Kasus Pelanggaran HAM dan Fungsi Komnas HAM Yang Tidak Masuk Akal.

Kasus Pelanggaran HAM dan Fungsi Komnas HAM Yang Tidak Masuk Akal.

1

 

Beberapa komentar yang datang di artikel yang saya tulis sangat menarik perhatian saya untuk menelaah lebih dalam apa yang sebenarnya mereka bicarakan dalam “usaha”nya mendiskreditkan Presiden Jokowi. Omongan mereka ibarat benang kusut berputar-putar namun tiada ditemukan ujung dan pangkal. (Baca : https://seword.com/politik/keterangan-wajah-mereka-sebelum-dan-setelah-keluar-istana-jokowi-cukup-senyum-dari-dalam-istana/) 

Seribu satu penjelasan mulai dari penjelasan yang berdata, sampai penjelasan ngasal, mereka tetap dengan gayanya yang berputar-putar. Hampir semua orang yang mengomentari komentar dia berpikir, “Wah ini orang goblok bener ya…” tapi jangan salah, sebenarnya orang ini pintar. Bahkan sangat pintar. Gaya berputar-putarnya itu berusaha membuat semua orang bingung, lalu lama-lama orang yang bingung itu akhirnya sependapat dengan dia dan mulai menentang kebijkana pemerintah seperti dirinya.

Apa lagi ketika orang berkomentar dan mengangkat isu pelanggaran HAM yang tidak kelar-kelar diungkap oleh pemerintah  untuk mencari siapa si pelaku dan menghukum pelaku utamanya. Dan isu lain yang sering dijadikan bahan olok-olokan mereka adalah kasus besar korupsi yang juga tidak pernah berhasil diungkap oleh KPK. misalnya kasus BLBI dijaman Megawati.

Untuk saya pribadi, kedua kasus diatas, pelanggaran HAM dan Korupsi skala besar, tidak akan pernah kelar, siapapun yang menjadi Presidennya. Ini karena pelaku-pelaku utama dari dua kejahatan besar itu adalah para para elit siluman, tidak nampak, tidak terlihat tapi ada. Coba saja tengok kasus-kasus pelanggaran HAM. Jangankan kita, rakyat, dunia Internasional pun masih selalu bertanya setiap kali tertemu dengan Presiden Indonesia.

Sebagai catatan saja, ketika kita bicara tentang kasus pelanggaran HAM, ada 8 kasus pelanggaran HAM yang menjadi sorotan dunia. Peristiwa-peristiwa itu adalah :

  1. Peristiwa Pembunuhan Massal 1965, diperkirakan memakan korban sampai 1.5 juta orang.
  2. Peristiwa Talangsari-Lampung 1989Tragedi, diperkirakan mencapai jumlah korban sampai 803 orang.
  3. Penembakan Mahasiswa Trisakti 1998, diperkirakan korban yang meninggal sampai 685 orang.
  4. Tragedi Semanggi I 1998, memakan korban sampai 127 orang.
  5. Tragedi Semanggi II 1999, korban diperkirakan sampai 288 orang.
  6. Kasus Wasior dan Wamena (2001 dan 2003), tidak ada data karena laporan dianggap tidak lengkap.
  7. Kerusuhan Mei 1998, korban mencapai 1.308 orang.
  8. Penembakan Misterius “Petrus” 1982-1985. korban mencapai 1.670 orang.

Jadi kalau pelanggaran HAM yang memakan korban hanya satu atau dua orang, itu bisa saja diungkap tergantung siapa yang dibunuh dan kasus akan mengarah ke kasus lain yang mana dan kita bisa tahu siapa pelakunya. Kalaupun korbannya hanya satu orang tapi pelakukan tetap siluman, ya tetap saja kasus tidak akan pernah terungkap. Kasus Munir misalnya.

Silahkan dicermati, ke 8 kasus pelanggaran terbesar atas HAM di Indonesia rata-rata akan bermuara dimana? kita kan tidak mungkin mencari dan menangkap pelaksana, tapi pastinya kan mencari dan menangkap otak perencana dari kasus ini. Dan sangat mudah bagi orang yang tidak paham politik untuk mengatakan, “Diungkap lalu tangkap saja!”. Seandainya orang yang disinyalir sebagai pelaku itu tidak menjadi bagian dari kelompok siluman elit politik, mungkin mudah semudah menangkap si tukang sate. 

Laporan di atas saya dapatkan dari berita yang dilansir Kompas seperti yang disampaikan oleh Komnas HAM.

Sekarang Komnas HAM dan segelitir masyarakat menyudutkan pemerintah Jokowi yang katanya sudah berjanji untuk menyelesaikan masalah pelanggarana HAM ini. Untuk saya, janji Jokowi sudah dilaksanakan dengan adanya hasil laporan dari penyelidikan. Namun kalau akhirnya semua tindak lanjut dari kasus-kasus tersebut diatas mandeg di kejaksaan, lalu kenapa harus menyalahkan Presiden? Pihak Komnas HAM yang tidak mau bekerja lagi men-follow-up kasus-kasus itu selanjutnay.

Disamping itu, menurut saya pribadi, proses berdirinya sebuah bangsa dan negara tidak akan lepas dari yang namanya pengorbanan. Apalagi Indonesia yang lahir dari hasil perjuangan kemerdekaan jaman penjajahan dan kemudian terjadi perebutan kekuasaan secara politis.

Pihak penguasa saat itu, akan melakukan tindakan yang dipandang penting dilakukan guna menjaga kekuasaannya, walalupun itu harus dengan cara pembantaian pihak lawan. Sama seperti halnya Peristiwa semanggil, Trisakti yang terjadi diseputaran era reformasi. Mereka adalah pahlawan yang mengorbankan diri untuk sebuah perjuangan keyakinan. Sebuah perubahan.

Yang pasti, Indonesia memiliki sebuah lembaga yang disebut KOMNAS HAM atau Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Menurut saya pribadi, seyogyanya, semua hal yang dianggap telah terjadi pelanggaran HAM, harusnya menjadi tanggung jawab Komnas HAM untuk mengungkap setiap kasus sampai tercapai apa yang disebut keadilan. Jangan balik lagi dan menyalahkan  Presiden ketika Komnas HAM tidak mampu mengungkap.

Anehnya, kalau kita melihat situs resmi Komnas HAM, saya kok melihat misi visinya sama sekali tidak jelas.

Pendapat saya pribadi :

Setiap ada kasus pelanggaran HAM, harus disampaikan pada Komnas HAM. Jika tidak di tindak lanjuti, yang didemo adalah Komnas HAM. Komnas HAM didirikan oleh pemerintah untuk menangani kasus. Komnas HAM dibentuk bukan untuk bergabung dengan pelapor lalu sama-sama menyerang pemerintah. Jadi tidak masuk akal, bukan?

Komnas HAM dibawah naungan Kemenpolhukam lah yang harus mengusut tuntas sampai pelaku ditemukan, diadili dan dipenjarakan. Mekanisme kerja, sama seperti dengan KPK. Kedua lembaga itu sama-sama independen didirikan oleh pemerintah dan sama-sama dalam bentuk Komisi. 

Saya sangat menghargai pengorbanan-pengorbanan yang telah diberikan oleh para pahlawan dieranya masing-masing dan saatnya sekarang Indonesia berjuang untuk maju dan mensejajarkan diri dengan bangsa lain dari sisi ekonomi politik dan hukum. Karena dengan membangun bangsa dan negara adalah bukti kita menghargai perjuangan mereka.

Kalau kita masih menuntut negara untuk terus mengungkap semua peristiwa yang memakan korban seperti kasus-kasus yang saya tulis diatas, lalu apa arti pengorbanan yang mereka berikan pada Indonesia? Membongkar masa lalu itu tidak mudah. Lebih baik, kita gunakan waktu sekarang dan masa depan untuk membangun.

 

 

 

 

 

 

 

http://nasional.kompas.com/read/2015/09/29/05220051/Ini.8.Kasus.Pelanggaran.HAM.yang.Masih.Macet.hingga.Sekarang

Share.

About Author

Pendukung Pemerintahan yang SAH! Muslim yang mendukung Ahok dan Jokowi. Warga Negara yang mencintai Negerinya.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage