Gus Dur, Bapak Bangsa Yang Mencintai Toleransi dan Keberagaman Indonesia

Gus Dur, Bapak Bangsa Yang Mencintai Toleransi dan Keberagaman Indonesia

2

Gus Dur

Saya pribadi tergerak untuk menulis artikel ini setelah membaca berita dimana putri sulung dari Presiden keempat Indonesia, yaitu Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, di bully oleh manusia yang tidak punya akhlak dan rasa kemanusiaan sama sekali. Jujur saya sangat geram setelah membaca berita tersebut (sumber).

Manusia tersebut sangat beruntung ketika yang diserang adalah seorang wanita hebat yang merupakan anak perempuan dari seseorang yang hebat pula seperti Gus Dur. Anak mana yang akan tahan jika orang tuanya dihina didepan umum, jika orang tua saya yang dihina seperti hinaan terhadap Gus Dur maka akan saya kejar manusia tersebut. Tapi Bu Alissa Wahid menunjukan kelasnya sebagai seorang putri yang hebat dari orang yang hebat.

Beliau tidak sama sekali mengeluarkan sumpah serapah ataupun nyinyiran khas segelintir orang yang hanya pandai nyinyir lewat twitter. Beliau bahkan menyerang kembali dengan elegan hinaan manusia tersebut. “YES I AM AND PROUD OF IT” adalah rangkaian kata yang menunjukan betapa bangganya beliau terhadap sosok ayahnya (sumber).

Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, seorang Alissa Wahid mencerminkan sifat sang ayah yang pemaaf dan tidak suka membesar – besarkan hal sepele karena manusia yang menghina itu tidak pada level yang sama dengan beliau. Jiwa besar beliau tentu saja membanggakan tidak hanya Gus Dur seorang tapi seluruh keluarga besar NU (Nadathul Ulama).

Penghina itu sangatlah menyedihkan karena tidak tahu bahwa Presiden buta yang dihina ini adalah seorang pemimpin sejati. Gus Dur adalah Bapak Bangsa yang mencintai Indonesia dengan keberagamannya. Beliau adalah bentuk sejati dari Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila Indonesia. Presiden yang tidak neko – neko dalam menlindungi segenap anak bangsa tanpa memandang suku, ras maupun agamanya.

Gus Dur sadar bahwa identitas negeri ini adalah pluralisme yang jika dijaga maka akan memperkokoh bangsa dan negara ini dan apabila tidak dijaga akan memecah belah bangsa dan negara ini. Toleransi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia lah kunci dari persatuan seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam ras, suku dan agama.

Saya rasa Gus Dur sadar bahwa kelemahan bangsa dan negara ini adalah ketika sentimen keagamaan dan kesukuan dimainkan untuk mencapai tujuan tertentu. Beliau ingin semua anak bangsa sama derajatnya tanpa adanya kata minoritas dan mayoritas.

Satu tindakan nyata beliau yang mencerminkan beliau cinta keberagaman yang ada di Indonesia adalah dengan di cabutnya Inpres (Instruksi Presiden) Nomor 14 tahun 1967. Beliau dengan gagah berani mencabut Inpres yang merenggut kemeriahan Imlek atau lebih dikenal dengan tahun baru dalam kalendar penanggalan Cina (sumber).

Beliau ingin warga keturunan Tionghua yang merupakan WNI di Indonesia bisa merayakan kebesaran tahun baru mereka. Beliau ingin menunjukan bahwa Islam Indonesia adalah Islam Nusantara yang cinta keberagaman Indonesia bukan Islam yang radikal dan fanatik atau istilah lainnya adalah mabuk agama.

Beliau ingin menjalankan amanat Undang – Undang Dasar 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap pemeluk agama bebas dalam menjalankan ibadahnya masing – masing tanpa adanya intimidasi dari pihak manapun. Beliau tidak hanya beretorika belaka tapi beliau menunjukan kerja nyata seperti Presiden kita yang sekarang.

Seperti yang terjadi sekarang, orang baik di negeri ini yang berjuang demi kemajuan bangsa dan negara ini akan diserang dari berbagai arah. Istilahnya seperti anjing yang tidak diberi makan maka akan menggonggong terus. Beliau di tekan dan di makzulkan ketika perjuangan beliau belum selesai untuk negeri ini.

Gus Dur dilengserkan oleh lembaga yang isinya segerombolan politikus yang lebih mirip tikus pada saat itu. Lembaga DPR/MPR yang saat itu sangat getol melengserkan beliau merasa tidak dianggap oleh beliau. Ya jelas saja tidak dianggap, tingkah laku lembaga tersebut dari dulu sudah menyebabkan banyak masalah. Saya rasa anggota lembaga tersebut merasa sakit hati karena Gus Dur tidak mau tunduk pada kehendak mereka pada saat itu (sumber).

Untuk Ibu Alissa Wahid yang saya sangat hormati, Ibu memang harus dan patut bangga mempunyai seorang ayah yang hebat dan luar biasa seperti Gus Dur. Saya yang hanya kenal beliau lewat berita pun merasa bangga punya Presiden seperti beliau yang sangat memperjuangkan toleransi dan keadilan sosial bagi seluruh tumpah darah Indonesia.

Share.

About Author

Hidup untuk belajar Belajar untuk hidup

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage