Semua Akan Tercyduk Pada Waktunya. Penghina Ibu Negara “Seperti Pelacur”Ditangkap

Semua Akan Tercyduk Pada Waktunya. Penghina Ibu Negara “Seperti Pelacur”Ditangkap

192

Selama ini sudah ada begitu banyak hinaan ditujukan untuk Presiden Jokowi yang bisa kita baca berkeliaran dengan bebas di medsos. Mulai dari kritikan untuk mengungkapkan ketidakpuasan, sampai hujatan yang benar-benar membuat panas mata, telinga, hati dan pikiran orang-orang yang membacanya. Hujatan yang mencerminkan dengan jelas kebencian tak berujung dari pengunggahnya.

Tak jarang kata-kata kebencian itu diposting disertai dengan gambar-gambar yang sangat tidak pantas ditujukan kepada siapapun juga apalagi untuk seorang Presiden sebagai pemimpin yang sah di negara ini. Tak terasa hati ini ikut pedih dan tidak terima dengan semua hujatan yang “kalian” tujukan untuk seorang Presiden sederhana yang sudah nyata-nyata bekerja giat untuk kemajuan bangsa dan negara ini.

Dengan sadar “kalian” membutakan hati dan pikiran tak mau melihat bertapa bersahajanya Presiden Jokowi dan keluarganya. Terlepas dari kekurangan yang pasti dimiliki beliau beserta keluarganya, tuduhan dan makian yang “kalian” timpakan pada beliau sudah sangat kelewatan melebihi batas kesopanan yang ada.

Dengan sengaja pula “kalian” menutup mata jasmani dan mata hati, tak mau tahu betapa banyaknya perubahan positif yang sangat signifikan yang sudah terjadi di negara ini. Pembangunan infrastruktur dimana-mana “kalian” abaikan. Mengabaikan tapi ikut memakai. Aiiiihhh…… Sambil nyinyirin Pakdhe, “kalian” melenggang bebas memakai fasilitas-fasilitas yang sudah beliau dan segenap jajarannya usahakan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pernahkah “kalian” berkaca pada diri sendiri??? Sudah sempurnakah “kalian”??? Tak punya kekurangankah “kalian”??? Prestasi apa yang sudah “kalian” berikan untuk negara ini???

Dan sekarang tingkah “kalian” semakin tidak masuk akal. Sangat memprihatinkan sekaligus menjijikkan. Bagaimana bisa bangsa yang mengaku ber-Tuhan dan beragama ini semakin hari tingkah lakunya semakin tidak mencerminkan ke-Tuhanan dan keagamaan itu sendiri.

Saat ini sudah bukan hal mengherankan lagi jika rumah ibadah yang adalah rumah Tuhan dipakai untuk berkampanye sambil menyebarkan ujaran-ujaran kebencian kepada lawan politik dan orang-orang yang “tidak sama” dengan dirinya dan golongannya.

Media sosial menjadi ajang pesta pora mengumbar hawa nafsu terutama nafsu kebencian. Dibisniskan pula. Colek Saracen. Benar-benar kebencian yang sudah mendarah daging yang sulit disembuhkan.

Padahal Tuhan itu kasih. Tuhan melarang kita untuk membenci. Lalu tuhan manakah yang “kalian” ikuti selama ini??? Jelas dia bukanlah TUHAN. Karena memang sudah jelas bahwa pribadi Tuhan itu Maha Kasih dan Maha Penyayang. Sementara sikap “kalian” baik tutur kata maupun perbuatan sangat jauh dari kasih sayang itu sendiri.

Tak terasa airmata ini turun secara otomatis saat membaca sebuah postingan di medsos yang menyamakan Ibu Negara, Ibu Iriana Joko Widodo seperti seorang pelacur.

“Ibu ini seperti PELACUR pakai jilbab hanya untuk menutup aib. (Bukan Karena Iman) COMING SOON 2019”

Astagaaaa…….. Entah setan apa yang sedang merasuki pengunggahnya sampai dia tega berbuat sejahat itu pada Ibu Negara yang sebetulnya tak punya masalah apapun dengan dia. Kenal sajapun tidak.

Tak ada manusia siapapun juga di muka bumi ini yang berhak menghakimi kadar iman seseorang selain Tuhan itu sendiri. Begitu sok jagonya “kalian” berlagak jadi Tuhan. Dengan sadar “kalian” mengambil posisi Tuhan saat berani menghakimi orang lain seperti ini. Sementara diri “kalian” sendiri belum tentu suci atau lebih suci dari Ibu Iriana. Malah sudah jelas sikap “kalian” mencerminkan wajah penuh kebencian yang adalah wajah iblis itu sendiri sebagai bapak pembenci. Jangan ngaku-ngaku sebagai umat Tuhan jika justru iblis itu sendiri yang kalian ikuti.

Kapankah “kalian” mau menyadari ini semua??? Sampai kapan pula hati yang seharusnya dipenuhi kasih Allah malah diisi full dengan kebencian tak berujung???

Akupun menguji diriku sendiri.

Jujur aku memang mendukung Jokowi. Di mataku Jokowi adalah orang yang cerdas tapi sederhana. Jokowi punya tekad dan kemauan yang sangat kuat untuk memajukan negara dengan cara yang jujur dan bersih. Wajahnya yang ndeso dan plonga-plongo sama sekali tidak mengurangi kecerdikannya dalam menjalankan bidak catur perpolitikannya di negara ini.

Strategi, visi, misi, tujuan jangka pendek maupun jangka panjang yang dirancang Jokowi banyak yang membuat aku terperangah saat bisa menyadari apa maksud beliau melakukan itu semua. Akupun sering terenyuh dengan kepolosan Jokowi menjalani dunia politik yang kejam menghantam beliau setiap waktu.

Jokowi cerdik seperti ular namun tulus seperti merpati. Itulah alasan kenapa aku begitu mencintai beliau. Akupun tak pernah mempermasalahkan perbedaan SARA diantara kami. Doa-doa yang aku naikkan untuk beliau tak terasa sering pula disertai dengan cucuran airmata. Tak tahan rasanya melihat cara “kalian” memperlakukan beliau dengan tidak adil seperti ini.

Namun dengan kecintaanku pada Jokowi, sama sekali tidak membuat aku berminat menghina dan memfitnah lawan politik Jokowi. Sama sekali tak ada terbersit niat semacam itu sekalipun cuma di dalam hati, apalagi menuangkannya dalam bentuk tulisan dan gambar-gambar yang tidak pantas seperti yang sudah “kalian” lakukan pada Jokowi dan keluarganya selama ini.

Lantas kenapa “kalian” begitu tega??? Sudah matikah hati nurani “kalian” sehingga tak lagi bisa membedakan mana sikap yang baik dan yang buruk??? Masih perlukah diterangkan bahwa hate speech is not freedom of speech??? Ujaran kebencian bukanlah kebebasan berbicara. Pahamkan itu wahai bangsa Indonesia yang mengaku sebagai bangsa yang ber-Tuhan dan beragama.

Tak pernah ada kata terlambat untuk orang-orang yang mau bertobat dan menyadari kesalahannya. Mari isi hati ini dengan kasih. Bukan dengan kebencian. Bagikan kasih Tuhan itu pada semua orang tanpa terkecuali. Bukan hal yang sulit jika kita memang punya niat dan kemauan. Jika ada kritik untuk Presiden Jokowi beserta jajarannya, sampaikan semua itu dengan cara yang membangun dan elegan. Bukan dengan cara mengerikan ala setan yang suka menjatuhkan begini.

Dukung sepenuh pemerintah yang sah dalam doa dan kerja yang nyata. Bukan malah nyinyir, menghujat dan memfitnah seperti yang sudah-sudah. Tugas kita sebagai anak-anak bangsa adalah menjaga kehormatan Ibu Pertiwi termasuk pula menjaga kehormatan Ibu Negara sebagai isteri pemimpin di negara ini. Menghina Bu Iriana sama saja dengan menghina ibu kita sendiri. Betapa durhakanya sikap semacam itu. Benar-benar sikap yang tak bermoral. Tuhan dan agama manapun tak pernah mengajarkannya.

Akupun semakin terenyuh dengan sikap yang ditunjukkan putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka menanggapi postingan yang sangat menghina martabat ibunya ini. Di luar dugaan, komentar Gibran sangat singkat.

“Biarin. Dimaafkan aja”.

Cuma orang-orang berhati lapang yang mampu melakukan itu semua. Atau akankah “kalian” berpikir Mas Gibran mengucapkan itu semua dengan enteng tanpa beban hati dan pikiran???

Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa sebetulnya hati Mas Gibranpun terluka. Tapi sikap yang diajarkan ayahnya selama ini memang tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Presiden Jokowi selama ini memang sama sekali tidak pernah membalas hujatan yang ditujukan padanya. Tak pernah ada satupun yang dibalasnya. Semuanya Pak Jokowi telan dengan penuh keikhlasan.

Semua itu jelas tidak mudah untuk beliau lakukan. Ada tanda perobekan daging setiap kali diri ini ingin melampiaskan emosi tapi harus menahannya demi kepentingan bersama. Benar-benar penguasaan diri yang tak mudah dijalani oleh siapapun juga yang masih berstatus sebagai manusia biasa.

Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin bisa aku lihat dengan jelas dari Pak Jokowi berserta keluarganya. Karena itu akupun tak pernah ragu untuk menuliskan bahwa Ke-Islaman seorang Jokowi sudah dan sangat memberkati Ke-Kristenanku. Banyak pelajaran berharga yang bisa aku teladani dari seorang Joko Widodo beserta keluarganya.

Satu keyakinanku. GUSTI ORA SARE. Hukum tabur tuai tetap akan berlaku. Siapa menabur angin, dia sendiri jugalah yang akan menuai badai. Semua akan tercyduk pada waktunya. Aku percaya itu.

Dan terbukti, pada 11 September 2017 sekitar pukul 20.00 WIB, polisi menangkap Dodik Ihwanto 21 tahun, pria yang menghina Ibu Iriana. Dodik ditangkap di rumah kedua orang tuanya di Palembang. Dodik yang berprofesi sebagai mahasiswa ini ditangkap atas dugaan melakukan hate speech di media sosial lewat akun @warga_biasa dengan menuliskan Ibu Iriana “seperti pelacur”. Penangkapan dilakukan oleh Kasat Reskrim Polres Bandung AKBP Yoris Marzuki yang berangkat langsung ke Palembang.

Dan akhirnya akupun sampai pada satu kesimpulan, semakin “kalian” membenci Jokowi dan keluarganya, semakin aku akan menyayangi dan mendoakan mereka setulus hati. Tak akan pernah aku sesali setiap tetes air mata yang sudah aku tumpahkan untuk mereka juga untuk negeri ini.

“Ibu Iriana, maafkan kami anak-anak bangsa yang tak bisa menjaga kehormatanmu. Doaku setulus hati, saat ada manusia yang merendahkanmu, maka Tuhan akan menaikkan derajadmu. Amin.”

“Bapak, sehat dan bahagialah selalu bersama seluruh keluargamu. Hikmat dan kebijaksanaan menjadi bagianmu dan seluruh jajaranmu untuk bisa membawa Indonesia semakin baik kedepannya. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal kiranya menyertai dan mengikutimu seumur hidupmu. Tuhan memberkatimu. Tuhan memberkati Indonesia. Amin.”

 

Sumber referensi:

http://www.revublik.com/2017/09/terbongkar-inilah-sosok-penghina-ibu.html

http://www.cerianews.com/2017/09/ibu-negara-iriana-dihina-seperti.html

https://kumparan.com/indra-subagja/pria-yang-hina-iriana-jokowi-di-instagram-ditangkap

Silakan klik link berikut untuk bisa mendapatkan artikel-artikel saya yang lainnya

https://seword.com/author/jemi/

Thank you so much guys. Peace on earth as in Heaven. Amen.

Share.

About Author

I believe, if you work really hard and you are kind, amazing things will happen.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage