Pencerahan dari Balik Penjara

Pencerahan dari Balik Penjara

12

 

sang pencerah

“Saya  ikhlas untuk menjalani ini, untuk memberikan pencerahan kepada seluruh warga. Saya akan terima ini, hadapi dengan tegar, dengan tetap menempuh jalur hukum……………Jangan membenci siapapun,” kata Ahok kepada Djarot dari balik penjara.

Ada 2 hal di sini, yaitu “saya ikhlas” dan “jangan membenci siapapun”. Dua hal yang sesungguhnya tidak mudah didamaikan dalam kehidupan nyata. Tapi, Ahok melakukannya karena ia pribadi yang sudah “kelar” dengan dirinya sendiri. Tidak ada lagi ego yang membatasi dirinya untuk menuntaskan panggilannya untuk mengasihi sesama. Persis seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada dirinya dan kepada semua manusia. Bravo Ahok!

Setelah tekanan politik dan fitnahan yang bertubi-tubi hingga menghantarnya ke penjara, ujaran Ahok di atas  benar-benar jadi sebuah pencerahan bagi kita semua. Bagaimana ia bukan cuma membenci musuhnya tapi malahan mengasihinya. Ini pengalaman spiritual yang luar biasa dari seorang Ahok. Apa yang ia cerahkan untuk kita?

Harus diakui kebanyakan dari kita tidak mempunyai hati ikhlas yang cukup; cukup untuk menerima diri apa adanya; cukup untuk berdamai dengan realita-realita internal maupun eksternal. Ya kita tidak cukup ikhlas  atas semua “balada” (termasuk balada cinta) yang terjadi dalam hidup kita. Akibatnya stress, tekanan bathin, ketakutan, putus asa dan banyak persoalan hidup begitu melekat dalam hidup kita. Sekalipun kita ikhlas selalu ada embel-embel tetapi. Saya ikhlas tapi jangan suruh saya untuk tidak membenci orang itu. Ini namanya ikhlas yang tak ikhlas.

Di sisi lain stress, depresi, putus asa, dan banyak persoalan hidup manusia adalah ciri khas orang terluka. Siapa dari kita yang tidak membawa luka bathin dalam hidupnya? Sebuah kekalahan dalam hidup (apalagi jika didapat karena permainan yang tidak fair) pasti menimbulkan luka. Saya pribadi yang berharap banyak pada perjuangan model Ahok melawan pejabat korup, rasis dan ambisius terhadap kekuasaan, jelas merasa terluka atas cara-cara curang dan licik yang dipertontonkan secara gamblang dan memalukan dalam pilkada DKI baru-baru lalu.

Tapi, saya merasa tidak sendirian. Ini luka berjemaah. Ada banyak orang yang mengalami luka yang sama sehingga sulit menalar “ajakan rekonsiliasi” dari para wahai mendadak bijaksana yang dulu sengaja memecah belah masyarakat terutama dengan isu SARAnya. Harus diakui bahwa saya dan mungkin 42% penduduk DKI mengalami kekecewaaan yang tidak mudah begitu saja diajak rekonsiliasi.

Hebatnya dalam kekecewaan itu masih ada kekuatan cinta yang memampukan kita melakukan “perlawanan”. Salut untuk itu. Berbagai upaya terus kita lakukan secara simpati, entah dengan bunga, lilin dan tidak lupa memanjaatkan doa agar Ahok dibebaskan atas tuduhan penistaan yang tidak ia maksudkan. Untuk apa? Untuk menyalahkan kembali api harapan akan Indonesia yang lebih berkeadilan sosial, Indonesia yang bersih dari pejabat korup, Indonesia yang bisa menjembatani antara si kaya dan miskin dan banyak lagi harapan akan Indonesia yang lebih baik.

Tiba-tiba saya tersadar dengan ungkapan Pak Ahok kali ini. “Jangan membenci siapapun.” Kebencian tidak akan merubah realitas apapun kecuali kita semakin terluka. Nah, pada saat itu kita menjadi lengah. Serangan musuh akan lebih dahsyat, sekalipun mereka diam.

Artinya perjuangan belum usai. Jangan kita terlena dalam kebencian yang menggerogoti hidup dan stamina kita. Kepalkan tangan kembali untuk bangkit untuk menenun kebenaran yang sempat tercabik-cabik. Mari kita saling mencintai lagi karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Penjara Ahok bukan cerita akhir perjuangan untuk Indonesia lebih baik. Anggap saja ini masa ret-reat kita untuk menyembuhkan luka bathin yang menumpuk.

“Ketika kegelapan mencapai puncaknya (biasanya jam 3 pagi, saat kita terlelap, saat yang ideal bagi maling untuk beraksi), itu tandanya cahaya  fajar segera menyingsing.” Percayalah Cahaya Purnama itu akan menjadi benderang kembali di bumi pertiwi ini. Karena tidak ada hukumnya bahwa kegelapan menang atas terang.

Note: ini soal kehidupan. Jika ada kemiripan dengan situasi politik saat ini, itu adalah kebetulan yang memang sudah diatur alam semesta.

 

Share.

About Author

Verba volant scripta manent; ....apa yang diucapkan akan hilang, tapi apa yang ditulis akan abadi. Biasa dipanggil RT. Suka bermain-mind dengan filsafat dan menulis. Masih belajar untuk "berbicara" dan "mendengarkan". Paling suka melamun diiringi 'di zi' (suling dari Cina)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage