Tafsir Alternatif Ayat 51 Al Maidah

Tafsir Alternatif Ayat 51 Al Maidah

6

Belakangan ini rivalitas politik berubah menjadi polemik penafsiran ayat. Karena salah satu pihak terlihat gigih menggunakan isu agama, terutama ayat suci sebagai cara berpolitik dan mendukung pilihannya, keseimbangan hilang dan dominasi terhadap tafsir ayat seakan diterima sebagai hukum qath’i. Akibatnya, semua zona  toleransi digusur dan setiap suara kritis dibungkam dengan vonis, stigma dan  hatespeech.

Kata “waali” (والي) dalam bahasa Arab yang dipakai dalam konteks waali Kufah (والي الكوفة) yang berarti gubernur Kufah juga waali Basrah (والي البصرة) adalah kata Arab yang bentuk jamaknya adalah وُلاة (wulaat).

Kata waali (dengan alif setelah wau) ini dipakai dalam Al-Qur’an sekali saja, yaitu pada Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang bunyinya:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ ۗ إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Kata waali pada ayat tersebut di atas bermakna “pelindung”.

Kata waliyy yang banyak disebut dalam Al-Qur’an termasuk dalam surah Al-Maidah ayat 51, adalah kata wali (tanpa alif) yaitu “وليّ” yang bentuk jamaknya adalah awliya’ (أولياء) yang bisa bermakna kekasih, pengayom/pelindung, pengurus atau pemimpin.

Makna auliya (أَوْلِيَاءَ) adalah walijah (وَلِيجةُ) yang maknanya: “orang kepercayaan, yang khusus dan dekat” (lihat, Lisaanul ‘Arab). Auliya dalam bentuk jamak dari wali (ولي), yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan (Aysar At-Tafasir, 305). “Awliya’ullah” (para wali Allah) jelaslah tidak berarti “para pemimpin Allah”.

Sedangkan waliyy yang bermakna “pemimpin” disebutkan dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Maidah ayat 55 mengunci makna kepemimpinan untuk tiga pihak (Allah, Rasul dan Washi). Mari kita simak ayat tersebut,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’. (QS. Al-Maidah [5]: 55)

Kata “إنَّما” di awal ayat ini berarti “hanya”. Pembatasan itu adalah petunjuk yang jelas, bahwa menurut Al-Qur’an tidak ada pemimpin kecuali pihak-pihak yang disebutkan dalam ayat tersebut, yaitu Allah, Rasul-Nya dan orang beriman dengan kondisi khas seperti yang tertera dalam ayat itu. Melihat kata “wali” pada ayat di atas (Al-Maidah ayat 55), bisa kita simpulkan bahwa kriteria kepemimpinan dalam Al-Qur’an bahkan menuntut lebih dari sekadar Muslim atau Mukmin saja.

Karena pemimpin menuntut ketaatan yang mutlak dari pengikutnya, karena posisi yang disejajarkan dengan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, maka selain harus Muslim dan Mukmin, dia juga harus suci yang berarti terjaga dari kesalahan dan dosa. Tanpa syarat kesucian, ajaran suci tak akan terjaga dalam kesucian.

Ketaatan vertikal inilah yang ditekankan dalam Surah An-Nisa’ ayat 59 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Atas dasar itu, polemik dan kontroversi seputar isu surah Al-Maidah ayat 51 atau pun ayat lain yang mengandung kata waliyy atau awliya’ yang dijadikan dalil dilarangnya memilih gubernur Non Muslim tidaklah akurat dari berbagai sisi, karena alasan-alasan sebagai berikut:

Alasan pertama

Adapun yang disampaikan oleh sebagian orang bahwa menafsirkan wilayah dalam ayat 51 Al-Maidah sebagai cinta dan kebergantungan adalah kesalahan, maka hal itu ditolak oleh teks (semantik) dan konteks asbab nuzul-nya serta situasi umum umat Islam dan Ahlul Kitab saat masa ayat itu diturunkan. Marilah kita simak ayat tersebut:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَہُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَ‌ۘ بَعۡضُہُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ۬‌ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُ ۥ مِنۡہُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin [mu]; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah [5]: 51)

 

Wilayah pada ayat ini mengandung konotasi makna umum, yaitu kecintaan.

Bagaimana mungkin ayat لَا تَتَّخِذُو dipahami sebagai kepemimpinan tanpa mengaitkannya dengan bagian lain dari ayat itu, بَعۡضُہُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ۬ (sebagian mereka bertawalli bagi sebagian yang lain), yang secara aksiomatis hanya memuat arti mutualisme. Sedangkan kepemimpinan tidak bersifat mutual, tapi bottom up/vertikal. Mutualisme hanya bisa dipahami dalam makna saling mencintai bukan saling memimpin. Karena itu, ayat ini hanya bisa ditafsirkan sebagai larangan untuk menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai patron/sekutu.

 

Sedangkan ayat selanjutnya yang berbunyi, وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُ ۥ مِنۡہُمۡ‌ۗ (Barangsiapa di antara kamu bertawalli kepada mereka, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka), hanya bermakna cinta, karena cintalah yang mempertemukan seseorang dengan orang lain dan menjadi alasan untuk dianggap sebagai bagian dari mereka. Disebutkan dalam riwayat, man ahabba qauman fa huwa minhum (siapa mencintai kaum, dia tergolong dari mereka) dan al-mar’u ma’a man ahabb (seseorang bersama yang dicintainya). Makna wilayah sebagai arti cinta ini juga didukung oleh beberapa ayat berikut ini:

 

  1. Al-Mumtahanah [60] ayat 1:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡہِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَقَدۡ كَفَرُواْ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلۡحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka karena cinta; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, (QS. Al-Mumtahanah [60]: 1) hingga beberapa ayat berikutnya:

وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Mumtahanah [60}: 9)

 

  1. Al-Mumtahanah [60] ayat 22:

 

لَّا تَجِدُ قَوۡمً۬ا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَلَوۡ ڪَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٲنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَہُمۡ‌ۚ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.

 

  1. Ali ‘Imran [3] ayat 28:

لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِى شَىۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَٮٰةً۬‌ۗ وَيُحَذِّرُڪُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُ ۥ‌ۗ

Janganlah orang-orang mu’min menjadikan orang-orang kafir sebagai wali [2] dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena [siasat]memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri [siksa]-Nya.

Alasan kedua

Berdasarkan istilah Al-Qur’an posisi gubernur bukanlah pemimpin karena ia merupakan produk kontrak sosial dalam sebuah konstitusi. Makna pemimpin menurut Al-Qur’an sudah dibatasi dan bukan sebagai subjek pilihan, karena syarat kesucian yang membatasinya sebagai konsekuensi posisinya yang sakral. Selama bukan Allah atau Rasul-Nya dan bukan Mukmin par excellent, maka tidak ada yang berhak mencalonkan diri atau pun dicalonkan sebagai pemimpin, apalagi dipilih. Salah satu dari sifat yang wajib dimiliki oleh pemimpin yang telah ditetapkan oleh Allah adalah suci atau kesucian. Syarat keharusan Muslim atau Mukmin saja tidaklah cukup, karena posisinya yang sakral, transenden dan vertikal di bawah Allah dan Rasul. Auliya’ di surah Al-Maidah ayat 51 bermakna kawan, bukan pemimpin, karena: a) Kata تتخذوا (menjadikan) mengonfirmasi bahwa yang dipilih bukanlah pemimpin sakral; b) Waliyy tanpa alif digunakan dalam Al-Qur’an untuk beberapa makna termasuk pemimpin.

Sementara makna pemimpin sudah dikunci dengan innamaa waliyyukumullah. Sama sekali tidak tepat kalau awliyaa’ diartikan pemimpin, karena pemimpin adalah Allah dan Rasul-Nya sebagaimana ditegaskan dan dibatasi dengan إنما yang meniscayakan pembatasan eksklusif. Bagaimana kita sekarang bisa membayangkan orang Muslim memilih orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin di zaman Nabi, sehingga perlu sebuah larangan dari Allah.

Pada zaman Nabi, tidak terbersit dalam benak para sahabat Nabi untuk memilih pemimpin Yahudi dan Nasrani. Sahabat tentu tidak mungkin punya kehendak buruk menggulingkan kepemimpinan Nabi dan menggantinya dengan orang Nasrani dan Yahudi. Jelaslah larangan dalam ayat 51 surah Al-Maidah tidak ditujukan dalam persoalan kepemimpinan. Kata waliyy atau bentuk pluralnya awliyaa’ dalam istilah Al-Qur’an bisa bermakna pemimpin yang wajib ditaati, kekasih yang disayangi, penolong atau sekadar pewaris. Al-Maidah ayat 51 menjelaskan bahwa makna yang dimaksud di situ bukanlah pemimpin, melainkan teman yang disayangi sebagai lawan dari kata waliyyullah yang kekasih Allah.

Di luar konteks ayat suci, wali adalah kata predikatif yang kata bendanya adalah al-wilayah (الولاية) yang berarti kewenangan, kekuasaan dan kepemimpinan. Bila hendak memberikan makna yang luas sehingga mencakup pemimpin dalam Al-Qur’an, dan pemimpin di luar Al-Qur’an, maka kepemimpinan dapat dibagi dua;

  1. Kepemimpinan sakral karena fungsinya adalah mengawal agama seperti nabi;
  2. Kepemimpinan profan karena fungsinya adalah menata individu-individu dalam sebuah kontrak sosial yang dilembagakan berupa negara, perusahaan dan lainnya.

Otoritas vertikal atau kepemimpinan sakral bersumber dari divine legitimacy alias penentuan Tuhan. Inilah arti kepemimpinan dalam Al-Qur’an. Sedangkan otoritas horisontal atau kepemimpinan dalam kontrak sosial terbentuk oleh akseptabilitas publik. Idealnya adalah sosok yang memegang dua fungsi kepemimpinan dan otoritas tersebut. Tapi bila tidak ada atau tidak disepakati, maka akseptabilitas publik adalah dasar kriteria pemilihan.

Alasan ketiga

Kalaupun “wali” dalam pandangan mainstream Sunni berarti pemimpin terpilih yang Muslim, tetaplah itu tidak cukup.

Ada beberapa syarat selain kemusliman, yang harus dipenuhi. Menurut Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyah, seorang pemimpin harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Bersifat adil (al-’adalah).
  2. Berpengetahuan (al-’alim).
  3. Memiliki kemampuan mendengar, melihat dan berbicara secara sempurna.
  4. Mempunyai kondisi fisik yang sehat.
  5. Memiliki kearifan dan wawasan yang memadai untuk mengatur kehidupan rakyat dan mengatur kepentingan umum.
  6. Memiliki keberanian untuk melindungi wilayah kekuasaan Islam dan untuk mempertahankannya dari serangan musuh.
  7. Berasal dari keturunan Quraisy.

Lebih lanjut, Al-Mawardi menetapkan syarat-syarat khusus bagi pemimpin pemerintahan daerah (gubernur provinsi, kepala daerah), antara lain tetap mengakui kekuasaan tertinggi khalifah dalam hubungannya dengan hukum Islam. Kekuasaannya dibagi dua, yakni umum dan khusus.

Kekuasaan yang bersifat umum meliputi dua macam, yakni:

  1. Imarat al-Istikfa’, yaitu kekuasaan kepala daerah atas wilayah tertentu dengan (karena) pengangkatan khalifah yang tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya dibatasi oleh isi kontrak dan penugasannya oleh khalifah. Ruang lingkup tugasnya meliputi:
  2. Menangani urusan militer, mengorganisasi dan menggaji militer, kecuali jika khalifah telah menentukan;
  3. Menangani urusan-urusan hukum dan memilih qadi atau hakim;
  4. Menarik pajak dan menangani urusan zakat serta menunjuk pegawai-pegawai yang mengurus urusan tersebut;
  5. Melindungi agama dan menjaga kemurnian ajarannya;
  6. Menegakkan hak-hak Tuhan dan hak-hak manusia;
  7. Memimpin shalat jama’ah dan Jum’at atau menunjuk orang untuk mewakilinya;
  8. Mengorganisasi pemberangkatan haji;
  9. Jika daerahnya berbatasan dengan negara musuh, amir harus memimpin jihad melawan musuh dan jika menang, membagi barang rampasannya dan mengambil seperlima untuk mereka yang berhak.

Persyaratan menjadi amir istikfa’ sama dengan persyaratan menjadi wazir tafwidh. Jika khalifah telah mengangkat amir, maka wazir tafwidh memiliki hak pengawasan. Namun demikian wazir tafwidh bisa mengangkat amir, tetapi tidak bisa mencopot atau memindahkannya ke daerah lain. Amir bisa mengangkat wazir tanfidz di daerahnya, tapi tidak boleh mengangkat wazir tafwidh, kecuali ada perintah dari khalifah.

  1. Imarat al-Istila’, yaitu kepala daerah yang memperoleh kekuasaannya melalui kekuatan keluarga berpengaruh di suatu daerah (provinsi), yang ini biasanya terjadi di daerah yang letaknya jauh.

Ringkasnya, berdasarkan pandangan Sunni sebagaimana direpresentasi oleh Al-Mawardi, syarat kemusliman dan lainnya dalam negara yang tidak menganut sistem khilafah, bisa dianggap tidak relevan.

Kesimpulan:

  1. Wali berbeda makna dengan Waali.
  2. Wali bisa berarti pemimpin, pengayom, kekasih dan pewaris.
  3. Wali dengan “innama” bersifat ekskusif atau terbatas dan ditentukan, tidak dipilih.
  4. Wali dengan “ittakhadza” mengikat makna “kekasih”, bukan pemimpin yang telah dibatasi maknanya dengan “innama”.
  5. Presiden, gubernur, bupati, direktur, manager, ketua dan yang seartinya bukanlah wali dalam pengertian “pemimpin” yang diikat dengan “innama”.
  6. Presiden, gubernur, bupati, direktur, manager, ketua dan seartinya adalah pemimpin di luar konteks “wali” yang disebutkan dalam semua ayat yang memuat kata wali dan awliya’.
  7. Berteman dan bermitra dengan orang Yahudi dan Kristen, selama tidak memosisikannya sebagai kekasih, tidak dilarang.

Rujukan:

  1. Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, juz 5, h. 375-383, Muassasah Al’A’lami, Beirut, Lebanon, 1997.
  2. Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi, Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah wa Al-Wilayah Al-Diniyyah, h. 5-7, Maktabah ibn Qutaibah, Kuwait, 1989.

 

Share.

About Author

Dosen STFI Sadra dan Direktur Moderat Institute

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage