Waspadai Terlena Bujukan Iklan

Waspadai Terlena Bujukan Iklan

0

Tiap hari kita dengar dan lihat aktivitas iklan di televisi, di koran dan internet, juga di media luar ruang. Iklan membujuk calon konsumen habis-habisan. Kesananya jadi setengah memaksa. Kegiatan itu menggunakan kata-kata: obral, heboh, korting, potongan harga, murah, dan banyak kata bujukan lain. Kata-kata manis itu sudah barang tentu  melenakan.

Akibat pengaruh iklan sering seseorang mengambil keputusan yang tidak tepat, bahkan salah. Atas nama suatu perayaan (syukuran, ulang tahun, Idul Fitri, Natalan, tahun baru, reuni) menjadi sah untuk berbelanja lebih banyak dan memborong apa saja. Mak Dunak misalnya, menjadi sangat cekatan mengambil barang apa saja yang berlabel korting hingga puluhan persen pada sebuah pasar swalayan. Semua keuntungan yang diperolehnya dari bujukan iklan sudah dihafalnya. Dan ketika uang ada di tangan mudah saja menukarkannya dengan produk dan jasa yang dibutuhkan tanpa berpikir panjang. Begitu pula dengan Den Jayeng, Bang Frederiko, Haji Jamil, Tante Sopiah, Mas Jalmolono, hingga Mbak Pur seorang asisten rumah-tangga keluarga Bos Kohar. Mereka semua itu nama-nama fiktif saja. Pilihan untuk membeli sesuatu tak lain adalah hasil bujukan iklan dalam berbagai bentuknya.

Ada banyak jenis iklan, dan yang paling ingar-bingar pastilah iklan komersial dan iklan politik. Yang komersial itu berjualan apa saja, asal produk laku dan banyak diburu pembeli. Sedangkan iklan politik biasanya berupa kampanye (terang-terangan maupun terselubung). Iklan politik untuk berjualan janji, iming-iming impian muluk dan kadang tidak masuk akal.

Sementara itu iklan non-komersial alias iklan layanan masyarakat muncul secara sesekali saja. Sering dalam rangka hari-peristiwa atau kejadian tertentu saja. Tidak mengherankan sebab beriklan tidak murah. Padahal seringkali iklan layanan masyarakat inilah yang tidak menyesatkan, tidak melebih-lebihkan, dan mengajak masyarakat berfikir realistis-praktis-ekonomis.

Namun kita terlanjur terlena oleh bujukan maut bernama iklan. Padahal iklan yang menawarkan hidup lebih sempurna, keluarga lebih harmonis, tubuh lebih sehat dan mempesona serta aneka bujukan lain, seringkali tak lebih dari realitas semu.

Apakah iklan meracuni atau sebaliknya menyehatkan? Tiap orang dapat mengklaim salah satunya. Tergantung pengalaman pribadi, pengetahuan atau wawasan tiap orang, tergantung kondisi dan banyak hal lain. Namun pasti lebih banyak orang yang menganggapnya sebagai menyehatkan. Terlebih bagi siapapun yang mampu menjangkau harga dari produk komersial yang ditawarkan itu. Kala kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi, maka kebutuhan tersier pun dikejar.

Mungkin itu semata mengikuti gaya hidup, mode, dan berbagai kecenderungan kekinian.  bahkan mungkin itu menjadi semacam tuntutan untuk menjaga/mempertahankan rasa percaya diri dalam rangka ‘eksis’ setelah kenyang memenuhi hajat berkomentar-sharing-reposting, selfie, bahkan sekadar update status. Dan agaknya itulah yang dianggap hidup sehat dan menyehatkan.

Sehat bagi kita yang rela dengan sadar terkungkung gawai bahkan ketika mengendarai sepeda motor maupun menyetir mobil, orang-orang yang berdiam diri sambil terus menunduk ke arah layar telepon pintar dengan keasyikan melenakan, bahkan juga orang-orang yang tidak saling berbicara dengan orang lain meski satu bangku selama perjalanan panjang  seharian/semalaman menggunakan bus-kereta api.  Padahal dengan itu iklan menguntit kemana pun dan dimana pun kita berada.

Terlalu aktif dengan mata dan jemari bukan tidak mungkin suatu ketika nanti kemampuan orang berbicara makin menurun. Kita menjadi tak ubahnya robot yang pelit berbicara dan lebih piawai menggunakan tulisan, gambar, tanda dan sinyal saja untuk berkomunikasi dangan orang lain. Orang makin pendiam namun cerewet luar biasa pada media massa dan media sosial.

Dalam pengertian awam iklan demikian bermakna meracuni. Dikhawatirkan cepat atau lambat hal itu mempengaruhi kesehatan jasmani dan rohani kita.

Ketika terlena didera iklan,kemudian percaya penuh pada isi iklan, maka tanpa sadar kita bakal menjadi bagian dari iklan. Iklan tertentu seolah-olah mewakili diri kita. Atau kitalah yang telah melebur dalam iklan itu? Pada tutur kata, sikap, tingkah laku, pikiran, dan bukan tidak mempengaruhi  idealisme maupun religiositas kita.

Padahal kita tahu iklan adalah upaya intensif dan persuasif untuk mengubah persepsi kita dari kenyataan sebenarnya, menutupi banyak hal yang kurang, mengaburkan hal-hal yang mestinya dihindari, dan seterusnya. Dunia iklan adalah dunia impian-khayalan-bayangan. Bayangkanlah betapa muskilnya pemaksaan ide sebuah minyak rambut yang membuat perempuan/lelaki seketika menjadi sempurna, atau obat nyamuk yang disejajarkan dengan pentingnya peran dan kasih-sayang seorang ibu, juga secangkir teh yang membuat sebuah keluarga tampak mendadak harmonis, dan seterusnya.

Namun konsumen seringkali tidak peduli, tidak mengkritisi, mungkin juga tidak memperhatikan. Ketika kita  menggunakan suatu produk dengan rasa bangga-senang-antusias maka seketika kita menjadi sosok atau keluarga yang ideal. Tanpa sadar kita menjadi bagian dari iklan. Tanpa dibayar se-sen pun kita rela menjadi pengiklan. Celakanya kalau produk yang  kita iklankan itu justru memalukan diri sendiri. . . . .!

Contohnya orang-orang yang sengaja berburu hadiah lomba dengan menuliskan pengalaman pribadi di media sosial terkait dengan penggunaan produk komersial ini dan itu. Sesuai tujuan lomba, mereka secara halus ‘dipaksa’ senang/puas atau pura-pura senang/puas menggunakan produk itu. Menang lomba belum tentu, namun mempromosikan sebuah produk (melalui tulisan pengalaman) terlanjur dilakukan.

Para pendakwah pun seharusnya tidak menjadi bintang iklan komersial. Pendakwah yang malang-melintang muncul di media televisi tak lain ‘menjual’ suara dan sosoknya untuk umat. Yang dijual adalah kebenaran agama. Namun ketika pendakwah itu muncul sebagai bintang iklan produk komersial atau politik entah kebenaran apa yang menjadi acuannya.

Para kader Parpol yang berpendapat-berkomentar dan menanggapi suatu peristiwa apapun tak lain melakukan iklan politik. Itu berarti pula berkampanye (diluar kriteria KPU) untuk kepentingan partainya. Kebenaran yang dibawakannya hanya bila menguntungkan partainya. Namun apa perlunya kita yang bukan kader parpol ikut mengiklankan citra Parpol itu? toh mereka tidak sepenuhnya memperjuangkan kepentingan konstituen. Para politikus cenderung untuk menjadei oang-orang oportunis dan mempunyai agenda tersembunyi dengan mengatasikan rakyat-negara dst. Iklan yang dulu pernah populer ‘katakan tidak pada korupsi’ menjadi contoh fenomenal mengenai hal itu. Iklan non-komersial itu terbukti kemudian sangat menyesatkan.

Berbagai gaya iklan begitu beragam, dari mulai yang norak hingga yang sangat halus dan terselubung (sebuah produk yang menjadi sponsor cabang olahraga favorit, atau mengadakan event bakti sosial misalnya) mengusai ruang dan waktu kita. Kemajuan teknologi dan penyebaran media massa maupun internet berpengaruh sangat besar. Dan puncaknya ketika seseorang menjadi bagian dari iklan itu sendiri.

Entah bagaimana mempertanggung-jawabkannya secara sosial dan  moral, secara dunia dan akhirat, bila ternyata produk yang diiklankan itu sama sekali dusta, sama sekali salah, atau bahkan berakibat sangat buruk bagi pemakainya?

Memang tidak mudah untuk lepas dari bujukan iklan komersial dan politik. Namun sebuah ujaran lama perlu direnungkan kembali : belilah sebatas kemampuan, belilah sebatas keperluan yang penting saja. Ambillah pilihan politik yang paling rasional, jauhilah politik uang dengan tetap menjunjung tinggi nilai keberagaman dan kebhinnekaan. Dengan demikian kita tidak terlena oleh bujukan iklan, dan apalagi menjadi bagian dari iklan komersial maupun iklan  politik itu sendiri.

Share.

About Author

Pensiunan. Menulis untuk merawat ingatan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage