Pemerintah Anti Kritik?

Pemerintah Anti Kritik?

62

Jika anda berselancar di top search instagram, akan anda temui dua atau tiga akun dengan nama yang mirip mirip seperti laskar titik titik, jihad bla bla. Apakah akun ini teroganisir? Iya. Apakah akun ini penyebar kebencian? Bisa jadi. Dengan tertangkapanya saracen membuktikan bahwa bisnis penyebar kebencian itu real dan ada! Ternyata oh ternyata……

Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk care terhadap bangsa dan negara seperti sekarang ini. Melek politik juga baru baru aja kok ketika Jokowi naik jadi presiden. Kala itu hoax belum bermanuver kencang seperti sekarang, namun bibit-bibitnya sudah mulai terasa saat foto foto #prayforgaza mulai bermunculan.

Logika saya berkata ini bukan foto asli deh. Tapi membaca komentar pembaca yang mengiyakan mendorong naluri saya untuk mencari kebenaran lebih jauh. Benar! Tidak semua foto yang terpampang adalah asli, kebanyakan didramatisir supaya mendulang simpati dan mendapatkan banyak bantuan. trik ini juga dipakai di marketing kok. Salahnya dimana? Salah karena menggiring opini pembaca untuk membenci pihak satu dan mendewakan pihak lain. Ini bahaya! Sampai sini paham ya..

Seword Melawan Hoax

Desember 2016 terjadi kasus pembubaran paksa ibadah natal di Sabuga Bandung. Jujur darah saya mendidih sampai ke ubun-ubun! Tenggorokan saya cekat karena menahan emosi yang meledak-ledak. Tau kan rasanya nahan emosi itu? kaya nelan biji kedondong!

Tak kuasa menahan emosi, saya pun menelurkan artikel perdana saya di seword Desember 2016 https://seword.com/politik/dalam-segala-hal-kami-ditindas-namun-tidak-terjepit/. Saya melihat hoax semakin merajalela dan makin cantik permainannya. Kalau anda sudah biasa belanja di pasar tradisional, anda otomatis jeli menilai pedagang mana yang jujur dan yang tidak, hanya dengan melihat dagangannya saja. Itupun yang terjadi di saya. Hanya dengan melihat postingannya saja, kita bisa scanning mana yang kaum sempak dan mana yang tidak.

Kini Seword hadir untuk melawan derasnya hoax di Indonesia. Memang tidak sebanyak peluh dan darah yang ditumpahkan pejuang di medan perang, tapi minimal we do something! karena rupanya medan perang masa kini bukan lagi hutan rimba, tapi media sosial. Memang kami jauh dari kata sempurna, at least kami tidak menghina ilmu pengetahuan karena bumi itu bulat adanya dari jaman dahulu kala tidak berubah menjadi datar apalagi limas dan trapesium.

Kami hadir memaparkan opini dan analisa dengan mengedepankan FAKTA DAN DATA, kami menawarkan solusi dan menyampaikan aspirasi disertai pertimbangan-pertimbangan LOGIS. Bukan sekedar permainan kata-kata yang mencampur adukkan emosi pembaca, apalagi perhitungan angka ngawur bin ngaco, padahal kenyataannya adalah HOAX HOAX HOAX HOAX.

Gahar kok di medsos aja?

Teman teman saya yang Muslim Nusantara banyak, tapi ada juga sih yang berada di irisan sumbu pendek dan mabok agama. Rata-rata isi postingannya adalah copast atau hasil share dari akun medsos lainnya. Dan mereka kalau bikin caption asli sereeeemmm seperti mau nelan orang.

Komentarnya pun tak kalah pedas dan bernyali. Ya semua orang tiba-tiba punya nyali ika tidak berhadapan langsung. Tapi percayalah mereka tidak akan berani jika sendiri. Buktinya selalu datang bergerombol bawa emak-emak dan bocah-bocah. Buktinya lagi, selalu bawa parang dan toa. Kalau berani tangan kosong dong tong! Nyahahahaha!!

Pemerintah Anti Kritik?

Kriitk sih boleh boleh aja, bagus malah untuk menciptakan trust antara masyarakat dengan pemerintah. Tapi mbok ya kalau mau kritik itu yang nyambung dengan profesi, track record, minimal menyangkut apa yang ditekuni orang tersebut. Kalau anda mau kritik pemerintah, kritik kinerjanya. Kalau anda mau kritik Raisa, ya kritik suaranya kek bukan pesta pernikahannya. Kan Raisa penyanyi. Kalau mau kritik pesta pernikahannya kritik Wedding Organizer nya dong! Nah ini mau kritik (baca : menghakimi) Bu Iriana soal jilbab katanya seperti p****ur. Lah apa hubungannya tong!

Tak hanya sampai situ. yang bikin saya ngakak jungkir balik itu komentar kaum bumi datar. Ingat saat tayangan ILC menghadirkan Jonru? Jonru mengakui menulis status soal “Keluarga Jokowi yang tidak jelas asal-usulnya, ibunya siapa”. Beberapa orang (entah follower atau bukan) berdalih Jonru hanya menyampaikan aspirasi dan pendapat. Tiap orang bebas berpendapat karena itu hak konstitusi. Ini Jonru manusia yang nggak pernah diajarin etika berpendapat kayaknya.

Pendapat dan kritik yang baik adalah yang disampaikan berdasarkan fakta dan data, serta mengedepankan etika berbicara, mengandung unsur kepatutan dan kepantasan saat disampaikan di depan umum.

Apa bisa saya mengatakan Jonru adalah orang gagal dan mencuri uang yayasan amal. Uppsss maaf saya hanya berpendapat. Apa bisa saya mengatakan Anies maling uang kementrian pendidikan. upss saya hanya berpendapat. Kan pekok!

Hampir semua “pendapat” versi bumi datar ini beda tipis dengan ftinah dan kebohongan. Bagi mereka menyuarakan fitnah sama seperti menyuarakan keadilan. Entah dengan cara fitnah atau hoax pokoknya udah bersuara. Titik! Pemerintah harus dengar.

Emang lo siapa?

Kalau lo masih hidup di jaman Soeharto, taukan nasib lo berakhir dimana? Jangan tanya saya, tanya sejarah!

Share.

About Author

Jika ya katakan ya. Jika tidak katakan tidak, lain daripada itu berasal dari si jahat. WA 08115911580

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage