(Selamat Hari Kartini) “Marsinah” Si Kartini yang Dibungkam

(Selamat Hari Kartini) “Marsinah” Si Kartini yang Dibungkam

1

 

 

 

Ibu Kita Kartini
(WR Supratman)

Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya

Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini, putri jauhari
Putri yang berjasa, se-Indonesia

Ibu kita Kartini, putri yang suci
Putri yang merdeka cita-citanya

Wahai ibu kita kartini
putri yang mulia
sungguh besar cita-citanya bagi indonesia

Ibu kita Kartini, pendekar putri
Pendekar kaum ibu Tanah Airku

Ibu kita Kartini, penyuluh budi
Penyuluh kaumnya kar’na cintanya

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia

 

 

Histori singkat perjuangan Kartini.

Berawal ketika ia yang berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya setelah sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) dimana ia juga belajar bahasa Belanda. Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari orang yang paling dekat dengannya, yaitu ayahnya sendiri. Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun, berarti ia sudah bisa dipingit. Selama masa ia tinggal di rumah, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda, dimana ia kemudian mengenal Rosa Abendanon yang sering mendukung apapun yang direncanakan Kartini. Dari Abendanon jugalah Kartini kecil mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yaitu tentang bagaimana wanita-wanita Eropa mampu berpikir sangat maju. Api tersebut menjadi semakin besar karena ia melihat perempuan-perempuan Indonesia ada pada strata sosial yang amat rendah.

 

Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paketan majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil sering juga mengirimkan beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Melalui surat-surat yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil, dan tak jarang juga dalam suratnya Kartini menyebut judul sebuah karangan atau hanya mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca. Sebelum Kartini menginjak umur 20 tahun, ia sudah membaca buku-buku seperti De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, hasil buah pemikiran Van Eeden, roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Nieder yang merupakan roman anti-perang tulisan Berta Von Suttner. Semua buku-buku yang ia baca berbahasa Belanda.

Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dipaksa menikah dengan bupati Rembang oleh orangtuanya. Bupati yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat ini sebelumnya sudah memiliki istri, namun ternyata suaminya sangat mengerti cita-cita Kartini dan memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita. Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya 4 hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun. (PortalSejarah).

 

Makna hari Kartini yang diperingati tanggal 21 April setiap tahunnya hendaknya bukan menjadi ritual upacara peringatan semata, makna hari Kartini sangatlah besar, khususnya bagi perempuan. Kartini mampu menunjukkan pada dunia, bahwa perempuan Indonesia bukanlah lemah. Banyak pesan dan harapan yang disampaikan lewat perjuangan yang telah dibangun oleh seorang Kartini muda semasa hidupnya.

Di era digital ataupun post-modern, peran adanya peringatan hari Kartini harus menjadi kebanggaan tersendiri karena Kartini menjadi pelopor untuk sebuah kemajuan wanita terutama di Indonesia. Dengan hal itu makna hari Kartini bukan hanya menjadi upacara perayaan semata. Tetapi meneruskan api semangat perjuangannya.

 

Marsiniah si Kartini yang Dibungkam di Era Orba.

Di era Orba, semangat Kartini untuk mengangkat martabat perempuan, membara dalam diri Marsinah.  Marsinah (lahir di Nglundo, 10 April 1969 – meninggal 8 Mei 1993 pada umur 24 tahun) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di dusun Jegong, desa Wilangan dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

 

Marsinah adalah wajah pejuang wanita di era modern. Ia merupakan seorang buruh yang ditemukan tewas di sebuah gubuk di tepi sawah Desa Wilangan, Jawa Timur, pasca melakukan aksi mogok terhadap sebuah perusahaan arloji. Marsinah, bersama sejumlah buruh lain, menjadi perwakilan untuk melakukan aksi runding dalam rangka menuntut perbaikan nasib yang merupakan hak kaum buruh. Di malam perundingan itu, Marsinah kemudian justru hilang, sebelum lantas ditemukan dalam keadaan nahas tersebut. Sampai hari ini, dalang dari kejahatan kelas ini masih simpang siur.

 

MARSINAH adalah Kartini yg dibungkam.
Dia seorang buruh perempuan, yang bernasib sama dengan Munir dan Whiji Tukul serta aktivis lainnya yg hilang ataupun dibunuh. Marsinah lantang menyuarakan kebenaran dan menuntut upah buruh yang layak kala itu. Ia menyuarakan tuntutan agar buruh sejahtera khususnya kaum perempuan, dan dia akhirnya ditemukan tewas. Hingga saat ini kasus Marsinah dan yang lainnya seperti Munir dan Whiji Tukul, tidak dituntaskan.

Marsinah buruh perempuan yang “melawan” dalam dirinya membara semangat Kartini dan tidak mau ditindas begitu saja, berjuang untuk dirinya dan teman-temannya sesama buruh, harus tewas dengan cara yg keji dengan tubuh penuh luka dan kemaluan yg ditembak moncong senjata.

24 tahun sudah berlalu, hampir setiap 1 Mei (hari buruh sedunia), tidak sedikit buruh perempuan menabur bunga untuk Marsinah, si Kartini yg dibungkam. Dan sampai saat ini kasusnya tidak diselesaikan, sebelumnya di era Gusdur kasus Marsinah mau diselesaikan secara tuntas, akan tetapi Gusdur harus lengser oleh konspirasi yg diotaki Amien Rais cs.

 

Perempuan Indonesia menjaga semangat Kartini bukan diartikan dengan mengangkat senjata, Susi Susanti yang mengharumkan nama Indonesia lewat Olahraga juga menunjukkan bahwa api semangat perjuangan perempuan Indonesia itu menyala-nyala.

 

Mengutif kata seorang filsuf, dari Nietzsche  : “Barangkali, Kebenaran itu adalah seorang Wanita, yang terbentuk untuk tidak memperlihatkan dasarnya”.

 

Semoga negara saat ini mendukung perjuangan perempuan Indonesia, baik bidang pekerjaan, pendidikan, seni, olahraga, kesehatan dan sebagainya.

 

Cukuplah Marsinah yang harus dibungkam dan tewas dibunuh saat memperjuangkan keadilan dan melawan penindasan di era Orba, yang kini orba hendak bangkit lagi, dapat kita lihat dimana nama Cendana kembali muncul di Pilkada Ibu Kota.

 

Akhir kata hari ini pada tanggal 21 April kita ucapkan “Selamat Hari Kartini”.

 

 

Perempuan Indonesia Raya Lah!

Habis Gelap Terbitlah Terang

 

Salam cantik, Losa Seword.com

 

Share.

About Author

Aku adalah bukan kamu. Dan ternyata dialektika itu "seksi". / FB : Losa Terjal

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage