Perjuanganmu Akan Lebih Berat jika Melawan Teman Sendiri

Perjuanganmu Akan Lebih Berat jika Melawan Teman Sendiri

17

Persahabatan (freepik.com, 2016)

Sering ketika mengambil keputusan, kita tidak sepaham dengan teman sendiri. Entah perbedaan pendapat ini disimpan dalam hati atau terus terang dinyatakan.

Hal ini dimulai dari keputusan remeh-temeh seperti mau makan di warteg mana, tingkat cukup serius seperti menentukan sikap ke dosen yang bisa berefek pada nilai akademis, sampai ke urusan sangat serius seperti menasihati teman yang sudah kadung terkena virus salah sangka – di mana urusan itu kalau dibiarkan bukan hanya membawa dia ke jeruji besi, tetapi pertemanan juga ikutan hancur.

Perbedaan pendapat ini biasanya berkutat pada ya dan tidak. Pada dasarnya, semua pilihan selalu berakhir pada ya dan tidak bukan? Akan tetapi, hal sesimpel itu memiliki konsekuensi yang sangat serius, sehingga memang harus ekstra hati-hati, apalagi kalau urusannya dengan teman sendiri.

Perbedaan pendapat dengan teman sendiri lebih sulit dipecahkan ketimbang perbedaan pendapat dengan strangers atau orang yang tidak kita kenal. Masalahnya seperti judul rubrik Seword ini, yaitu urusan hati. Mau bertindak kasar, saya kasihan karena teman sendiri. Mau marah sampai mengamuk, saya takut teman saya ini mengadukan ini ke orang-orang sehingga saya tidak lagi punya teman. Mau menjauh, ah dia masih punya relasi kuat dengan saya. Kalau bahasa kasarnya, saya mengutip perkataan Ahmad Dhani yang menyeretnya ke pengadilan:

“Ingin saya katakan anjing, tapi tidak boleh. Ingin saya katakan babi, juga tidak boleh! … Ingin saya katakan, Presidennya anjing, tapi tidak boleh!”

Ahmad Dhani, ketika berorasi pada demo 411, 4 November 2016

Sementara itu, tuntutan untuk menyelesaikan permasalahan semakin mengemuka. Teman yang tidak waras harus buru-buru diwaraskan, karena kalau tidak bisa mengancam keutuhan pertemanan. Teman yang salah kaprah harus diluruskan pemahamannya. Akan tetapi, begitulah kura-kura hambatannya.

Judul yang saya pilih dikutip dari kata-kata terkenal Bung Karno:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Soekarno

Nah, saya merasa kalau melawan bangsa sendiri rasanya masih cukup mudah ketimbang melawan teman sendiri. Kalau melawan bangsa sendiri tetapi orangnya saya tidak kenal, ya tidak masalah bukan? Saya juga pasti tidak akan bertemu orang itu lagi di masa depan. Sekiranya bertemu, pasti sudah lupa. Nah, lain masalahnya kalau yang berhadapan dengan kita teman, apalagi anggota keluarga sendiri. Kita hari ini boleh cari masalah dengan teman sendiri dengan misalnya mengejek terang-terangan bahwa mereka seperti unta di padang pasir. Akan tetapi, besok-besok hal itu bisa berbalik kepada kita dengan kita disamakan dengan babi mungkin. Tingkat menengah, mungkin kita akan dijauhi dari pergaulan atau terlibat adu mulut atau adu ketikan. Tingkat tinggi, kita bisa berpisah secara harafiah, tidak lagi berteman bahkan kalau ketemu sudah kepalang benci sampai ke ubun-ubun. Tingkat paling tinggi mungkin, teman kita bisa berkhianat lalu “menjual” identitas atau pertemanan kita, dengan tanda kutip ataupun tidak, karena saya tahu ada jual beli data yang nyata di Play Store.

Masalahnya satu, teman sendiri bahkan sahabat sendiri kok melakukan hal setega itu. Apalagi motornya selain kebencian mendalam dan kecintaan mendalam terhadap sesuatu. Sejumlah orang, termasuk pengisi kamar Seword yang indah ini, menyebutnya dengan kaum onoh, sumbu pendek, baperan, delusional, pemaksa kehendak, kerusakan moral, dll. Sifat-sifat inilah yang dianggap Seworders dan orang masih benar logika sebagai tidak waras.

Saya tidak hanya bicara mengenai sumbu pendek di dunia politik saja. Di dunia hiburan, dunia pertetanggaan, dunia kerja, dan dunia akademis juga banyak sumbu pendek yang mempermasalahkan hal di luar ranah politik (om politik campur agama om). Lah, sumbu pendek kan intinya yang mudah tersulut amarahnya, persoalannya belakangan. Saya yang masa mudanya berkecimpung dengan banyak generasi milenial tahu kok yang ribut-ribut hanya gara-gara percintaan macam Justin Bieber-Selena Gomez. Ada kasus #SalahBeli, baik dari yang mengkritik si Gazelle Cross ataupun yang pro, bahkan Gazelle sendiri seakan-akan tidak pernah sekolah mulutnya. Ah tidak perlu jauh-jauh, golongan yang emosi duluan karena dikira ada kuis akibat salah tangkap, padahal informasinya jelas tidak ada kuis di kelas juga tergolong sumbu pendek. Hahaha.

Kok jadi agak tidak berhubungan ya dengan membahas sumbu pendek? Saya ingin mengingatkan, akibat sumbu pendek jarang yang baik, kalau bisa dikatakan tidak ada. Secara general, istilah lain yang saya singgung juga lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, serta tentunya di luar dunia politik banyak, termasuk di kehidupan sehari-hari.

Kaum delusional saya ambil sebagai contoh lain. Saya pernah lihat ada penggemarnya Justin Bieber, Belieber, yang minta ampun deh kalau mengidolakan sampai mengarang cerita “ah gue pernah jadi istrinya Justin Bieber” padahal dia tahu itu ditertawakan orang. Mengaku istrinya artis papan atas itu, katanya tahu melebihi emak bapaknya, padahal ya copas dari toko sebelah (bukan nama film!). Ada yang ketika Zayn Malik keluar dari One Direction sampai pakai acara #CutForZayn, ih, sebagian fans Zayn yang lain saja ngeri melihatnya. Bagaimana tidak, konten yang seharusnya ada di kamar Disturbing Picture Kaskus bisa menyeruak ke permukaan trending topic, terpampang nyata di Instagram feed, bikin bergidik ngeri lihat sayatan bertulisan ZAYN. Delusi anak-anak ini adalah sang idola memerhatikan gerakan mengerikan ini lalu membatalkan niatnya keluar dari One Direction, padahal idolanya tak lama kemudian keluar lagu “Bantal Ngomong”.

Ya, kalau menjelaskan mengapa senekat itu orang, karena itulah kenikmatan dia sebagai fans. Sedihnya, ketidakwarasan ini menyebar di mana-mana. Bahkan risikonya kalau saya melanjutkan cerita menyindir fanboy kurang waras begini, Seword bukan hanya diserang kaum sapi, tapi bisa diserang komunitas fanbase juga seperti akun Twitter @Negativisme dulu.

Orang-orang yang kurang waras itu ada di sekitar kita. Celakanya, ketika kita berusaha menyadarkan, kita bisa terjebak dalam kuldesak. Buntu, bukan nama daerah di antara Cilacap dan Purwokerto. Serba salah, persis lagunya Raisa. Kita diberikan dua tuntutan, mempertahankan hubungan tetapi juga mewaraskan sebagai tanggung jawab teman. Tidak semua orang piawai bermain di sini lho, makanya banyak pertemanan penuh canda tawa bisa ribut gara-gara kisruh politik begini. Entah dari kitanya yang salah atau dianya yang salah.

Orang yang ingin mewaraskan juga bisa salah lho dalam cara pendekatan yang terlalu imperatif atau menyuruh-nyuruh, bukan pendekatan dekat mengakar ala blusukan yang lagi trend belakangan. Salah-salah, orang yang ingin diwaraskan dan dicerahkan pemikirannya malah semakin larut dalam pemikiran yang salah tersebut.

Saking susahnya, banyak pejuang yang ingin mencerahkan pemikiran bangsa jadi tersendat atau terhenti langkahnya, karena sadar lawannya adalah teman sendiri. Ketika lawannya orang populer yang tak mengenal dirinya, minimal sebelum informan menyerahkan data pribadi yang berhasil terkumpul, dia feel free, bebas dalam mengungkapkan perasaannya. Saking merasa tidak kenal dan tidak akan dituntut oleh yang dihina, uang bisa dijadikan bercandaan, tidak hanya pada momen Dwi Estiningsih, tetapi momen akun Dagelan menggunakan uang rupiah untuk bercandaan tahun 2014. Saya ingatkan supaya tidak lupa.

Penghina Rupiah di Instagram @dagelan (Kaskus, 2014)

Kita yang biasanya mencak-mencak di media sosial, marah-marah, beropini sebebas berteriak di tepi pantai, seketika tidak berkutik ketika tahu lawannya adalah orang terdekat kita. Minimal kenal dengan orang terdekat. Bukan berhenti, tetapi hati-hati. Risiko melawan orang terdekat benar-benar ngeri di sini. Strategi seringkali harus diubah total, karena pendekatannya sudah berbeda. Mengubah pemikiran orang terdekat butuh pendekatan ekstra, mengingat orang terdekat sudah tahu seluk-beluk kita begitu dalam.

Mendekati orang terdekat seperti saudara dan teman sendiri memang terlalu mudah, setiap hari pasti bertemu. Masalahnya, mengubah isi hati dan pikiran mereka yang seringkali sulit. Memang mudah kalau orangnya pengertian dan mudah diajak bicara. Nah, kalau berhadapan dengan teman yang berkepala batu atau berkepala api lain kasus. Di sinilah kepintaran komunikasi, kepiawaian menyelesaikan masalah, kemampuan interpersonal, dan kepandaian melobi bermain. Menurut saya, hanya orang yang hebat yang mampu mengubah pemikiran teman dekatnya yang sesat menjadi benar.

Sekali lagi benar ungkapan Bung Karno yang dipelesetkan itu. Melawan teman sendiri jauh lebih susah karena adanya tuntutan untuk menjaga relasi dengan kawan, saudara, teman, dan kolega kita. Melawan teman sendiri, orangnya keras kepala, apalagi topiknya politik, wah sudah serasa nonton film Suzanna 3 hari 3 malam. Hanya orang yang hebat dan pemberani tingkat tinggi yang berani nonton film Suzanna 3 hari 3 malam, berarti yang berhasil mewaraskan teman dan saudara sendiri itu sudah sehebat dan segila orang yang mau nonton film horor selama itu. Tentunya waras yang dimaksud seperti mimpi penulis Seword sekalian, yaitu bebas dari fitnah kaum onoh dan ketidakwarasan yang mengganggu bumi ini.

Begitulah kura-kura.

Share.

About Author

Begitulah seword, cap kura-kura! www.misael.id dan instagram @saelz

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage