Di Penjara, Ahok Masih Berpikir Tentang Kemanusiaan, Kaum Budat Hanya Bilang Good Bye

Di Penjara, Ahok Masih Berpikir Tentang Kemanusiaan, Kaum Budat Hanya Bilang Good Bye

14

Hari-harinya Ahok di penjara, sepertinya ia tak pernah berhenti berpikir tentang masyarakat Jakarta. Kemarin ketika sahabat sejatinya dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta  tanggal 15 Juni 2015 melalui Kuasa hukumnya Teguh Samudera,  ia berpesan agar Pak Djarot meningkatkan kepercayaan warga Jakarta kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih dari masa kepemimpinannya dulu. Ahok menilai bahwa Djarot harus mendapatkan kembali kepercayaan warga Jakarta terhadap Pemerintah sebagai pelayan publik. Dengan kepercayaan dari warga Jakarta diharapkan semua jajaran pemerintah, mulai dari yang paling bawah hingga pejabat di tingkat teratas, bisa mengemban tanggungjawab tersebut. Ia juga berpesan supaya semua birokrat dan masyarakat tetap berbuat hal yang sama demi kemajuan Jakarta.

Foto detik.com

Itulah Ahok, yang rela menjadi terbuang hanya untuk menyelamatkan banyak orang, ia rela di penjara supaya orang tidak ribut terus dan Jakarta tidak rusuh dengan demo bersambung kaya cerita novel. Ia tidak menjadi marah atau kecewa ketika wakilnya Pak Djarot dilantik menggantikannya. Ia malah memberikan semangat agar Pak Djarot tetap dapat memimpin Jakarta dengan sebaik-baiknya bahkan jika mungkin lebih dari yang pernah dia lakukan. Meski di penjara, Ahok selalu berpikir dan meminta agar Pak Djarot tetap berusaha agar warga Jakarta tetap berseri, kenyang perutnya dan penuh dompetnya. Meski tampak senyum tertahan di wajah Pak Djarot ketika ia dilantik, mungkin ketika itu ingatannya melayang pada sahabatnya yang kini di penjara, tetapi dalam hatinya ia juga tidak akan mengecewakan Pak Ahok.

Satu hal juga yang membuat hati sangat terharu, ia mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti menolong orang yang selalu berbuat baik. Tuhan pasti selalu ada buat orang-orang yang terus berbuat baik pada sesamanya.  Duhai…kalian yang telah sampai hati memenjarakannya, nikmat apalagi yang kau dustakan tentang orang sebaik ini? Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, ia tidak menjadi murka dengan semua perlakuan yang telah ditimpakan kepadanya, ia tidak memanfaatkan semua jasa yang telah dilakukannya untuk sekedar mendapatkan keringanan atas hukumannya atau pun juga meminta fasilitas yang hebat selama ia di penjara. Ia bahkan mengatakan di penjara manapun ia ditempatkan setelah keputusan pencabutan bandingnya diterima Pengadilan, ia akan menerimanya. Ia patuh selalu pada hukum, sementara seorang RS yang (katanya) menjadi panutan ummat, semakin ketakutan ketika mendapat panggilan Pak Polisi hingga harus berlari-lari kesana kemari, kadang di Arab, kadang di Malaysia terus balik lagi ke Arab buat sekedar ngumpet hahaha….Apanya yang bisa dijadikan panutan buat orang seperti ini??

Keyakinan Iman Ahok tak pernah pudar, ia percaya  akan kekuasaan Tuhan karena itu ia selalu menyerahkan segala sesuatu yang telah dialaminya kepada Tuhan. Ini yang membuat dia tidak terlalu resah saat menjalani hari-harinya di penjara. Katanya dalam suatu kesempatan pada para sahabat yang telah menjenguknya, “Kalau saya menghitung kapan saya keluar dari penjara ini, saya akan merasa lama sekali, jadi lebih baik saya menjalaninya saja, baca Alkitab, baca buku dan menulis”. Wajah pak Ahok tetap berseri dan penuh tawa ngajak becanda melulu para sahabat yang telah menjenguknya. Tuh.. orang kalau hidupnya benar pasti tidak akan gelisah, tidak akan takut, dia menjalani semuanya dengan sabar, orang Jawa bilang selalu nrimo.

Beda ya sama kaum bumi datar yang bersorak gembira setelah segala keinginan mereka agar Ahok di penjara terkabul, mereka pun cuma bilang “Good bye Ahok, rasain Lu di penjara! Tidak ada rasa terima kasih sama sekali untuk semua jasa pak Ahok untuk kemajuan Jakarta. Sama seperti kalau diminta melihat sebuah titik hitam di atas kain putih, yang dilihat hanya titik hitamnya, padahal kan yang putihnya lebih dominan. Jadi seribu kebaikan yang telah dibuat tidak akan dilihat bahkan dilupakan hanya oleh karena satu titik hitam yang menodainya.

Ahok selalu berpikir tentang kemanusiaan, di bilik penjara mungkin yang ada di benaknya  adalah ingatan tentang orang tua lanjut usia yang tak mampu berobat ke rumah sakit karena tak memiliki biaya, orang-orang tak mampu yang genteng rumahnya pada bocor semua jadi perlu pertolongan untuk perbaikan rumahnya, dan seribu persoalan Jakarta yang masih ia ingin benahi. Bahkan kemarin ketika Pak Djarot mengunjunginya di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok ia sempat menanyakan perkembangan pembangunan Masjid Jami Al-mubarokah yang berada di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo. Ahok berharap setelah ada Masjid yang bisa menampung ratusan jamaah ini, masyarakat yang tengah berkunjung ke Kalijodo tak lupa menjalankan shalat. Ia mengatakan,”Kami ingin orang datang kesini (Kalijodo) tidak tinggalkan shalat lima waktu”.

Ah Pak Ahok, betapa mulianya hatimu, engkau tetap menghormati umat yang berkeyakinan lain denganmu dan meminta agar pak Djarot tidak melupakan untuk menyelesaikan pembangunan Masjid, rumah ibadah mereka. Inilah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri yang ia pikirkan adalah bagaimana orang dapat bekerja, dapat ber-rekreasi tanpa melupakan Tuhannya. Ahok tahu dan mengerti bahwa kita tidak boleh menghalangi orang untuk berjumpa Tuhannya dalam sujud tafakur, dalam keheningan dan doa. Bahkan jika mungkin kita wajib menyediakan tempat bagi mereka.

Masjid yang akan dibangun di Kalijodo ini, menurut penuturan Pak Djarot kepada Pak Ahok masih sesuai target dan akan diresmikan pada Oktober 2017. Masjid ini dibangun dua lantai dengan luas 800 meter persegi panjang. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dilakukan oleh Pak Ahok semasa beliau masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Tapi…Pak Ahok,  taukah engkau kalau sekarang mereka telah kembali dengan kebiasaan lamanya, lebih senang tinggal di jembatan bawah Tol, lebih senang tinggal di rumah-rumah kardus, sepeninggalmu Jakarta sudah mulai kelihatan lagi keruwetannya. Kalijodo pun kembali dihiasi oleh bibir-bibir bergincu merah. Tak apalah Pak, biarkan itu menjadi PR buat Gubernur baru, percayakan saja padanya agar Jakarta bisa berbenah lagi, karena seharusnya dengan slogan yang terus digemborkannya waktu kampanye dulu bahwa “Jakarta butuh Pemimpin Baru” saat ia dan wakilnya sudah dilantik bulan Oktober nanti, saat telah mendapat mandat penuh menjadi Pemimpin Jakarta, mereka sungguh-sungguh dapat mengubah Jakarta Baru sesuai harapan masyarakat Jakarta dan sesuai dengan janji-janji yang telah mereka ucapkan. Semoga mereka tidak ingkar janji ya Hok, dan engkau pun tetap tersenyum melihat penerusmu dapat membangun Jakarta lebih baik lagi. Kita semua akan selalu berharap yang terbaik buat warga Jakarta. Semoga.

Begitulah kura-kura

Ref:

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/06/16/11344441/pesan.ahok.untuk.djarot.yang.baru.dilantik.jadi.gubernur.dki

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/06/18/20174791/ditemui.djarot.ahok.tanya.pembangunan.masjid.di.kalijodo.

Ingin baca artikel saya ya lain disini ya https://www.seword.com/author/patricia

Share.

About Author

Hanya sebuah Pencil di tangan Sang Pencipta. Yang ingin menuliskan apa yang Dia minta lewat perenungan dan bacaan dan membagikannya kepada semua orang yang ingin membacanya.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage