Bu Mega yang Laris Manis dan Pak SBY yang Adem Ayem

Bu Mega yang Laris Manis dan Pak SBY yang Adem Ayem

6

Bulan Maret 2017 ini barangkali terasa istimewa bagi masyarakat Indonesia secara umum. Bahkan mungkin terasa lebih istimewa bagi pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri. Bagaimana tidak? Setidaknya ada dua peristiwa yang mampu menyita perhatian masyarakat Indonesia. Peristiwa pertama tentu saja kunjungan resmi pemimpin kerajaan Arab Saudi, Raja Salman. Kemudian yang kedua, terselenggaranya konferensi Indian Ocean Rim Association (IORA) yang ke-20, di Jakarta barusan.

Kenapa terasa istimewa bagi Kementerian Luar Negeri? Bukan cuma istimewa sih, menurutku. Tapi lebih kepada tugas yang harus dilaksanakan, sepertinya akan lebih ekstra. Karena momen kunjungan Raja Saudi dan konferensi IORA merupakan peristiwa yang luar biasa. Mengingat mereka semua yang hadir ke Indonesia adalah para tamu negara yang bersifat Very Very Important Person (VVIP). Mayoritas adalah para pemimpin negara sahabat dan mitra penting bagi Indonesia.

But in my honest opinion, kunjungan Raja Salman rasanya telah membuat masyarakat di dalam negeri begitu terhenyak. Terhenyak bukan karena kaget atau apa. Melainkan karena antusias. Ya, kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi sontak menjadi satu event yang ditunggu-tunggu. Dan akhirnya itu terjadi di awal bulan Maret ini.

Beraneka macam euforia hadir ditengah-tengah masyarakat dalam menyambut His majesty Raja Saudi. Memang wajar, sih. Karena Raja Salman tidak datang ‘hanya’ dengan rombongan yang segelintir. Namun Raja Salman turut disertai rombongan yang jumlahnya tidak main-main. Ada sejumlah menteri di dalam pemerintahannya. Dan beberapa pangeran. Nah pangeran-pangeran inilah, yang tiba-tiba menimbulkan kehebohan tersendiri bagi rakyat Indonesia ini.

Pangeran-pangeran Arab yang mancung. Rupawan. Dan satu yang paling penting: TAJIR.

Kehadiran beberapa pangeran Arab tersebut, mau tak mau telah menarik perhatian kalangan hawa. Tapi…, helloowww Indonesian ladies…? Mimpi sih boleh. Tapi yang realistis aja, deh. Memang para pangeran itu kaya raya. Tapi percuma juga, kalau tidak membawa segepok investasi. Segudang duit Riyal, seperti yang telah pemerintah Arab Saudi janjikan kepada Indonesia. Yaps, berbagai MoU telah ditandatangani oleh pihak Indonesia dan Arab Saudi. Sekarang tinggal menunggu realisasinya 🙂

Lupakan sejenak terkait Raja Salman, yang hingga hari ini masih betah berada di Bali. Sekarang kita ngobrolin dikit tentang IORA. Pada 5 sampai 7 Maret lalu, telah dilaksanakan konferensi negara-negara di pesisir Samudera Hindia. Mulai dari tingkat menteri, hingga ke tingkat para kepala negara. Semua tumplek blek di Jakarta. Sesuai dengan agendanya yang berakhir di tanggal 7 Maret kemarin. Para delegasi negara yang tergabung di IORA telah pulang ke rumahnya masing-masing.

Namun ada beberapa hal yang menjadi catatanku. Catatan kecil saja, sih. Barangkali tidak begitu penting juga. Apalagi buat orang lain. Perihal kunjungan resmi dari Raja Salman, dan kedatangan sejumlah kepala negara di dalam konferensi IORA kemarin. Dan lalu…, bagaimana hubungannya dengan judul yang aku berikan diatas. Kenapa ada Pak SBY sampai disebut-sebut segala…? Tenang. Dibaca sampai selesai, ya. Jangan kayak buzzer Perindo, yang belakangan suka sensi dengan artikel-artikel di Seword 🙂

Source: liputan6.com

Bu Mega yang “Laris Manis”

Bu Megawati Soekarnoputri memang sudah lama melepaskan jabatan sebagai presiden kelima Indonesia. Tetapi statusnya yang masih sebagai ketua umum dari PDI Perjuangan, rasanya tidak akan bisa untuk tidak memberikan perhatian khusus kepada beliau. PDIP memang menjadi partai penguasa sekarang. Namun sosok Bu Mega secara personal, masih amat crunchy untuk dibicarakan.

Anggapanku ini terbukti, setidaknya dari beberapa peristiwa yang terjadi di bulan Maret ini saja. Kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi, menurutku tidak hanya bersifat government to government. Melainkan turut menjadi jalan bagi Raja Salman untuk memenuhi ‘keinginan’ pribadinya. Apakah keinginan pribadi dari sang Raja…?

Raja Salman ingin berjumpa dengan keturunan dari Presiden Soekarno.

Keinginan dari Raja Salman ini, kedengarannya biasa-biasa saja. Namun bagiku pribadi, terasa berbeda. Touching heart banget. Bagaimana beliau di usianya yang sudah lebih dari 80 tahun, masih menyimpan segala kenangan terkait Pak Karno. Sang pemimpin besar Indonesia. Akhirnya keinginan yang mulia Raja Salman terkabul. Beliau dipertemukan dengan putri kandung Pak Karno. Dialah Bu Mega. Tidak cuma dengan Bu Mega. Tetapi lengkap dengan Puan Maharani, putri Bu Mega, yang sekaligus cucu Bung Karno.

Momen pertemuan antara Raja Salman, dengan Bu Mega dan Mbak Puan, juga terasa khusus. Menurut sumber dari kompas.com, pertemuan tersebut berlangsung di Istana Merdeka. Padahal di hari yang sama, Bu Mega juga diundang untuk hadir ke gedung DPR. Tujuannya untuk menyambut Raja Salman, yang hendak berpidato di depan para anggota dewan. Namun Bu Mega tidak hadir di DPR. Beliau lebih memilih untuk bertemu secara terpisah, di Istana Merdeka. Keputusan ini tidak ada salahnya. Karena dengan begitu, perjumpaan Bu Mega dengan Raja Salman, yang ditemani Mbak Puan, akan terasa lebih khidmat. Tidak terganggu dengan hiruk-pikuk yang mungkin terjadi, jika pertemuan tetap dilangsungkan di area gedung DPR.

Laris manisnya Bu Mega, bukan hanya terkait pertemuan khusus dengan Raja Salman. Melainkan juga peristiwa lainnya, yang berkaitan dengan konferensi IORA. Minimal ada dua momen, dimana momen tersebut telah menjadi bukti. Betapa seorang Megawati Soekarnoputri masihlah menjadi salah satu tokoh yang ‘berpengaruh’ di Indonesia.

Momen yang pertama adalah kunjungan presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma. Presiden Jacob langsung mengunjungi kediaman pribadi Bu Mega. Seperti yang sudah ditulis oleh tempo.co, salah satu tujuan Jacob Zuma menemui Bu Mega adalah untuk menyampaikan penghargaan kepada dua tokoh dari Indonesia. Mereka berdua adalah Syeikh Yusuf Al Makasari dan Soekarno.

Syeikh Yusuf adalah orang Indonesia asal Makassar, yang dibuang penjajah Belanda ke Afrika Selatan. Di tanah yang baru, perjuangan Syeikh Yusuf tetap berjalan. Hingga membuatnya dikenang sebagai salah satu tokoh yang berjasa bagi Afrika Selatan. Bagaimana dengan Pak Karno…? Tidak jauh berbeda. Bagi Afsel, sosok Soekarno tetaplah menginspirasi. Terutama untuk semangatnya yang sangat anti imperialisme. Sebagai putri kandung dari Bung Karno dan presiden kelima RI, tidak salah jika Bu Mega yang menerima kabar penghargaan dari pemerintah Afsel itu.

Momen yang berikutnya adalah kunjungan istri Perdana Menteri Malaysia, Rosmah Mansor. Peristiwa ini terjadi disela-sela konferensi tingkat tinggi IORA. Malaysia memang termasuk negara anggota IORA. Sehingga perdana menteri Najib Razak turut serta dalam gelaran IORA.

Kunjungan first lady Malaysia Rosmah Mansor tersebut, semakin menambah “bernilai”-nya seorang Megawati. Karena tujuan Datin Rosmah adalah untuk memberikan undangan kepada Bu Mega. Ya, seperti keterangan dari liputan6.com, Bu Mega diundang untuk menjadi pembicara pada sebuah seminar mengenai perempuan, yang diadakan di Malaysia. Diundangnya Bu Mega tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Berarti Malaysia menganggap Bu Mega layak untuk dimintai ilmu, terkait isu-isu perlindungan perempuan dan anak. Rencananya Bu Mega tidak sendiri. Beliau akan ditemani sejumlah menteri perempuan kabinet Kerja.

Jadi setidaknya, ada tiga momen istimewa, yang melibatkan Bu Mega dengan pihak dari luar negeri. Momen pertemuan dengan Raja Salman. Lalu dengan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma. Ditambah pertemuan dengan Datin Rosmah Mansor dari Malaysia. Peristiwa-peristiwa ini telah menyiratkan, betapa Bu Mega masih diperhitungkan di kancah internasional. Nice.

 

(Cuma) Pak Jokowi yang Menemui Pak SBY

Kalau bagiku Bu Mega masih laris manis di depan banyak tamu dari luar negeri, bagaimana dengan Pak SBY…? Sorry to say. Menurutku berbalik seratus delapan puluh derajat dengan Bu Mega. Asumsiku ini setidaknya berasal dari informasi yang disampaikan oleh media. Kok sepertinya tidak ada tuh, ingar-bingar pertemuan yang terjadi antara Pak SBY dengan tokoh-tokoh dari luar negeri. Setidaknya tokoh-tokoh yang berdatangan ke Indonesia terkait konferensi IORA.

Memang ada, perjumpaan antara SBY dengan Raja Salman. Tetapi bagiku ini bukanlah pertemuan yang eksklusif. SBY yang notabene presiden ke-6 RI, juga diundang untuk datang ke gedung DPR. Tujuannya untuk menyambut dan mendengarkan pidato singkat Raja Salman terkait kunjungan resminya ke Indonesia. Namun bukan berarti Raja Salman mempunyai “waktu khusus” bersama dengan SBY. SBY yang datang ke DPR, rupanya “hanya” berfoto bersama dengan sang raja. Itupun foto beramai-ramai dengan mantan wakil presiden Try Soetrisno dan pimpinan DPR.

Tunggu. Tulisan ini tidak kumaksudkan untuk mem-bully Pak SBY. Aku cuma ingin beropini, berdasarkan fakta-fakta yang memang terjadi. Tidak hanya terkait dengan Raja Salman. Tetapi juga dengan perhelatan IORA. Dimana sejumlah pemimpin negara anggota IORA ini, masih sempat bersua dan selevel dengan SBY, ketika SBY masih menjabat sebagai presiden.

Tetapi lihatlah. Bila dibandingkan dengan Bu Mega yang terasa masih laris manis, tidak demikian dengan SBY. Nyaris tidak ada pertemuan resmi, yang melibatkan SBY dengan para pemimpin negara anggota IORA tersebut. Entah kalau ada pertemuan tidak resmi, yang luput dari tangkapan media. Namun sepertinya kemungkinan itu kecil sekali.

Sebenarnya hal ini tidak perlu dipermasalahkan. Mengingat SBY sudah bukan lagi presiden yang mempunyai kewenangan tertinggi di negeri ini. Jadi para pemimpin negara sahabat tidak mempunyai “kewajiban” untuk bersua dengan SBY.

Padahal kalau boleh berandai-andai, ada beberapa pemimpin negara yang ‘bisa’ berjumpa dengan SBY. Meski SBY kapasitasnya sebagai mantan presiden. Mereka adalah Raja Salman dan presiden Jacob Zuma. Raja Salman dari Arab Saudi, dan Jacob Zuma dari Afrika Selatan.

Patut diingat. SBY tidak bisa dilupakan, telah membawa Indonesia ke dalam forum G-20. Di sana juga ada Arab Saudi dan Afrika Selatan. Jadi idealnya, Raja Salman dan Jacob Zuma pernah berposisi sejajar dengan SBY yang notabene masih menjabat sebagai presiden Indonesia sebelum Jokowi. Atau bisa juga pemimpin negara India dan Australia. Ya, sama seperti Indonesia. India dan Australia juga menjadi bagian dari G-20, sekaligus anggota IORA.

Tetapi ya sudahlah. Barangkali memang tidak ada hajat yang mendesak dari para pemimpin negara sahabat. Sehingga tidak ada satupun yang berkeinginan bertemu secara resmi dengan Pak SBY. Tidak apa-apa.

Jadi sebagai bentuk “penghiburan” kepada Pak SBY, akhirnya Pak Jokowi yang (mau) menemui beliau. Pertemuan antara Jokowi dengan SBY akhirnya terjadi kemarin, 9 Maret. Bertempat di Istana Merdeka, presiden ke-6 dan ke-7 Indonesia ini berjumpa dengan suasana yang adem.

Peristiwa ini seakan menjawab segala tudingan yang sempat beredar sebelumnya. Bahwa Pak Jokowi tidak ingin bertemu Pak SBY. Atau, ada pihak yang ‘melarang’ dan ‘mencegah’ Jokowi untuk menemui SBY. Tudingan itu resmi berakhir kemarin.

Sebagai wong cilik, harapanku cuma sederhana. Semoga pertemuan Pak Jokowi dan Pak SBY kemarin, dapat menjadi ajang untuk tabayyun. Ajang saling bersilaturahmi dan memberi masukan positif. Momen untuk sama-sama mengedarkan energi positif ke seantero rakyat Indonesia.

Semoga pertemuan kemarin ada hasilnya.

                  

Share.

About Author

A history - TV shows - politics - general issues - media's freak. Non partisan. Udah, gitu aja.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage