Kisah Manusia Bertangan Kotor Yang Mau Jadi Pemimpin Bersih

Kisah Manusia Bertangan Kotor Yang Mau Jadi Pemimpin Bersih

4

Walau disangkal bagaimanapun apa yang dilakukan seseorang di masa lalunya tetap akan melekat seumur hidupnya.  Makanya kehati-hatian dalam menjalankan kehidupan ini sangatlah penting, karena apa yang kita lakukan sekarang akan terus kita bawa seumur hidup kita.

Begitu juga apa yang telah dilakukan orang dalam meraih sesuatu akan diingat orang selamanya. Ingat Pilkada DKI kemarin yang berbau SARA?  Walaupun disangkal oleh yang bersangkutan, kita pasti akan terus mengingatnya, diingat sebagai pemenang yang telah menggunakan isu SARA, bahkan menggunakan rumah ibadat untuk kemenangannya.

Tangan-tangan kotor berbau SARA itu walaupun telah dicuci tetap akan bau seumur hidupnya dan tetap akan kotor selamanya, pencitraan kembali tidak akan semudah yang mereka bayangkan.

Tangan-tangan kotor berbau SARA itu walaupun telah dicuci tetap akan bau seumur hidupnya dan tetap akan kotor selamanya, pencitraan kembali tidak akan semudah yang mereka bayangkan. Rekonsiliasi yang mereka tawarkan untuk apa? Karena tujuan mereka sudah tercapai.

Tulisan ini bukan tulisan untuk mengajak orang membenci mereka yang mengotorkan tangannya untuk meraih kemenangan, tetapi mengajak kita untuk mengasihani mereka sang pemenang itu. Ya kasihani sajalah mereka yang sudah mau mengotori dirinya sendiri demi meraih kekuasaan.

Sudahlah marilah kita berpura-puralah saja bahagia dihadapan mereka,bertepuklah tangan didepan mereka, kirimlah bunga kepada mereka, tersenyumlah, supaya mereka senang, karena dengan begitu, mereka yang yang berdalih akan merangkul siapa saja itu, termasuk dengan kaum intoleran munafik dan bersumbu pendek akan hidup dengan baik, walaupun tidak ada jaminan mereka akan tenang. Haus akan kekuasaan dan dendam kesumat, membuat mereka tidak akan tenang seumur hidupnya, selalu melihat sesuat dari sudut pandang negatip itulah yang biasa mereka lakukan.

Entah apa yang mereka banggakan bagi keluarga mereka, anak-anak mereka yang suci dan tidak tahu apa-apa sekarang ini. Entah apa yang akan mereka akan jelaskan kelak bila anak-anak mereka besar nanti dan menuntut jawaban dari mereka,  tentang perjuangan mereka meraih kekuasaan. Apa mereka tega menjelaskan cara mereka meraih kekuasaan secara jujur kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka?

Ketika dendam, dan tidak mau menerima kenyataan bahwa orang lain lebih baik dari dirinya, serta haus akan kekuasaan diramu oleh partai-partai yang penuh dengan manusia-manusia korup menjadi makanan yang lezat dan memabukan,

Ketika dendam, dan tidak mau menerima kenyataan bahwa orang lain lebih baik dari dirinya, serta haus akan kekuasaan diramu oleh partai-partai yang penuh dengan manusia-manusia korup menjadi makanan yang lezat dan memabukan, yang kemudian disodorkan oleh para pemimpin partai korup, dan dicampur oleh uang dan keserakahan, sebenarnya dengan memakan makanan tersebut mereka telah menggali lubang kubur mereka sendiri, yang mereka tidak sadari, karena mereka hidup dalam kebenaran semu yang mereka ciptakan sendiri.

Pertanyaannya bagi kita apa mungkin bagi mereka yang bertangan kotor bisa menjadikan mereka pemimpin yang bersih? Dengan wajah tanpa dosa, tapi tangan berlumpur kotor, apa mereka akan bekerja dengan wajah mereka? Pada akhirnya mereka akan bekerja dengan tangan-tangan mereka yang kotor itu, lalu apa jadinya bila kita dipimpin oleh tangan-tangan kotor? Akankah kita akan menjadi ikut kotor?

Hawa kotor yang kita rasakan mulai tercium, dari gerak-gerik pendukung mereka masyarakat mulai disadarkan. Tapi itu sudah terlambat, nikmati sajalah itulah harga yang harus dibayar saat kita diam saja melihat kekotoran itu.

Pengalaman adalah guru yang paling baik, sudah sering kita dengan hal-hal seperti itu, cukuplah bagi kita untuk belajar dari kejadian-kejadian disekitar kita, cukuplah Pilkada DKI menjadi pembelajaran yang berharga bagi kita, bahwa apa yang dibungkus rapi dengan baju religious  tidak selalu baik.

Sudah cukuplah kita melihat pemimpin bertangan kotor, jangan biarkan mereka bermunculan di negeri tercinta ini.

Sudah cukuplah menjadi orang-orang yang munafik agar dibilang religious padahal kita sendiri tidak mengerti bahwa religi itu seharusnya membawa manusia ketingkat yang lebih baik lagi.

Setiap manusia akan mempunyai dua tanggal yang akan dilihat orang nantinya di batu nisannya, tanggal kelahiran dan tanggal kematian. Waktu antara keduanya yang menentukan sebagai apa kita ingin diingat.

 

Setiap manusia akan mempunyai dua tanggal yang akan dilihat orang nantinya di batu nisannya, tanggal kelahiran dan tanggal kematian. Waktu antara keduanya yang menentukan sebagai apa kita ingin diingat. Terkadang waktu diantara keduanya sangatlah pendek, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk sadar dan berubah, terkadang waktu itu panjang, tetapi tidak juga membuat kita bisa menghasilkan hal yang baik bagi sesama.

 

#NKRIhargamati

Share.

About Author

Animus hominis semper appetit agere aliquid. (Jiwa yang selalu ingin melakukan sesuatu)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage