang sudah kita tabur serta kerjakan bersama, dengan bersorak-sorai. Indonesia yang lebih baik dan lebih sejahtera, serta lebih berkeadilan sosial. Anda Percaya? Harus percaya. Inilah kenyataan yang kita hadapi dan akan lalui secara bersama pula.

Itulah kura-kura….

Share.

About Author

Creative Writer // Trainer // Motivator. Lives in Jakarta. Motto: Writing is Breathing.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage