Penyebar Hoax, Manusia Yang Kehilangan Sisi Kemanusiaannya

Penyebar Hoax, Manusia Yang Kehilangan Sisi Kemanusiaannya

1

source : internet

Meterai Rp. 6.000 sedang ramai dicari orang kenapa tidak, sejak banyaknya yang tercyduk kasus penyebaran isu SARA di medsos, banyak pihak-pihak yang  membuat surat pernyataan maaf dengan meterai Rp. 6.000 lalu ditandatangan dan berharap Case closed. Case closed nenek lu! Enak saja sudah melakukan perbuatan jahat memprovokasi orang dan menyebarkan berita bohong yang membuat orang menjadi benci dan mempunyai potensi memcah belah bangsa kok enak saja case closed. No way lah, surat dengan  meterai Rp. 6.000 diterima tapi proses hukum jalan terus.

Atau mungkin bangsa kita ini bangsa pemaaf ya, koruptor dan penjahat dielu-elukan bahkan dijadikan pemimpin, lihat saja sudah berapa pejabat Gubernur , Bupati, Walikota, bahkan mantan menteri yang masuk penjara karena kasus korupsi. Mereka malah makin berkibar seolah-olah yang mereka lakukan hal yang biasa. Mungkin mereka menganggap yang mereka lakukan adalah hoax, sehingga peradilannya juga hoax dan vonisnya juga hoax. Enaknya hidup di negeri sejuta hoax.

Lucunya para pembuat hoax dan penyebar hoax di medsos ini selalu koar-koar, saya tidak takoth (sengaja takoth ditulis seperti itu, memang karena yang terdengar ya seperti, karena diucapkan dengan ketakutan, karena bibir dan hati nuraninya tidak sejalan, hati nurani merasa bersalah tetapi bibir egonya berkata lain, ya maklumlah secara orang-orang itu lebih mahir menulis kata-kata daripada bicara. Jadi pada saat bicara maka agak aneh terdengar ditelinga kita.

Secara ilmu psikologis mereka para penyebar hoax di medsos ini disebut sebagai Disinhibition effect. Gampangannya Inhibit itu yaitu perilaku dan effect yaitu akibat, jadinya yaitu tidak mampunya seseorang mengendalikan perilakunya saat dia berada di dunia maya. Misalnya seorang ibu yang suka memaki-maki di medsos yang sangat garang dan sadis jika menulis status, ternyata aslinya seorang ibu yang manis dan pendiam, sabar mengurus anaknya.  Mengapa demikian karena dunia maya itu anonym, dan saat berkomunikasi tidak langsung berhadapan dengan manusia lain, dalam komunikasi didunia nyata yang terjadi adalah mata bertemu mata, saling bertatapan.  Karena tidak bertemu muka langsung maka yang terjadi sifat percaya diri orang-orang itu begitu tingginya, tetapi saat berhadap-hadapan biasanya mengkeret, kayak balon kempes.

Kenapa sih orang bisa berubah jadi kayak gitu di medsos atau  dunia maya? Menurut teori  karena di dunia bisa menyembunyikan identitas atau anonym, kita bisa menjadi siapa saja, pria bisa menjadi wanita, wanita bisa menjadi pria, ibu-ibu bisa menjadi gadis, banyak buktinya kan, malah ada yang sampai menikah ternyata baru tahu bahwa istrinya itu pria, mana tahan. Tidak kelihatan, nah ini dia yang disukai para manusia penyebar hoax di medsos, yaitu karena tidak kelihatan. Jadi walaupun orangnya pendek jelek, bibir ketarik, dia gak ada yang ngelihat, amankan. Karena merasa tidak kelihatan maka penyebar hoax bisa melakukan apa saja seolah tidak terlihat. Tapi eits tunggu dulu, ini yang jarang diketahui oleh para penyebar hoax, jejak digital mereka bisa ditelusuri, sekarang sudah banyak orang yang bisa menelusuri siapa, kapan dimana seseorang berada dari jejak-jejak digitalnya, ini biasa disebut data forensic.

Dalam dunia maya di medsos semua orang sama, atau selevel, nah ini ,lihat saja di facebook atau twitter  semua orang bebas bersuara ada mantan menteri, mantan pejabat, professor, lulusan sd , ahli agama, gak sekolahanpun didalam medsos punya hak menulis yang sama.  Gak Usah aneh kalau ada mantan menteri ikut nyebarin hoax , ada doktor dan professor tuitnya kayak orang gak sekolahan kasar dan sadis, tetapi ada juga anak baru gede abg yang membuat status yang luar biasa bagusnya mengalahkan para orang sekolahan.

Dengan segala kelebihan dunia maya tentu saja perubahan perilaku pasti terjadi  ,menurut William Ernest, bahwa manusia adalah hewan yang berfikir dalam istilah totalitas, dan hewan yang berjiwa. Artinya manusia mempunyai akal pikiran untuk memikirkan segala hal dan manusia memiliki jiwa. Dengan perbedaan yang sedikit saja dengan hewan ini seharusnyalah manusia bisa menggunakan akal pikirannya dan jiwanya untuk bijak dalam ber medsos, olah setiap informasi dengan akal dan pikiran dan jiwa, tetapi masalahnya pikirannya sudah dirasuki oleh nafsu ingin berkuasa dan Tuhan malah dijadikan mainan, sehingga saat ketahuan menyebarkan hoax yang keji bagi orang lain mereka malah tertawa, mereka malah senang orang saling menjatuhkan, para orang yang katanya cendekiawan karena pendidikannya yang tinggi malahan ikut menyebarkan hoax dan memperkeruh suasana.

Begitulah mengapa mereka yang garang di medsos penyebar hoax adalah orang-orang  yang cacat jiwanya, orang-orang yang sudah kehilangan kemanusiaannya karena begitu  didunia nyata dihadapkan pada tanggung jawab, ngeper, loyo dan akhirnya teriak-teriak  dengan suara gemetar  “Saya tidak takoth!” Tapi sibuk cari meterai Rp 6.000 juga, capek deh.

 

#salamwaras #NKRIhargamati

 

 

Share.

About Author

Animus hominis semper appetit agere aliquid. (Jiwa yang selalu ingin melakukan sesuatu)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage