Korupsi Dalam Hubungan Asmara

Korupsi Dalam Hubungan Asmara

0

Korupsi bukan lagi sesuatu yang asing kita dengar di negara ini. Hampir seluruh wilayah pemerintahan ataupun swasta, tak luput dari jerat korupsi. Namun, disadari atau tidak, wilayah yang terjangkiti korupsi bukan hanya di pemerintahan ataupun swasta saja. Saat ini,  wilayah korupsi sudah jauh menembus sendi-sendi interaksi antar manusia dalam menjalani sebuah hubungan.

Banyak hubungan antara manusia yang tak luput dari praktek korupsi. Salah satunya adalah hubungan antara individu dengan individu yang mengaku saling mencintai, atau yang sering kita kenal dengan “hubungan asmara”. Mengapa praktek korupsi bisa berkembang subur dalam sebuah hubungan asmara?  Karena  hubungan tersebut tidak berpondasikan cinta yang tulus, melainkan cinta yang semu. Akibatnya, masing-masing pasangan hanya menjadikan hubungan asmara sebagai wadah untuk saling memanfaatkan guna mendapatkan keuntungan pribadi. Untuk mengenali hubungan seperti ini, kita perlu mengenali modus-modusnya agar tidak menjadi korban asmara yang palsu.

Sebenarnya, modus korupsi dalam hubungan asmara tak jauh berbeda dengan modus korupsi pada umumnya.

Salah satu modus korupsi yang terkenal adalah “modus suap”. Sifat modus ini adalah rela memberi apa saja, asalkan tujuannya tercapai.  Perbuatan memberi bukan didasari keikhlasan, tetapi dilakukan semata-mata untuk mendapatkan keuntungan. Kita tentu  masih ingat dengan skandal Bupati Klaten, yang belakangan di tangkap KPK karena ketahuan menerima suap terkait  jual-beli jabatan. Jika pemberi suap tak mampu mengambil hati Bupati Klaten lewat penyuapan, maka jabatan yang diingkan pemberi suap tidak akan di dapatkan. Dalam hubungan asmara pun modus ini terjadi. Wujudnya mirip lirik lagu “Ada uang abang di sayang, tak ada uang abang di tendang.” Lebih jelasnya, seseorang akan rela memberi apa saja—bahkan keperawanannya—sepanjang pasangannya mampu memberi jumlah uang yang ia inginkan. Sebenarnya siapa yang sedang di suap? Pemberi keperawanan atau pemberi duit? Bukankah mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka saling suap-menyuap? Jika modus pasangan yang seperti ini sudah diketahui, mungkinkah untuk mempertahankannya? Saya rasa, baru ditengah jalan: masalah ekonomi datang, hubungan pun berakhir.

Modus korupsi yang kedua adalah pungutan liar. Metodenya, memeras atau  menagih jatah kepada individu dan kelompok tertentu. Sifat dari modus ini adalah “suka memaksakan kehendak  pribadi”. Salah satu pihak merasa dirinya paling dominan. Kita sering bertemu modus seperti ini dalam kehidupan sehari-hari. Lebih khususnya, saat kita menyelesaikan apa pun itu yang berhubungan dengan kelancaran administrasi, kita sering di tuntut untuk membayar melebihi ketentuan demi kelancaran administrasi yang sedang kita urus. Jika kita tidak mau, maka kelancaran administrasi akan mandek atau bahkan batal. Dalam hubungan asmara, modus seperti ini ditandai oleh pemaksaan.  Artinya, salah satu pasangan akan dikorupsi waktu dan tenaganya. Ia akan merasa tak berdaya karena “mau tak mau, harus mau.” Ngak mau jemput, dipaksa harus jemput. Ngak mau temani jalan-jalan, di paksa harus temani. Kalau ngak manut, hubungan asmara akan mandek atau bahkan batal ke pelaminan karena diancam dengan kata “putus”.  Sedih

Modus korupsi yang ketiga adalah penggelembungan anggaran. Contohnya, proyek yang membutuhkan dana 60%, digelembungkan menjadi 70-80 persen. Dalam hubungan asmara, penggelembungan asmara pun sering terjadi. Perasaan yang sebenarnya biasa-biasa saja, dilebih-lebihkan dengan janji cinta mati. Akibatnya, salah satu pasangan yang terbuai janji cinta mati, tidak akan menyadari saat dirinya sedang dimanfaatkan. Kasus seperti ini pernah dialami oleh Nunung Srimulat saat hartanya di bawah kabur oleh pasangannya. Mungkin Nunung bukan terbuai janji cinta mati, melainkan karena faktor  lain. Namun, begitulah penggelembungan asmara. Tidak hanya janji yang bisa digelembungkan, tetapi apa pun yang berhubungan dengan asmara, akan dilebih-lebihkan agar membuat pasangan senang dan percaya sehingga bisa dimanfaatkan.

Berdasarkan ketiga modus korupsi tersebut, percayalah, sepintar-pintarnya koruptor menyembunyikan aibnya, tetap akan ketahuan juga. Asmara yang ‘palsu,’ tak mampu bertahan lama, layaknya obat palsu yang ‘ ketahuan’  beredar di pasaran.  Yang jelas, hubungan asmara yang sekedar mencari keuntungan, tak pantas di jaga dan dipertahankan.

Share.

About Author

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage