Pak Ahok, Apa Kabarmu?

Pak Ahok, Apa Kabarmu?

7

Pak Ahok, apa kabar anda hari ini? Ketika saya mulai mengetikkan huruf pertama surat ini, mata saya mulai tergenang air mata. 10 hari sudah anda mendekam di balik jeruji besi, atas suatu tuduhan yang bagi saya sangat mengada-ada. Hari-hari saya dan hari-hari masyarakat di luar penjaramu, berjalan seperti biasa. Bekerja di kantor, berdagang di pasar, bersekolah, bertemu teman-teman, berjalan-jalan dan makan-makan.

Apa saja yang anda lakukan di dalam sana? Saya yakin anda pasti membaca buku. Ya, saya tahu, buku memang teman yang paling baik dan setia. Seperti dia yang telah menemani orang-orang lain yang kesepian, yang terenggut kebebasannya, yang tidak bisa ke mana-mana karena satu dan lain hal. Buku akan membawa jiwa dan pikiran kita keluar dari segala sekat yang membatasi raga kita. Ah, anda pasti sudah tahu itu.

Anda juga pasti memperdalam agama sesuai keyakinan anda. Karena kita ini memang hanya manusia lemah, Pak. Kita butuh tempat bergantung yang kuat, yang bisa kita andalkan kapanpun dan dalam kondisi bagaimanapun. Bukan manusia, bukan harta, kuasa dan jabatan. Tapi Dia yang menciptakan kita. Dari mana kita berasal dan kepada siapa kita akan kembali.

Pak Ahok, beberapa hari lalu saya membaca, anda tidak ingin lagi terlibat dengan hiruk-pikuk politik yang telah menjerumuskan anda ke titik paling nadir ini.

Pak, kalau anda memang berniat begitu, saya sungguh mengerti. Terlalu banyak yang sudah anda berikan, terlalu banyak yang sudah anda korbankan buat masyarakat ini, buat penduduk DKI terutama. Buat orang dengan kualitas seperti Bapak, saya yakin anda punya banyak pilihan yang akan bisa membawa anda dan keluarga anda lebih nyaman dan sejahtera. Bukan seperti sekarang ini. Dihujat, dicaci, diancam dibunuh, dipenjara. Buat apa anda harus melakukan dan menjalani ini semua, Pak? Buat siapa? Buat rakyat kecil yang hidup di bantaran kali? Buat anak-anak yang tidak punya biaya sekolah, apalagi untuk membeli tas dan sepatu yang layak? Buat orang-orang sakit yang tidak punya biaya untuk berobat? Buat karyawan yang bertempat tinggal di pinggiran Jakarta agar mereka bisa mendapat akses transportasi murah? Atau Bapak mau menjaga uang rakyat yang berupa APBD DKI itu, agar tidak dicuri dan dibuat bancakan oleh oknum-oknum anggota DPRD atau pemerintahan yang korup? Agar tidak dipakai untuk membeli USB, eh… UPS seharga kurang lebih 6 milyar lagi?

Pak, sebenarnya kalau anda diam-diam saja dan tidak usah repot-repot bekerja untuk rakyat, mungkin anda bisa hidup enak. Seperti gubernur-gubernur yang dulu saja, Pak. Tidak usah ngurusi banjir, tidak usah ngurusi rakyat miskin yang tidak bisa sekolah, tidak bisa berobat, tinggal di bantaran kali. Toh, mereka yang anda perjuangkan itu juga mungkin tidak mendukung Bapak. Terus Bapak juga tidak akan punya banyak musuh. Dan bisa jadi pundi-pundi uang Bapak akan cepat bertambah. Tidak tahu dari mana. Saya sering bingung juga melihat pejabat-pejabat itu bisa kaya raya, rumah dan mobilnya banyak, mewah semua. Istrinya juga banyak, mewah, eh… cantik semua.

Tapi Pak, kalau anda berbuat seperti usulan saya tadi, saya tidak akan mau menulis surat ini, apalagi menangisi dan mendoakan Bapak. Buat apa? Bapak akan sama saja dengan semua pejabat korup yang banyak omong itu. Pejabat yang berlomba naik ke pucuk jabatan dengan menghalalkan segala cara, dan setelah itu menghisap kekayaan negara seperti lintah penghisap darah.

Saya menangisi Bapak, mendoakan agar Bapak sehat, kuat dan ikhlas menerima ketidakadilan yang menimpa Bapak. Karena hanya itu yang saya bisa. Saya sering memikirkan sedang apa Bapak sekarang. Apa yang Bapak pikirkan di dalam sana. Karena yang sudah Bapak lakukan memang sangat istimewa. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Seperti bunga di antara semak? Atau seperti mutiara di dalam lumpur? Atau seperti Nemo kecil di tengah lautan? Terserahlah, apa saja yang dirasa tepat. Tapi orang seperti Bapak jarang sekali ada. Sedikiiiitt… sekali. Apalagi di Indonesia kita ini. Sebenarnya bukan tidak ada, tapi tidak kelihatan, tenggelam di antara orang-orang berkuasa tapi bermental penjajah bangsa sendiri. Mereka yang mencuri uang pajak kami, yang seharusnya dipakai untuk membangun negara ini, tapi malah dimasukkan kantong sendiri.

Kita harus melawan mereka-mereka yang menggunakan kekuasaan hanya untuk menebarkan jaring bisnisnya. Kita juga harus melawan kebodohan yang terus dipelihara di antara kami sendiri, agar tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk kepentingan oknum penjajah bangsa sendiri itu. Karena kebodohanlah yang membuat orang mudah dihasut dan diprovokasi. Segala berita yang ada di media langsung dianggap fakta, tanpa dianalisa kebenarannya. Karena kebodohan membuat orang tidak punya kemampuan untuk menganalisa. Akhirnya semua hoax dimakan mentah-mentah, semua ceramah dianggap sebagai kebenaran. Apalagi kalau semua itu dibungkus dengan agama. Dikatakan di tempat-tempat ibadah, oleh mereka yang berkostum agamis. Kebodohan juga yang membuat seseorang mudah percaya dengan segala yang tampak di permukaan saja. Asal pakai kostum yang terlihat seperti kostum orang sholeh, orang-orang akan langsung mengikuti segala perkataannya. Tidak peduli orang itu suka korupsi, atau suka main gila, atau suka menipu. Kok sekarang jadi mudah sekali ya, semua tinggal dibungkus dengan agama. Eh, tapi kostum orang sholeh itu seperti apa sih? Ah…, you know lah.

Dan tahukah Bapak, pengorbanan Bapak ini tidak akan sia-sia. Mulai muncul mereka-mereka yang berani bersuara, menginginkan Indonesia yang merdeka sekali lagi. Merdeka dari korupsi, dari segala bentuk diskriminasi, dari kebodohan yang membuat orang mudah dijejali informasi bohong dan hoax. Merdeka seperti cita-cita pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kali ini yang kita lawan memang lebih berat lagi. Karena kita melawan sesama kita yang punya mental penjajah bangsa sendiri.

Seperti yang pernah dikatakan Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.”

Dari pesan anda dari dalam penjara, yang disampaikan melalui Pak Djarot sahabat dan partner kerjamu, kami tahu bahwa anda sangat ikhlas menjalani ketidakadilan ini. Anda mengatakan anda rela menjadi korban untuk menjadikan ini momentum percepatan proses kita sebagai bangsa Indonesia yang sejati, yang tidak berpikir tentang seseorang itu berasal dari mana, apa agamanya, apa sukunya. Tapi berpikir tentang apa yang sudah ia kerjakan untuk bangsa ini.

Pak Ahok, bahkan remaja-remaja saja sekarang sudah bersuara. Ada seorang remaja putri dari Banyuwangi. Namanya Afi Nihaya Faradisa, kelahiran tahun 1998. Masih muda sekali. Tapi dia bisa menyuarakan aspirasinya yang sangat inspiratif, yang kemudian jadi viral. Dia menuliskan tentang toleransi dan kebhinekaan dengan sangat bagus.

WARISAN, Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa.

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”. Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”. Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa. Tapi tidak, kan? Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama. Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan. Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan. Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

http://regional.kompas.com/read/2017/05/18/19225301/ini.status.yang.membuat.akun.facebook.afi.tidak.bisa.dibuka?page=1

http://regional.kompas.com/read/2017/05/18/19225301/ini.status.yang.membuat.akun.facebook.afi.tidak.bisa.dibuka?page=2

Pak Ahok, yakinlah anda tidak sendiri. Banyak sekali orang di luar sini yang berdiri bersamamu, menemani dalam jalanmu, mendoakanmu, dan menjaga keluargamu. Orang-orang yang anda kenal maupun yang tidak anda kenal. Pak Djarot partner kerjamu, dan Pak Jokowi, Presiden kita, yang juga sahabatmu. Sahabat yang karena posisinya tidak akan menjengukmu di penjara, ataupun menghubungimu sekarang ini, karena sebagai presiden beliau harus netral, dan tidak ada yang bisa membantahnya bahwa beliau memang netral. Tapi saya yakin anda pun tahu, hati dan doanya selalu bersamamu.

Tetaplah tegak Pak… jangan padam, karena kami butuh anda berjuang bersama kami untuk Indonesia yang jauh lebih baik.

Share.

About Author

Seorang wanita yang ingin bercerita tentang cintanya pada Indonesia

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage