Telor Asin Untuk Agus

Telor Asin Untuk Agus

4

Halo Pembaca Seword yang budiman, akhir-akhir ini banyak berita di media massa tentang kondisi menurun dari kubu pasangan calon nomor satu. Setelah kemaren kubu Ahok-Djarot yang ternistakan oleh kasus peradilan yang ajaib.

Penulis jadi membayangkan kejadian awal pencalonan Agus Yudhoyono yang menghentak kita semua. Di umumkan dalam waktu yang mepet batas akhir pencalonan dan dengan suara yang bergetar Agus melakukan pidato politiknya yang pertama tentang proses pencalonannya sebagai Cagub DKI Jakarta.

Agus menceritakan pencalonannya bukanlah sebuah kejadian yang kilat dikarenakan berdasarkan proses penjaringan dan penelitian yang lama. Agus mengalahkan kandidat-kandidat lain yang tidak berhubungan darah dengan Ketua Umum Partai Demokrat pengusungnya.

Namun masyarakat tetap berpegang hal itu bertolak belakang dengan kenyataan bahwa pada saat menyampaikan pidato itu kelihatan penuh tekanan dan pergulatan emosi yang mendalam.

Dengan bergetar menahan tangis Agus mengisahkan beratnya meninggalkan institusi TNI yang telah mendidiknya menjadi orang seperti sekarang ini guna mengikuti pencalonan Pilgub DKI Jakarta. Tetapi ketika menjalankan proses kampanye Pilgub DKI Jakarta penampilan Agus yang dipenuhi kekonyolan-kekonyolan program dan pemahaman permasalahan ibukota, giliran penulis yang menangis.

Penulis membayangkan Agus yang sebagai putra seorang Ketua Umum Partai Demokrat dalam menerima tawaran sebagai Cagub yang diusung dari orang tuanya sekaligus pimpinan partai pengusung pasti penuh dengan norma tata krama dan sopan santun anak dengan orang tua.

Ini seperti ditawari telor asin di kereta api oleh penumpang di sebelah kita. Harusnya ditolak, tapi kali ini mengapa tidak diterima dengan sopan ?

Dibandingkan dengan kandidat-kandidat lain yang sangat berambisi mendaftar sebagai calon yang akan diusung dan dengan sangat atraktif berakrobat untuk menarik simpati publik sehingga terlihat lebih nakal dan liar, proses pencalonan Agus ini terlihat sangat sopan.

Namun apakah proses penjaringan kandidat calon itu hanya didasarkan oleh penilaian kesopanan saja.

Setelah berjalan beberapa waktu berkampanye ternyata hal itu benar adanya. Kurangnya pemahaman tentang permasalahan ibukota, kurang akuratnya solusi-solusi yang ditawarkan, membuktikan kurangnya persiapan Agus dalam mengemban amanah warga ibukota dalam mengatasi permasalahannya.

Dan hal ini dibuktikan dengan beberapa kasus pelanggaran kampanye yang ada dan kasus-kasus yang mulai terungkap akhir-akhir ini.

Dalam mengejar ketertinggalan dengan paslon lain dan untuk menutupi kekurangan kemampuan skill yang dimilikinya, rupanya Timses nya melakukan hal-hal akrobatik yang melanggar hukum.

Memang inilah cermin kehidupan politik praktis di Indonesia,bahkan kemampuan ini terwarisi dengan baik dari orang tuanya yang juga terindikasi kasus-kasus akrobatik dalam Pemilu. Penulis tidak perlu menyebutkan pelanggaran yang dilakukan dalam Pilpres yang berhasil memenangkan bapak nya menduduki kursi kepresiden untuk yang kedua kali, dan indikasi pelanggaran Pileg untuk adiknya Edi Baskoro.

Seperti kita ketahui jabatan Presiden,Kepala Daerah dan Legislator adalah jabatan kepercayaan atau amanah. Karena tidak ada jaminan pasti kepada pemilih untuk menuntut pelaksanaan janji-janji kepada orang yang dipilihnya.

Kepercayaan calon pemilih kepada kandidat-kandidat tersebut dapat diindikasikan dari survey-survey elektabilitas cagub.Survey ini adalah survey yang menilai tingkat kepercayaan calon pemilih kepada seseorang yang dinilai layak untuk dipilih.

Kita ketahui bahwa banyak lembaga survey yang berhasil memberikan peringkat tertinggi kepada seorang Agus untuk memenangkan Pilgub ini. Penulis selama ini heran apa yang menjadi indikator survey-survey tersebut hingga mendapatkan hasil yang tinggi kepada sosok Agus.

Apakah adab kesantunan dan norma kesopanan ala telor asin ini yang menjadi indikatornya, ataukah karakter pencitraan yang kuat dari sosok orang tuanya yang mewarnai ?

Tidak ada yang kita ketahui dengan pasti. Penulis cuma mengetahui sosok Agus yang menikah dengan mantan artis putri seorang pejabat yang korupsi. Selain seorang militer dengan pendidikan cemerlang belum ada indikasi prestasi lain yang kit dengar sebelumnya.

Ada beberapa latar belakang genetis yang kita semua tahu namun hal ini hanya lebih bersifat populer daripada prestasi, seperti anggota keluarga dinasti Cikeas yang penuh dengan kolusi dan nepotisme. Tapi apakah hal ini termasuk prestasi.

Dalam adat kebiasaan orang timur menilai seseorang yang terlihat sangat berambisi mendapatkan suatu jabatan, pengakuan dedikasinya, atau sesuatu yang bersifat mengunggulkan ke-aku-anya pasti dinilai tidak sopan dan menjijikkan.

Maka dari itu sosok seperti Donald Trump sampai Farhat Abbas dan Ahmad Dhani kurang disukai di indonesia. Hal ini dikarenakan mereka tidak menggunakan kesopanan ala telor asin.

Tetapi setelah beberapa berita yang memojokkan kubu Agus akhir-akhir ini akankah adab kesopanan itu masih bisa membungkus pencitraannya.

Berita persekongkolan upaya makar suami paslon nya, berita dukungan ormas fenthung FPI yang terkenal intoleran itu beserta rangkaian-rangkaian peristiwa yang diungkap Kepolisian, seperti menjadi hantaman keras pada kubu Agus. Bahkan kubu ini sampai menyatakan cuti kampanya untuk merumuskan permasalahan ini.

Sekali lagi Jabatan Gubernur adalah jabatan kepercayaan.

Masyarakat membutuhkan pemimpin yang berkemampuan berjuang untuk perbaikan tapi tidak ingin pemimpin yang berkelompok dengan pejuang radikal.

Masyarakat membutuhkan pemimpin yang dapat membangun tetapi bukan pembangunan yang terindikasi Kolusi dan Nepotisme.

Masyarakat menginginkan pemimpin yang santun, namun bukan kesantunan yang penuh retorika telor asin.

Masyarakat ingin membentuk kehidupan bermasyarakat yang lebih baik dengan menitipkan suaranya pada politisi mana saja,asal berpikiran sehat.

Sebenarnya keinginan masyarakat ini tidaklah rumit,hanya menginginkan sosok pemimpin yang jujur dalam menjalankan kepercayaan dan amanah serta mengedepankan kepentingan rakyat.

Bukan pencitraan kesopanan ala telor asin,halus diluar tetapi licin berminyak di dalam.

Demikianlah Kura Kura pendapat saya yang mulai bosan ber Pura Pura memahami permasalahan bangsa ini.

Share.

About Author

Just Aji...cuma itu tanpa tambahan apapun

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com, jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat menghubungi:

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage