Empati Manis Romo Franz Magnis

Empati Manis Romo Franz Magnis

6

Kata ‘alhamdulilah’ sangat pantas mengawali tullisan ini. Pasalnya, di tengah tantangan yang membelit para pengendara motor di Ibu Kota, masih ada tokoh yang punya empati. Adalah Romo Franz Magnis Suseno, seorang rohaniawan Katolik yang memberi kecaman terhadap wacana pelarangan sepeda motor melintas ruas jalan raya utama di Ibu Kota.

Diberitakan Kompas.com, Rabu (6/08/2017), bahwa Guru Besar Emeritus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu tidak setuju bila ada pelarangan sepeda motor melintas di sejumlah ruas jalan utama di Ibu Kota Jakarta. Beliau mengecam pelarangan dimaksud karena ada unsur kekerasan dan ketidakadilan. Menarik bahwa kecaman ini memang jauh dari kata-kata kasar karena memiliki alasan yang begitu mendasar. Tak ayal banyak kata yang menyasar hingga ke akar, yakni unsur kekerasan dan masalah ketidakadilan.

Mengingat, menurut Romo Franz Magnis, jika wacana pelarangan motor itu diterapkan, maka sama dengan kekerasan kepada warga Jakarta yang berada pada kelas menengah ke bawah. Maklum, kebanyakan pemakai sepeda motor bukanlah kelompok elit masyarakat yang hidupnya jauh dari kata sulit dan pailit.

“Saya ingin membuat jelas bahwa itu tidak adil dan dianggap sebagai suatu kekerasan kelompok (oleh) yang sekarang sudah kaya. Sangat tidak benar kalau orang yang hidupnya sudah berat, jadi semakin berat lagi oleh orang yang hidupnya gampang,” kata Franz, saat dihubungi Kompas.com pada Rabu (6/9/2017).

Terima kasih Romo Magnis untuk sebuah empati yang manis. Bisa melihat efek dari sebuah kebijakan bagi kaum yang termarjinalkan. Bagi pecinta motor berhijab yang berasap, ketika ada pelarangan bagi pengendara motor untuk melintas di ruas tertentu, tentu itu bukan kabar gembira.

Apalagi, ketika mengingat perjuangan membeli hijab untuk sang motor bukan perkara mudah. Maklum, motor RXZ semula memang tidak berhijab se-syar’i sang RZR kembarannya. Artinya, model hijab RZR lah yang telah menginspirasi supaya RXZ berhijab se-syar’i mungkin. Tujuan motor berhijab juga tidak main-main. Alasan kenyamanan di jalan raya adalah pilihannya. Apalagi ketika Front Pembela Islam (FPI) sering lakukan razia. Dengan tampilan motor berhijab semoga FPI terpesona dengan hijab syar’i sang motor sehingga aman dari razia.

Masalahnya sekarang, lolos dari FPI harus berhadapan dengan kebijakan pelarangan motor melintas beberapa ruas jalan. Ibarat pepatah keluar dari mulut bu aya, kini masuk mulut pak aya. Mau bilang apa kalau aturan itu nanti berlaku. Pertama-tama tentu ‘masya Allah, nasib-nasib.

Untunglah ada Romo Franz Magnis yang punya perhatian pada pengendara motor. Beliau menilai efek kebijakan pelarangan motor itu saat diterapkan nanti, akan berdampak banyak kalangan masyarakat kecil yang sehari-harinya beraktivitas dan bekerja menggunakan sepeda motor.

“Saya anggap kebijakan itu semacam kesombongan dan kekasaran mereka yang pakai mobil terganggu oleh mereka yang pakai motor dan memanfaatkan kesempatan untuk membatasi,” ucap Franz, yang kerap mengendarai sepeda motor jenis skuter miliknya.

Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana memperpanjang kawasan pelarangan sepeda motor dari Jalan MH Thamrin hingga Jalan Sudirman, tepatnya di Bundaran Senayan.

Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta mengaku telah melakukan kajian kebijakan tersebut dan akan melakukan uji coba pelarangan pada 12 September 2017 meski mendapat penolakan dari berbagai pihak.

Sejauh ini, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan pelaksanaan kebijakan pembatasan sepeda motor di Jalan Protokol Jakarta akan dilakukan secara bertahap. Mencermati kebijakan pembatasan yang dilakukan secara bertahap, tentu masih pantas berharap. Sekalipun ini tetap tergolong harap-harap cemas. Artinya, apalah arti harapan pengendara motor berhijab walau berasap bagi kebijakan Pak Gubernur.

Apalagi ada tujuan kebijakan itu tergolong mulia, mengurangi kemacetan. Semua orang juga tahu, penyumbang dakwah kemacetan sejatinya juga bukan melulu para pengendara motor. Para pemakai mobil juga rajin bikin macet di jalan tol si jalan bebas hambatan sekalipun. Artinya, Gusti Alloh SWT pasti tidak menimpakan hukuman hanya kepada para pengendara motor sebagai biang kemacetan.

Maka, tulisan ini memang tidak ada maksud untuk protes pada kebijakan Pemprov DKI. Sesuai judul, tulisan ini bermaksud mengucap alhamdulilah masih ada rohaniwan seperti Romo Franz Magnis dengan empatinya yang manis. Seolah, Profesor STF Driyarkara itu tahu betul urusan hati atau tepatnya kegelisahan para pengendara motor. Dengan ini, kata terima kasih saya persembahkan untuk Romo Magnis Suseno. Semoga empati nan manis itu cukup memberi semangat untuk nguri-uri kabudayan motor berhijab yang berasap.

Referensi:

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/09/06/15110321/franz-magnis-berharap-larangan-sepeda-motor-dibatalkan

Share.

About Author

sang pecinta motor berhijab yang berasap

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage