Kebangkitan Kekuatan PKI ?

Kebangkitan Kekuatan PKI ?

20

Halo pembaca Seword yang budiman, akhir-akhir ini hati penulis kembali resah. Sering terdengar dari sayup-sayup hingga teriakan yang memekakkan telinga sebuah nama yang menakutkan pada masa Orde Baru yaitu PKI.

Terus terang saja penulis secara jujur mengakui mengalami trauma masa kecil dengan yang namanya PKI. Hal ini dimulai dari cerita-cerita yang beredar pada teman sepermainan di lingkungan penulis.

Sering apabila hari mulai menjelang maghrib teman sepermainan saling mengingatkan untuk segera pulang ke rumah karena ditakutkan akan ketemu “culik” yang suka mengambil bola mata anak kecil dan juga ada “PKI”. Tanpa memahami apa itu arti kedua kata menakutkan itu, karena masih kecil, kita semua pasti langsung berlarian pulang ke rumah masing-masing dengan hati berdebar-debar. Apalagi kalau kita bermainnya di tempat yang agak jauh dari rumah.

Setelah memasuki bangku sekolah, ketakutan ini terasa lebih lengkap dengan penjelasan ilmiah yang disampaikan oleh guru mata pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) yang sekarang kurikulumnya telah dihapus.

Hal ini di perparah dengan tugas-tugas sekolah yang mewajibkan para siswa sekolah untuk membuat semacam paper/karangan yang bersumber dari film sadis penuh adegan kekerasan yang berjudul Pemberontakan G 30 S/PKI yang wajib ditayangkan dan wajib ditonton di satu-satunya stasiun televisi pemerintah pada masa itu.

Usaha penebaran teror menakutkan ini ternyata memang dibuat secara terstruktur dengan rapi oleh pemerintah Orde Baru guna memberikan “brainwash” kepada seluruh bangsa ini untuk kepentingan politik melanggengkan rezim korup yang bernama Orde Baru.

Sehingga untuk meredam lawan politik atau gejolak masyarakat yang tertindas dan berusaha bangkit melawan, pemerintah menggunakan jargon PKI sebagai senjata untuk memukulnya.

Pertanyaannya apakah sebenarnya dosa PKI itu, walaupun sudah dipukul dan diratakan habis tanpa bersisa tetapi namanya masih digunakan sebagai simbol pemfitnahan, pembenaran kekerasan dan penindasan.

Tentu kita semua mengatahui akan peristiwa pada tahun 1965 tentang upaya penggulingan pemerintahan Soekarno. Tetapi berdasarkan puluhan mungkin ratusan penelitian yang mengkaji hal itu entah oleh LSM dalam negeri hingga civitas akademika luar negeri kesemuanya berkesimpulan pada lemahnya bukti-bukti bahwa kelompok makar waktu itu adalah kelompok dari PKI.

Beberapa hari yang lalu ketika dalam suatu wawancara di tv, mantan Presiden SBY pun menyatakan kelompok makar itu adalah Dewan revolusi dan tidak menyebutkan PKI sama sekali.

Itulah kontroversi terbesar bangsa Indonesia yang dibentuk oleh sebuah cerita. Menurut para pakar komunikasi, manusia adalah “the only species that tells stories and lives by the stories we tell”. Memahami masa lalu kita, menafsirkan tindakan kita, menilai kemungkinan di masa depan semuanya difilter melalui cerita-cerita ini.

Seperti yang bangsa indonesia alami ketika hidup dibawah rezim Orde Baru, rezim Orde Baru ini ditegakkan bukan diatas Pancasila dan UUD 1945 seperti yang di gembar-gemborkan tetapi di atas Pemberontakan G 30 S/PKI yang sekarang direvisi menjadi Pemberontakan G 30 S. Para politisi menegakkan, mendukung dan mengacaukan rezim dengan sebuah cerita.

Kebudayaan adalah seluruh rekaman cerita, yang dirajut, diterima dan disepakati oleh sekumpulan manusia. Dengan pengembangan cerita yang terstruktur oleh rezim Orde Baru, biaya yang dikeluarkan hingga mencapai trilyunan rupiah untuk mensosialisasikan cerita dan mengorbankan jutaan anak manusia yang menolak cerita itu.

Di kehidupan masa sekarang ini bertepatan dengan momentum Pilgub Jakarta pola-pola semacam ini kembali muncul. Dimulai dari jebakan betmen kepada Ahok yang di provokasi secara massif, terstruktur dan rapi semenjak pelantikan Gubernur Jokowi-Ahok pada tahun 2012, dan akhirnya sikap temperamental Ahok yang melegitimasi cerita ini lewat kasus penistaan agamanya.

Setelah itu terjadi persis seperti yang dilakukan rezim Orde Baru kembali dilontarkan tuduhan hingga makian dan hujatan PKI.

Baru-baru ini penulis mendapati seorang Profesor dan seorang Ulama besar yang mencoba membuka pikiran akan artinya toleransi pada suatu media sosial di hujat habis-habisan dan di bully oleh comment-comment dituduh PKI.

Begitu mudahnya vonis PKI dijatuhkan berbarengan dengan kafir, yahudi dan cina. Kata-kata seperti yang dilayangkan kepada Ahok pun penuh dengan kekerasan seperti, “Gantung Ahok”, “Bunuh Ahok”, “Adili dan Penjarakan Ahok adalah Harga Mati”.

Coba kita refresh dengan pola-pola tuduhan yang dilakukan pada era tahun ’60-an.Pada waktu itu demo massa PKI yang massif sering terjadi guna menjatuhkan kekuatan AD pada waktu itu, kata-kata yang sering dilontarkan pun sama seperti, “Ganyang Kabir”, “Gantung Antek Kapitalis” dan sebagainya.

Walaupun Komunis sudah hancur dan dikubur namun hantunya masih bergentayangan dalam benak setiap penduduk bangsa ini. Hantu ini bukanlah ideology Komunis, tetapi hantu yang diciptakan oleh pemerintah Orde Baru sehingga terbentuk kepribadian yang baru.

Kepribadian ini terbentuk karena indoktrinasi, pemalsuan kenyataan dan pengeruhan pikiran yang berlangsung lama. Hingga terbentuk menjadi sesuatu yang menghalangi demokrasi, apapun yang berbeda pastilah langsung diserang dan dihantam dengan vonis-vonis yang disebutkan diatas.

Ketika pada era ’80-an hingga ’90-an, Orde Baru menciptakan dua kekuatan oposisi yang nantinya akan dijadikan kambing hitam dalam setiap aksi penolakan kebijakan pemerintah. Komunisme pada posisi ekstrem kiri dan Islam (radikal) pada ekstrem kanan.

Kedua kekuatan ini sengaja dihembuskan dan dibentuk sedemikian rupa sehingga seakan-akan secara fisik benar-benar ada. Saksi hidup korban pengkambinghitaman yang kebetulan rekan penulis seperti Budiman Sudjatmiko dan lain-lain yang pernah mengalami itu. Apakah hal itu benar adanya, Budiman ini ternyata anak dari seorang guru yang taat beragama Islam.

Pada medio ’98-an seorang Jendral intelejen yang berkemampuan dalam bidang penggalangan massa mendapatkan perintah untuk membentuk Pam Swakarsa guna melawan aksi massa pada waktu itu. Dikarenakan massa yang melakukan aksi itu kebanyakan dari masyarakat yang sering divonis sebagai penggerak komunisme maka dibentuklah massa tandingan dari massa yang berseberangan dari ekstrem kanan yaitu Islam (radikal).

Setelah reformasi tercapai maka cap-cap ekstrem kanan dan kiri ini dihilangkan dan ekstrem kiri yang terdiri dari masyarakat yang menolak hegemoni Orde Baru ini tidak terbukti kebenarannya sebagai kaum/kelompok komunis tetapi masyarakat biasa yang memiliki kekuatan luar biasa untuk merubah kehidupan bangsa yang lebih baik.

Sekali lagi Komunisme dan PKI hanyalah rekaan dan mitos belaka setelah dihancurkan pada tahun 1965.

Setelah masa-masa kelam tahun ’65 itu jargon kekuatan PKI dimunculkan untuk kepentingan politik kekuasaan. Padahal apa yang dituduhkan sebagai kekuatan PKI itu adalah kekuatan masyarakat menuju perubahan ke arah demokrasi yang lebih baik.

Demokrasi yang tidak melanggar hak orang lain.

Demokrasi yang tidak memaksakan kehendak kepada sesama.

Demokrasi yang memahami perbedaan itu sebagai Rahmattan lil alamin.

Akhir kata, perlu untuk diketahu oleh pembaca bahwa tuduhan-tuduhan PKI dan semacamnya kepada anda yang menyuarakan kebenaran hendaknya disikapi dengan bijak dan kuping tebal serta janganlah berkecil hati.

Vonis-vonis seperti PKI, Cina, Kafir, Yahudi dan Syiah yang banyak muncul akhir-akhir ini hanyalah sebuah cerita yang dikembangkan dan disosialisasikan secara massif, terstruktur, rapi dan berbiaya tinggi guna merebut kembali sebuah kekuasaan seperti yang pernah dilakukan oleh Orde Baru.

Anda tidak perlu melawan vonis-vonis seperti itu, walaupun sering akal sehat kita tidak bisa mencerna omongan mereka. Janji-janji mereka yang muluk-muluk untuk memperbaiki kondisi bangsa serta memakmurkan negara bahkan sebuah sorga kepada umat namun apabila bertentangan dengan dasar negara dan wajah ke-Bhinnekaan kita selayaknya tidak perlu kita indahkan. Kalaupun mereka masih bandel tentunya akan berurusan dengan hukum.

Sudah bertahun-tahun rakyat menderita oleh kesalahan penguasa dan para sebagian orang yang menyebut dirinya Ulama.

Mumpung sekarang ini kita mempunyai pemerintahan baru dengan sistem yang baru, dan sepertinya sedang menuju ke pembaharuan yang positif, marilah kita meningkat kepada Indonesia yang baru dengan harapan baru dan suasana baru, tetapi tetap menjunjung dasar negara dan Bhinneka tunggal Ika yang sudah lama menjadi pribadi bangsa ini.

Demikianlah pendapat saya yang sudah mulai bosan ber Pura Pura memahami permasalahan bangsa ini…Wassalam.

 

 

“Agamamu belum tentu agama Allah, agama Allah menghargai manusia dan menebar kasih sayang ke alam semesta” (KH A Mustofa Bisri)

 

 

 

 

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage