Masih Maukah Dibohongi Pake Tamasya Al-Maidah ala Asma Dewi?

Masih Maukah Dibohongi Pake Tamasya Al-Maidah ala Asma Dewi?

13

Tamasya Al-Maidah sejatinya berbeda dengan surat Al-Maidah. Baik dalam segi hakikat maupun azas manfaat. Kalau dalam surat Al-Maidah mah sudah jelas. Tidak mungkin ada kebohongan di dalamnya. Mengingat kata-kata dalam surat Al-Maidah diyakini turun sebegitu langsung dari surga sana. Lah, kalau tamasya Al-Maidah? Sudah jelas itu bikinan manusia fana ala Ansufri Idrus Sambo, Asma Dewi dan kaum secingkrangan plus sepisangan.

Kata ‘tamasya’ menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) berarti pertunjukan atau tontonan. Bisa juga diartikan sebagai pemandangan yang indah-indah atau pemandangan alam. Ketika istilah ‘tamasya’ dipaksa melekat dengan Al-Maidah maka sangat mungkin berarti pertunjukan Al-Maidah atau tontonan Al-Maidah sebagai pemandangan yang indah. Wah, alangkah…

Nah, dalam praktiknya tamasya Al-Maidah tidak mempertontonkan tafsir Al-Maidah apalagi kesucian Firman Allah SWT yang diturunkan dari surga nan indah. Lalu apakah? Tidak lain tamasya Al-Maidah hanya kegiatan jalan-jalan ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) pada hari pencoblosan Pilkada putaran kedua DKI Jakarta, 19 April 2017 yang lalu. Meminjam gagasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tamasya berarti perjalanan yang menyenangkan. Pertanyaannya, se-menyenangkan apakah jalan-jalan ke TPS? Toh namanya TPS berbeda dengan kandang kambing sebagai tempat kesenangan Habib ‘super cabul’ Rizieq Shihab bersama Firza.

Karena itu tetap saja aneh ketika jalan-jalan ke TPS disebut tamasya Al-Maidah. Terlalu dipaksa sedemikian rupa ketika jalan-jalan ke TPS dilabeli tamasya Al-Maidah. Masya Allah, dah… Apalagi hal kayak gini belum pernah ada dalam hadits riwayat mana pun juga. Baik itu hadits yang sahih maupun hadits yang kurang begitu sahih. Tamasya Al-Maidah dalam sejarah Islam di Indonesia baru diriwayatkan oleh Ansufri Idrus Sambo, guru agama Islam Prabowo Subianto bersama Asma Dewi yang berbeda dengan Asmaul Husna.

Coba pikir setelah berdzikir, punya hubungan apa Al-Maidah dengan TPS-TPS di Jakarta? Kiranya hanya Jonru yang secara terharu dan mengharu-biru bisa mengaitkan secara terstruktur. Barangkali hanya bibir Fadli Zon yang secara membusa bisa menjelaskan secara sistematis. Atau kalau mau penjelasan secara masifnya diperkirakan hanya mampu dikerjakan oleh tokoh sekaliber Fahri Hamzah.

Sebagaimana diberitakan detik.com, ide tamasya Al-Maidah menurut Ketua Panitianya, Ustaz Ansufri Idrus Sambo, kegiatan ini digelar untuk mengawal semua tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh DKI Jakarta.

“Kita harapkan umat Islam untuk ke seluruh TPS di Jakarta yang jumlahnya 13 ribu. Di sana kita mengawal, memantau supaya pelaksanaan pilkada berjalan adil, jujur, dan demokratis,” kata Ansufri di Masjid Raya Al-Ittihaad, Jl Tebet Mas Indah I, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (14/4/2017).

Serasa makin nyleneh bin aneh ketika Ansufri secara berkelanjutan mengatakan bahwa pengawalan ini dibuat dalam konsep kumpul-kumpul untuk rekreasi dan silaturahmi. Kegiatan yang akan dilaksanakan pada 19 April itu akan dilaksanakan dalam bentuk yang menyenangkan.

“Namanya juga tamasya. Jadi kumpul-kumpul, rekreasi bersama keluarga, saudara, teman di TPS. Sembari silaturahmi. Ini dibuat sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan menyeramkan. Di situ melihat agar terselenggara pemilu yang demokratis,” tuturnya.

Nah, gampang ketahuan, bukan? Alangkah tidak nyambungnya antara ide tamasya dan hakikat surat Al-Maidah yang barokah. Jaka Sembung bawa amplas, blas ora nyambung, Bung.

Dengan kata lain, tamasya Al-Maidah tidak ubah sebagai aksi nyleneh orang mabok agama. Hanya untuk senang-senang dalam tataran duniawi, jalan-jalan ke TPS di DKI saja, ngapain juga bawa-bawa surat Al-Maidah? Terhadap pertanyaan yang sulit ini, insya Allah hanya Mama Dedeh yang punya solusinya.

Apalagi salah satu orang penting, koordinator tamasya Al-Maidah, si Asma Dewi terindikasi terlibat dalam kasus Saracen. Menurut berita yang beredar, Asma Dewi memakai jasa Saracen dengan mentransfer 75 juta untuk menyebar ujaran kebencian selama Pilkada DKI Jakarta. Harap maklum, posisi Asma Dewi adalah pendukung berat paslon Anies lengkap dengan kata Sandi-nya.

Liputan6.com menyebut bahwa Asma Dewi yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka, pernah menjadi koordinator aksi Tamasya Al-Maidah. Sebab, dalam akun Facebooknya, Asma Dewi kerap mengunggah konten terkait Tamasya Al-Maidah dan aksi lainnya.

Dikenal sebagai ibu rumah tangga, ternyata Asma Dewi aktif dalam gerakan aksi bela Islam yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu. Tidak tanggung-tanggung, dalam sebuah poster, nama Asma Dewi terpampang begitu menantang sebagai salah satu panitia Tamasya Al-Maidah yang dilaksanakan berbarengan dengan Pilkada DKI Jakarta putaran dua.

Kini, kenyataan demi kenyataan di balik kebusukan aksi-aksian terbongkar sudah. Keterlibatan Saracen dalam ujaran kebencian, terciduknya pentolan korek aksi bela Islam si Asma Dewi, menjelaskan kepada seluruh dunia betapa pembohongan dan pembodohan publik beratasnama agama adalah nyata. Mantra sakti Basuki: “Jangan mau dibohongi pake…”, ternyata benar sebenar-benarnya. Nah, hari gini masih juga mau dibohongi pake tamasya Al-Maidah ala Asma Dewi? Kalau gue mah ogah! Ogah pake banget hingga kemringet. Gusti ora sare, gitu loh

Referensi:

https://m.detik.com/news/berita/3474763/tamasya-al-maidah-jadi-digelar-diselenggarakan-di-seluruh-tps-dki

http://m.liputan6.com/news/read/3091446/polisi-dalami-peran-asma-dewi-jadi-koordinator-tamasya-al-maidah

Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage