Klarifikasi TNI AU Tentang Video Pertengkaran Anggotanya Hingga Berdarah-Darah, Ternyata Gara-Gara Istri!

Klarifikasi TNI AU Tentang Video Pertengkaran Anggotanya Hingga Berdarah-Darah, Ternyata Gara-Gara Istri!

5

Video ini menjadi sangat viral sejak Jumat sore di mana menunjukkan Bapak-Bapak berseragam yang tampaknya sedang bertengkar. Salah satu di antaranya ada yang hidungnya berdarah dan terlihat ngos-ngosan sementara yang satu lagi berada di balik pintu. Seorang bapak berusaha menahan pintu agar keduanya tak saling beradu kembali.

Perkelahian itu terjadi lantaran Kolonel Andi merasa kesal dengan Letkol Siswanto karena istrinya ditegur. Istri Kolonel Andi, drg Lini sering memanggil anggota Lakesgilut untuk dimarahi. Mereka yang dimarahi drg. Lini lantas mengadu ke Letkol Siswanto yang menjabat sebagai Seslakesgilut. Letkol Siswanto pun menegur drg Lini. Namun teguran Kolonel Andi kesal Letkol Siswanto menegur. Setelah itu terjadilah perkelahian itu.

Sumber: http://www.suara.com/news/2017/08/11/230344/letkol-dan-kolonel-tni-au-berkelahi-di-halim-perdana-kusuma

Saya jadi ingat beberapa bulan lalu pernah menulis ketidaksetujuan saya soal pengajuan judicial review tentang aturan tidak boleh menikahi teman sekantor yang sempat dilakukan oleh sekelompok orang. Kenapa nggak setuju? Ya karena seperti ini, nantinya di tempat kerja akan banyak muncul conflict of interest.

Sekarang mari kita cermati. Dalam konteks hubungan kerja profesional tentu wajar jika seorang atasan memanggil bawahannya secara struktural dan lingkup kerja yang sama jika ada suatu masalah. Apalagi ini hubungannya dengan kenyamanan suasana kerja. Bisa jadi pegawai lain merasa tidak nyaman karena ada rekannya yang suka memarahi mereka. Di sinilah fungsi atasan hadir untuk menyelesaikan konflik antar pegawai.

Meninjau konteks hubungan suami istri, wajar juga kalau seorang istri bercerita ke suaminya apa yang terjadi padanya di lingkungan kerjanya. Ya kalau nggak ke pasangan mau curhat ke siapa lagi sih yang paling aman dan nyaman?

Nah jadi nggak wajar (dan juga tak etis) adalah ketika ada yang bawa perasaan (baper) karena mendengar curhatan tersebut kemudian langsung ikut-ikutan. Mungkin dalam kasus ini karena aksesnya mudah sebab mereka satu instansi dan saling mengenal sehingga bisa langsung ditemui. Tapi tetap saja kan itu tidak etis dilakukan? Dan akhirnya ya begini bisa jadi karena ada yang merasa pangkatnya lebih tinggi dicampur baper tidak terima istrinya dimarahi.

Sebetulnya semua itu kuncinya ada di pengendalian diri dan kedewasaan berpikir. Tapi dua hal ini teorinya gampang, prakteknya susah. Saya saja sering gagal menerapkannya.

Andaikan si Bapak tidak terpancing dan berusaha menempatkan cerita si istri dalam batasan “oke ini masalah dia, aku cukup jadi pendengar yang baik saja” tentu tidak akan ada video yang viral itu. Cukup misalnya dengan meminta istri bersabar, introspeksi, dan memperbaiki diri misalnya. Kasihan juga sebenarnya kalau lihat si Bapak berdarah-darah dan ngos-ngosan seperti itu. Tentu untuk usia mereka pertengkaran seperti ini nggak baik untuk tensi darah dan kesehatan secara umum.

Dari sisi istripun sebaiknya kita juga tahu diri. Sudah tahu laki-laki itu kalau emosi bisa bertengkarnya main fisik, ada kalanya dalam bercerita dengan pasangan ada hal-hal yang difilter. Pun kalau misalnya kita melihat reaksi si dia sudah penuh emosi itu adalah tugas kita untuk mengerem. Meskipun kita sendiri juga sedang marah.

Sebab kemarahan yang tak terkendali itu ujung-ujungnya hanya membuat kita rugi karena biasanya melakukan hal ‘gila’ yang nggak masuk akal. Contohnya ya seperti ini. Alih-alih masalah istri selesai justru muncul masalah baru. Atasan di TNI AU juga pasti menegur dan memberi perhatian serius karena masalah ini viral. Dari yang awalnya hanya sang istri yang terkena tegur, bisa jadi sekarang suaminya kena peringatan dan sang istri pun ikut terseret juga sebab pasti akan dikroscekkan apa yang sebenarnya terjadi.

Ingatlah wanita, kamu bisa jadi surga untuk lelakimu bisa juga menjadi neraka bagi mereka…

Baca Juga:

“satu-satunya syarat untuk kejahatan menang adalah orang baik tidak melakukan apa-apa” (Edmund Burke).

Share.

About Author

Berbagi pikiran lewat tulisan.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage