Ternyata, Kota Terapung ala Om Agus Sangat Realistis!

Ternyata, Kota Terapung ala Om Agus Sangat Realistis!

29

Debat Cagub-Cawagub DKI tinggal 2 hari lagi. OMG!! Debat yang akan dilaksanakan pada 13 Januari 2017 mengusung topik mengenai sosial ekonomi, lingkungan, dan transportasi[1]. Wah, seru, apakah kota terapung akan dibahas??

Nah.. bicara tentang mengapung, pasti masih ingat kan dengan garuk-garuk kepalanya Om Agus kala menjabarkan mengenai kota terapung? Walaupun setelahnya Om Agus mengaku tidak memiliki program kota terapung[2], tapi saya mau kasih ide. Bukan, saya bukan relawan atau pendukungnya Om Agus, tapi saya tahu gimana rasanya jadi anak magang. Rasanya gimana Om? Bingung kan, ya? Saya juga bingung.. *garuk-garuk kepala*

Jadi, menurut saya ide Om Agus itu keren, lho. Iya, ide yang kota terapung itu. Malahan bisa banget dijadikan program kerja, untuk menghindari penggusuran juga. Coba dipikir-pikir lagi deh, Om. Nanti kalau ada yang bilang kota terapung itu ide bodoh, atau kalau ada yang singgung-singgung mengenai kota terapung, jawab saja : “Indonesia sudah punya kota terapung!”

Kalau ada yang tanya dimana? Jawab lagi : “Hm, rupanya anda tidak mengenal Indonesia, ya? Di Papua sana sudah ada kota terapung.” Ingat Om Agus, jawabnya dengan badan tegap, mata agak menyipit, dan bibir naik sebelah, biar terkesan mengintimidasi. Jangan sambil garuk-garuk kepala kayak waktu itu, nanti disangka ketombean. Masak ganteng-ganteng ketombean, memangnya judul sinetron~

“Dek Sri, beneran? Di Indonesia sudah ada kota terapung?”

Ih, beneran, saya nggak bohong Om. Itu di Papua ada Kota Agats. Kota ini layaknya kota terapung. Rumah-rumahnya memiliki model rumah panggung, infrastruktur jalanan penghubungnya juga dibangun diatas susunan papan. Untuk beberapa bagian yang digunakan untuk menyeberangi sungai, dibangun jembatan cor besi yang kuat.

foto : www.panoramio.com

Selain terapung, Agats juga ramah lingkungan dan bebas macet! Tuh, keren kan? Rupanya konsep kota terapung Om Agus mampu mengentaskan 2 permasalahan isu besar Jakarta sekaligus, yaitu penggusuran dan macet. Pasti ibu-ibu makin cinta sama Om Agus, udah ganteng, pintar pula. Aduh, bisa-bisa saya juga jadi naksir. Mantap djiwa, Om Agus!

Oh iya, kembali ke Agats. Kenapa Agats bebas macet? Karena itu tadi, jalanan penghubungnya dibuat dari susunan papan kayu, maka mode transportasi yang digunakan di sini hanyalah sepeda, motor listrik, dan kaki. Nggak ada tuh macet-macetan mobil segede gaban tapi isinya cuma satu orang. Menuh-menuhin jalan raya aja!

foto : www.indonesiakaya.com

Karena jarang orang menggunakan kendaraan bermotor, kebanyakan berjalan kaki, maka kota Agats ini bebas dari polusi asap knalpot yang kelamnya kayak kehidupan. Nggak ada tuh pagi-pagi sarapan asap knalpot hitam yang bikin sesak napas. Selain itu, tanah-tanahnya yang tidak tertutup papan ditumbuhi tanaman mangrove. Lumayan untuk penyegaran, karena tanaman pohon besar sukar tumbuh di Agats sehingga kala terik matahari siang memanggang rasanya cukup panas.

foto : www.indonesiakaya.com

Yang kerennya lagi dari Agats, meski berkesan ‘ndeso’ karena infrastrukturnya masih kebanyakan menggunakan papan dan jauh dari kata modern, hal itulah yang membuat Agats menarik untuk dijadikan tempat wisata. Bukannya tidak mungkin, dengan pengelolaan yang baik, Agats bisa menjadi tujuan wisata unik dan tempat yang Instagram-able. Namanya aja udah keren, kan? Agats? Anak gaul kota terapung sini, temannya akamsi, anak kampung sini.

Kota Agats memiliki infrastruktur yang demikian karena tanah dibawahnya merupakan rawa dan tanah basah. Tapi jangan salah, layaknya kota pada umumnya, meski ‘terapung’ fasilitas di sana lengkap, lho. Pelabuhan, kantor pemerintahan, kantor polisi, hingga lapangan bulutangkis indoor ada di sini.

foto : www.jakartaseru.com

Yaa, walaupun beda sih Agats sama lokasi gusur di Jakarta. Yang satu tanah rawa, yang satu lagi pinggir sungai. Yang satu palingan cuma basah tanahnya, yang satu lagi bisa hanyut kalo sungai meluap. Tapi ini ide lho, Om Agus. Coba Om Agus pikirkan lagi, ini bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai isu penggusuran. Diramu saja dengan kata-kata yang intelek dan kalimat apik, kayak toko sebelah. Pasti pendukung yang masih berada di kawasan abu-abu, bakal tergila-gila sama terobosan ide anti penggusuran dari Om Agus. Bentar lagi Om Agus bisa punya basis fans kayak artis-artis Korea, lho.

Yaa, walaupun definisi mengapung sebenarnya adalah terletak tepat di atas permukaan air, sih. Jadi sebenarnya kurang tepat juga, sih, kalo Agats disebut kota terapung. Ah tapi nggak bakalan ada yang ngeh kok, Om. Yang penting, infrastruktur Agats bisa banget diaplikasikan di Jakarta lho, Om. Susunan papan jalanannya dibangun diatas permukaan air. Rumah-rumah yang tadinya cuma mepet sungai bisa dipindahkan ke tengah sungai sekalian. Infrastrukturnya nanti dibangun dengan material yang bisa mengapung. Asik tuh, kayak resort di Maldives gitu kan, rumah di atas air. Ah sudahlah, pokoknya saya yakin, ini bisa banget dijadikan bahan contekan buat Om Agus.

Gimana Om Agus? Cucok nggak ide saya?

 

 

Ditulis sambil garuk-garuk kepala..

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com, jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage