Makna Politik Presiden Sarungan

Makna Politik Presiden Sarungan

17

Halo Pembaca Seword yang budiman, sungguh menarik melihat Presiden kita sekarang ini Jokowi. Kita sering mengidolakan pemimpin ideal secara fisik, dengan penampilan yang necis, wajah yang simetris dan gaya bicara yang borjuis.

Tetapi Jokowi telah berhasil membalikkan harapan tentang kepemimpinan dengan kriteria itu semua. Dengan penampilan yang biasa-biasa saja cenderung sederhana, wajah yang minimalis dan gaya bicara yang ndeso, Jokowi berhasil menarik perhatian dan membuat orang menyukainya dengan segala keunikannya.

Bahkan dengan penampilan fisik yang cenderung flat, Jokowi mampu menjadi model fashion orang seIndonesia. Bermula dari baju kotak-kotaknya yang happening banget, kemeja putih digulung seperempat, sendal Jokowi sampai jaket bombernya yang jadi incaran penggila fashion di tanah air.

Fenomena apakah yang sebenarnya terjadi ?

Kalau kita jeli dalam menganalisanya, tentulah semua yang dilakukan oleh Jokowi ini sarat dengan pesan yang akan dikesankan. Terlalu naif apabila kita berpikir tidak ada tim khusus protokuler untuk menjaga penampilan seseorang sekelas Jokowi. Namun apa kira-kira kesan yang ingin disampaikan dengan gaya penampilan seperti itu.

Jokowi ini adalah seorang role model pemimpin yang sederhana, merakyat, jujur dengan kesan apa adanya dan seorang pemimpin yang sangat responsif dalam menangkap aspirasi rakyat pada lapis bawah untuk melawan stigma bahwa pemimpin adalah seseorang yang berkasta tertinggi.

Kesan inilah yang ingin disampaikan oleh Jokowi, bahwa pemimpin itu adalah orang yang berasal masyarakat orang biasa seperti penulis ini.

Hal ini diperkuat dengan kegiatan Jokowi sebagai orang biasa yang sering dipublikasikan di sela-sela kunjungannya ke daerah selaku presiden.

Tentu kita belum lupa tentang kehebohan di grosir Mangga Dua ketika Jokowi mengantarkan putra bungsunya berbelanja kamera. Juga pemberitaan di media sosial tentang jokowi yang belanja kaos dalam dan sandal di sebuah minimarket diluar pulau jawa.

Terakhir dalam sebuah acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di pekalongan kemaren lusa. Hal unik yang penulis cermati adalah gaya berbusana Presiden Jokowi, dalam sebuah acara resmi kunjungan kerja selama dua hari ini.

Presiden Jokowi mengenakan jas hitam lengkap dengan pin presiden yang membalut kemeja koko putih dengan bawahan sarung berselop dan pecis hitam.

Penulis langsung teringat dengan foto eyang kakung pada tahun 1940-an, ketika mengikuti pengajian pada kyai di kota Magelang.

Seperti kita ketahui gaya busana yang dipakai Jokowi ini sangat lazim dikenakan para santri abangan di Jawa Tengan dan Timur.

Akhir-akhir ini kita sering sekali melihat para Ulama dan Ustadz juga Dai terkenal sering mengenakan busana yang menjadi ciri khasnya seperti mengenakan kain sprei di kepala, taplak meja di bahu hingga daster putih oleh seorang laki-laki, untuk menunjukkan keIslamannya.

Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, untuk memahami pesan dari artikel ini, kita akan sedikit mengulas tentang keberadaan agama Islam di Jawa.

Dalam kajian sosiologis, Islam tidak serta merta muncul turun dari langit dengan sejumlah paket rangkaian peribadatan yang sudah mengusung secara lengkap dalam aturan-aturan aspek kehidupan sesama umat maupun (umat) dengan penciptanNya Allah SWT.

Islam bukanlah sebuah pil vitamin lengkap yang langsung bisa dikonsumsi oleh setiap orang yang memelukanya. Kehadiran Islam merupakan sebuah proses panjang dari sejarah yang sudah kokoh menancapkan kebudayaannya selama berabad-abad sebelumnya.

Islam merupakan intisari kesempurnaan dari bahan mentah ajaran dan kebudayaan sebelumnya, yairu tradisi, kebudayaan sistem spiritual Arab, Yahudi dan Kristen.

Islam ini diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan cara merajut multi kultur setempat (Arab) berdasarkan wahyu dari Allah SWT, sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Sehingga banyak ajaran Islam yang dari Hadist Nabi Muhammad SAW yang kental dengan budaya Arab dimana Nabi Muhammad tinggal.

Namun apakah Islam itu identik dengan kebudayaan Arab ? Jawabannya iya.

Namun apakan inti ajaran Islam itu identik dengan kebudayaan Arab ? Jawabannya tidak.

Begitu juga ketika terasimilasinya Islam dengan budaya loka ketika menyebar di pulau Jawa, konsep tasawuf Islam yang mempunyai banyak kemiripan dengan konsep sangkan paraning dumadi (darimana manusia berasal,apa dan siapa pada masa kini dan kemana arah tujuan hidup yang dijalani dan ditujunya) pada kejawen ini merupakan jalan masuk yang banyak digunaka oleh Sunan Kalijogo dan Syech Siti Jenar.

Seperti contohnya budaya tahlil, istighatsah, ziarah kubur, mengenakan sarung dan peci dan lain sebagainya.

Islam Jawa yang sering disebut santri ini menjalankan syariah Islam dengan identitas orang Jawa. Seperti orang di Bali menggunakan identitas Bali dalam menjalankan agama Hindu/Budha yang berasal dari India, juga orang Kristen di desa Ganjuran Bantul, Jogjakarta yang mengenakan identitas kain jarik dan blangkon Jawa ketika melaksanakan kebaktian di Gereja.

Inilah yang disebut dengan teori Sinkretisme, suatu proses perpaduan dari beberapa paham atau aliran agama/kepercayaan. Dalam konteks ini adalah antara paham kebudayaan sebagai landasan berkembangnya suatu paham/aliran agama.

Apakah hal ini memunculkan Islam baru yang menanggalkan wajah ke-Arab-anya, atau , menjadi Islam Kwalitas 2 yang posisinya tidak lagi genuine yang mereduksi aqidah-aqidah ajarannya sehingga menjadi sesat ?

Penulis berpendapat bahwa Islam itu tetap di dalam hati menjadi media berkomunikasi dan berserah diri pada pencipta Nya Allah SWT, tetapi umat sebagai manusia sosial tidak meninggalkan identitasnya sebagai sebuah suku, ras dan bangsa.

Nasionalisme.

Itulah pesan Presiden Jokowi ketika memilih pilihan fashion/gaya berbusana sebagai Muslim Sarungan yang menjadi identitas para santri pondok pesantren di Jawa.

Meminjam pernyataan Bung Karno yang disampaikan kembali oleh putrinya Megawati Soekarnoputri pada pidato HUT PDIP hari ini.

“ Kalau ingin beragama Hindu, tidak perlu menjadi orang India”

“Kalau ingin beragama Nasrani, tidak perlu menjadi orang Yahudi”

“Kalau ingin beragama Islam, tidak perlu menjadi orang Arab”

Akhir kata seperti pesan yang dikesankan Presiden Jokowi, janganlah karena agama dan ideology tertutup menjadi alasan untuk memecah belah persatuan bangsa dan negara, berbanggalah menjadi bagian dari umat Islam pengikut Nabi Muhammad SAW dengan identitas bangsa Indonesia.

Demikianlah Kura Kura pendapat saya yang masih terus ber Pura Pura memahami permasalahan bangsa ini…Wassalam.

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage