Pondok Indah Mertua –

Pondok Indah Mertua –

0

Kebetulan ada saudara yang hendak menikah, saya jadi tergelitik untuk menulis tentang Pondok Mertua Indah. Saudara saya (laki-laki) ini sedang galau, setelah menikah apakah sebaiknya tinggal di rumah sendiri atau tetap tinggal di rumah orang tuanya. Calon istrinya beranggapan bahwa setelah menikah, sebaiknya tinggal di rumah sendiri, terpisah dari orang tua. Di lain sisi, orang tuanya ingin anaknya tetap tinggal di rumah tersebut.

Ini adalah persoalan klasik bagi banyak pasangan suami istri. Konflik anak ingin mandiri, dan orang tua yang tidak rela ditinggalkan menjadi perdebatan yang tidak pernah ada habisnya. Saya pribadi beranggapan bahwa setelah menikah memang sebaiknya suami istri tinggal terpisah dari orang tua. Bagaimanapun kondisi ekonomi mereka, tetap akan lebih baik jika mereka memiliki ‘ruang’ sendiri. Membangun sebuah rumah tangga, bagi saya ibarat membangun sebuah negara. Suami istri adalah kepala pemerintahan. Mereka akan membentuk sistem pemerintahannya sendiri. Tinggal di rumah orang tua, yang berlaku adalah aturan orang tua. Kecenderungan yang umum terjadi ketika terjadi perbedaan pendapat dan anak / menantu bersikukuh dengan pendapatnya, orang tua akan merasa tersinggung.

Ada anggapan bahwa ‘menantu tetaplah menantu’. Konflik anak-orang tua lebih mudah diatasi dibandingkan dengan konflik menantu-mertua. Semarah-marahnya anak atau orang tua, mereka merasa akan lebih mudah memaafkan dan melupakan pertikaian yang terjadi. Sementara jika yang berkonflik adalah mertua dan menantu, masalah sepele bisa jadi besar dan menjadi berlarut-larut. Dan tidak jarang konflik mertua menantu berimbas pada hubungan suami istri.

Dari pengamatan yang saya lakukan, konflik mertua menantu, lebih jarang ditemukan pada pasangan suami istri yang tinggal bersama orang tua dari pihak istri. Suami bekerja, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Selain itu, laki-laki memiliki kecenderungan bersikap cuek pada  urusan rumah tangga. Sehingga konflik mertua menantu lebih mudah diredam. Pada pasangan suami istri yang tinggal bersama dengan orang tua dari suami, istri tidak bekerja (ibu rumah tangga), mertua menantu lebih banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Jika terjadi ketidakcocokkan dan tidak diselesaikan, akan berimbas ke hal-hal lainnya, persoalan yang tadinya kecil akan menjadi besar.

Banyak orang tua yang ingin anaknya segera menikah, memberi mereka cucu, tapi tidak siap untuk melepas anaknya keluar rumah, menjadi mandiri. Mereka takut ditinggalkan, mereka takut dilupakan, mereka takut hidup sendiri. Banyak orang tua yang memiliki pemikiran bahwa jika anak sayang, maka harus menunjukkan tanda baktinya dengan merawat saat orang tua telah berusia lanjut. Ini juga menjadi alasan bagi sebagian besar orang, memiliki anak supaya ada yang merawat di masa tuanya.
Setiap anak adalah unik, dan saya percaya tiap anak memiliki caranya masing-masing dalam menunjukkan rasa sayang dan baktinya. Tidak tinggal bersama dengan orang bukan berarti anak tidak berbakti dan tidak peduli pada orang tuanya. Di lain sisi seharusnya orang tua merasa bangga bahwa anak yang selama ini mereka rawat dan didik dapat hidup dengan mandiri, dapat hidup dengan bertanggung jawab membina keluarganya. Ketika anak menikah, sangatlah wajar waktu untuk bersama dengan orang tua menjadi berkurang tidak sama seperti saat mereka belum menikah. Ada rumah tangga yang harus mereka bina, mereka pelihara.

Saat menikah, saya dan suami tinggal di rumah sendiri. Kemudian saat hamil anak pertama, saya memutuskan tinggal bersama dengan ibu saya. Itu pun melalui banyak pertimbangan. Kehamilan saya cukup bermasalah, sementara suami bekerja di luar kota, dengan jam kerja dari pagi sampai malam sehingga tidak memungkinkan untuk pulang setiap hari. Dari pihak Ibu saya sendiri, beliau tidak pernah meminta, mewajibkan kami anak-anaknya untuk tinggal bersama beliau supaya kami bisa merawatnya. Bagi beliau, kami bisa mandiri, hidup dengan berkecukupan tanpa merepotkan beliau itu sudah lebih dari cukup. Kalaupun hari ini saya tinggal dengan beliau, saya ingin merawat beliau di hari tuanya, itu semua murni keinginan saya sendiri. Bukan karena permintaan beliau.

Saya beberapa kali membahas topik ini dengan suami. Kami tidak akan pernah mengarahkan anak-anak kami untuk menjadi tempat bergantung kami saat kami tua nanti. Alih-alih bergantung pada anak, kami lebih suka mempersiapkan sendiri dana untuk masa tua kami, kegitan apa yang akan kami lakukan saat kami tidak bekerja lagi, sehingga kami tidak perlu merepotkan anak-anak. Saya percaya jika kami membesarkan, mendidik anak dengan baik, tanpa kami minta, mereka akan berbakti dengan sendirinya pada kami. Bagaimana caranya? Kami serahkan kembali pada mereka.

Salam,
_/|\_

Share.

About Author

Praktisi hipnoterapis, pecinta buku, suka menulis sebagai salah satu media katarsis. Saya suka membaca dan mendengarkan kisah hidup orahg lain, karena dari kisah hidup mereka saya bisa belajar tentang banyak hal.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage