Jangan Tertipu Info Hoax!

Jangan Tertipu Info Hoax!

3

Belakangan ini makin santer saja hoax-hoax yang bertebaran di media sosial. Sampai-sampai Pakde Jokowi resah dibuatnya.

Kehadiran media sosial ditengah masyarakat awalnya sangat membawa angin baru karna bisa digunakan sebagai media untuk saling menyapa dan memberi kabar bagi sahabat dan kerabat yang tinggal berjauhan. Bahkan beda benua.

Bayangkan saja, kita yang awalnya tidak saling kenal dan sapa menjadi akrab dan seperti sudah lama sekali saling mengenal, karna kita bisa melihat segalanya melalui media sosial.

Beda banget dengan jaman mama papa kita dulu kan, yang kalau tinggal berjauhan harus berkomunikasi melalui surat yang nyampenya cukup lama, itungan hari, karna telepon rumah pun jaman dulu belum semua rumah memilikinya.

Selain sebagai ajang berkirim kabar dengan orang-orang yang tinggal jauh dengan kita, media sosial awalnya juga digunakan sebagai tempat untuk mencurahkan isi hati, entah melalui status ataupun curhatan yang panjang, pun begitu sebagai tempat memajang dan menyimpan foto-foto kenangan kita agar tidak hilang dan bisa dengan mudah dilihat kapan saja.

Tetapi sayangnya hal ini menjadikan kita lebih senang ngoprek media sosial ketimbang berinteraksi langsung dengan sekeliling kita.

Saya sering mengalami ketika sedang kongkow dengan teman-teman perempuan saya, selain ngobrol dan ngopi, ponsel kami tetap tepat berada ditangan masing-masing. Ngobrol jalan, ngetik-ngetik HP juga jalan.. piye toh?

Lambat laun fungsi itu sedikit bergeser bukan saja membuat orang yang berdekatan menjadi jauh, tetapi juga sudah di manfaatkan oleh pihak-pihak tertentu dalam rangka mencapai tujuannya.

Salah satu contohnya adalah dalam rangka mempengaruhi massa.

Meningkatnya pengguna interet di indonesia juga meningkatkan pengguna media sosial ditengah masyarakat kita sehingga memudahkan siapa saja yang memiliki tujuan tertentu dapat dengan mudah melakukan aksinya, salah satunya dengan mempengaruhi orang lain melalui HOAX ini..

Kabarnya ada orang yang sengaja menerima pekerjaan membuat hoax dan menyebarkannya ke media sosial melalui situs mereka.

Membuat hoax sudah dijadikan sebagai pekerjaan utama dan kabarnya lagi mereka memiliki omset lumayan besar dari pembuatan berita hoax ini.

Jeleknya lagi kebanyakan orang indonesia belum dewasa dalam menyikapi berita dan menggunakan media sosial, sehingga sangat mudah termakan isu dan diprovokasi.

Parahnya masyarakat kita seperti memiliki default bad habbit, yaitu suatu kebiasaan buruk dalam menanggapi dan menyikapi berita yang beredar tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu dan ini seringkali terjadi, banyak juga yang cuma membaca judul berita tanpa membaca artikelnya dan langsung komen, menyebarkannya kembali;  “baca judul-ketik amin-share-masuk surga”.

Maka kita perlu mengedukasi masyarakat bahwa berita apapun harus disikapi dengan cermat dan cerdas. Cari tau kebenarannya supaya tidak termakan isu apalagi hoax. Setuju ya..

Dalam kaitannya mengenai berita hoax dan upaya meng adu domba masyarakat, hal ini sudah terlihat jelas. Entah siapa dalang sesungguhnya dan apa tujuan jelasnya.

Yang pasti mereka berhasil melakukan politik devide et impera seperti di zaman Kolonial dulu.

Lihat saja isu hoax tentang bangkitnya PKI, masuknya 7 juta TKA China, dan dibenturkannya Panglima TNI dengan Presiden beberapa waktu yang lalu.

Supaya pembaca tau bahwa isu hoax kebangkitan PKI sudah dihembuskan sejak Jokowi mencalonkan Presiden hampir 3 tahun yang lalu. Dan tidak terbukti sama sekali, tetapi mereka coba meng-hembuskan nya kembali belakangan ini.

Salah satunya dengan penerbitan buku Jokowi Under Cover yang penulisnya kini sudah ditahan pihak kepolisian.

Pihak Kepolisian kini sedang meminta keterangan Bambang Tri sang penulis untuk mencari tau siapa aktor intelektual dibaliknya.

Lalu isu hoax masuknya 7 juta TKA dari Tiongkok. Gak salah 7 juta? Karna menurut data dari kementrian terkait, TKA kita ada 70 ribu orang dan cuma 21 ribu yang berasal dari Tiongkok.

Jadi kalau dibilang 7 juta ya jauh buanget Son… Son..

Untuk masalah ini bahkan Pakde Jokowi sudah melakukan klarifikasi dan bantahan bahkan sampai lebih dari satu kali.

Mengapa Pakde Jokowi sampai melakukan klarifikasi? Karna hal ini sangat penting demi menjaga Stabilitas Nasional, Menjaga kepercayaan rakyat dan wibawa pemerintah. Dan menurut saya klarifikasi ini memang harus dilakukan agar berita hoax itu tidak menjadi bola liar.

Ada lagi isu hoax mengenai kabar bahwa Panglima TNI Jend. Gatot Nurmantyo memiliki hasrat untuk menjadi Presiden.

Saat itu Panglima TNI sampai menyampaikan sumpah setianya kepada Pakde Jokowi selaku Presiden RI dan NKRI di depan wartawan dan khalayak ramai.

Sumpah setia Panglima TNI ini juga memang harus dilakukan untuk menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya kepada rakyat Indonesia, bahwa Tongkat Komando Negara ada pada Presiden dan semua pembantu Presiden setia berada dibawah Komandonya, salah satu yang dilakukan Pakde Jokowi adalah dengan melakukan Safari Militer, mengunjungi Prajurit-Prajurit kita di markas mereka masing-masing.

Ini macem orangtua kita yang gantian mengunjungi kita anak-anaknya dirumah kita masing-masing. Kan enak yah didatengin Mama Papa, kita jadi merasa disayang, diperhatiin..

Hal ini sangat penting dilakukan seorang pemimpin negara untuk memberi perhatian kepada alat negaranya untuk menjaga kedaulatan bangsa maupun rasa aman rakyat Indonesia.

Dengan pertunjukan itu, Presiden memberi tau kepada “pengacau” yang bertujuan memecah belah bangsa bahwa taktik mereka tumpul, tidak berhasil.

Maka jalan terakhir yang mereka lakukan adalah mengadu domba rakyat melalui hoax di media sosial. Karna hal ini sangat mudah dilakukan.

Masih ingat asal mula kata Pribumi dan Non Pribumi? Kata itu diciptakan Belanda untuk memecah belah Ras Melayu dan Tionghoa di Bumi Pertiwi.

Saat itu ras-ras yang sudah berabad lamanya tinggal di Nusantara, baik ras Melayu, Jawa, Tionghoa dan ras lainnya bersatu padu bahu membahu memberi perlawanan sehingga menyusahkan Belanda.

Maka diciptakanlah istilah Pribumi dan Non Pribumi itu, agar Bangsa kita terkotak-kotak dan terpecah belah. Sialnya taktik itu sangat berhasil bahkan sampai sekarang istilah itu masih saja digunakan.

Padahal seharusnya kita tidak perlu lagi menerapkan pandangan primitif era Belanda itu karna kita adalah satu Indonesia.

Kalau artis-artis blasteran ke bule-bule-an saja yang kewarga negaraan nya diragukan mau kalian kagumi dan jadikan idola, masa orang yang nenek moyangnya jelas-jelas lahir di bumi pertiwi ini dan ikut berjuang dalam mendirikan NKRI masih saja kalian sebut Non Pribumi?? Yang bener ajaaa..

Indonesia hentikan hoax, fitnah dan provokasi sekarang juga!

 

 

 

 

 

 

Benang Merah Antara Jokowi-Ahok dan Mantan Baperan yang “Birahinya” Masih Tinggi

Tentara Australia Melecehkan TNI dan Pancasila Kita. Pancasila di Plesetkan Menjadi PANCAGILA.

Fitnahan Baru; GNPF MUI sedang Sholat, Kubu Ahok Setel Musik dan Joget Keras-Keras

Jelas Sudah, Ahok Memang Korban Fitnah yang Keji! di Krimialisasi oleh Fitsa Hets!

Panggung Istimewa FPI di Sidang Kasus Ahok

Agus-Sylvi Kebakaran Jenggot dengan Postingan Pataresia Tetty??

Ucapan Terimakasih Warga kepada Pak Ahok, Atas Pembangunan di Kalijodo

Gerilya Agus-Sylvi. Analisa Indikasi Kecurangan Paslon No. 1

“Premannya” FPI Menghadang Ahok. Lagi

Penistaan Politik Oleh Sandiaga Uno! Kok Gak Ada yang Demo?!

 

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com, jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage