Saya Tidak Ikhlas……

Saya Tidak Ikhlas……

32

quick-count

“Kalah ya kalah, jangan banyak alasan” begitu seorang kawanku berusaha sok bijaksana. Dan saya sebagai pengagum berat (kinerja dan integritas) Ahok 1000 persen tidak setuju dengan pendapat yang seolah menunjukkan keikhlasan tingkat tinggi itu. Saya tidak mau keikhlasan saya sia-sia untuk sesuatu yang tidak benar. ” Jadi, kamu tidak ikhlas?” tanya dia lagi. Tidak, kalau kekalahan Ahok dikarenakan oleh fitnah dan sentiment agama. Saya ikhlas kalau memang ini rencana Tuhan, karena Ahok sendiri yang bilang kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan pula yang ambil. Masak Tuhan lu lawan? Toh, saya tetap mengucapkan selamat atas kemenangan Anies dalam “perang badar”nya.

Keikhlasan saya tidak membabi buta. Ahok boleh saja berserah diri, tapi saatnya kita warga DKI berjuang lagi walau berduka. Saya punya banyak alasan untuk bersedih kenapa Ahok dibiarkan kalah. Analisa-analisa psikologis, spiritual, politik, ekonomi, budaya bertebaran di media social, mungkin juga di kantor-kantor. Mungkin tidak di warung-warung kopi pinggiran yang mensyukuri kekalahan Ahok ini. Tidak semuanya mengobati kekecewaan saya. Tapi, sekurang-kurangnya saya merasa tidak sendirian. Banyak teman sepenanggungan.

Reframing psikologis, spiritual, politik pun dilontarkan banyak pendukung Ahok yang kecewa tapi berusaha berbesar hati.  “Ahok diselamatkan Tuhan dari orang-orang fasik dan jahat. Kekalahan Ahok adalah awal dari kebangkitannya. Kemenangan yang diraih lawannya dalam “perang badar” ini adalah awal dari kejatuhannya. Kekalahan Ahok adalah kemenangan sebuah fitnah, siap-siap Jakarta menanggungnya. Kekalahan Ahok adalah kerugian bagi warga Jakarta, bukan sebaliknya” Semua reframing ini menarik dan menunjukkan emphatic yang dalam pada Ahok.

Reframing itu menunjukkan banyak hal yang tidak beres di balik kekalahan Ahok. Sandiwara yang dimainkan menyakitkan. Reframing itu sebenarnya bentuk perlawanan terhadap kekalahan Ahok. Bagaimana tidak melawan? Bahkan seorang anak muda (anak seorang kawan) saja bisa berujar, ” Sungguh malangnya warga DKI. Mereka membuang intan bersinar hanya untuk mendapat uang receh dan nasi bungkus.” Bagaimana hati ini tidak melawan ketika secercah harapan untuk DKI yang lebih baik dihalang-halangi.

Masih hidup dalam kenangan saya waktu mau mengurus satu surat di kelurahan beberapa puluh tahun silam. Setelah bolak-balik, akhirnya saya boleh pulang membawa berkas yang saya butuhkan. Tentunya dengan sejumlah rupiah. Tiba-tiba petugas menarik kembali surat tersebut. “Ternyata kamu cina ya, ketahuan dari nama bapakmu (kebetulan wajah saya sedikit bertampang pribumi karena terlalu banyak main layangan waktu kecil). Tambah sepuruh ribu lagi,” katanya. Mau menangis rasanya mengingat uang tinggal Rp. 3000 untuk ongkos pulang waktu itu. Lalu saya bergegas pulang tanpa surat yang sangat saya butuhkan itu. Sejak itu saya berharap saya punya pahlawan di lembaga pemerintahan di DKI ini.

Setelah menunggu lama, akhirnya sosok pejabat seperti Ahok datang. Satu-satunya di tengah lautan politikus oportunis di negeri ini. Sekarang? Dia akan pergi lagi. Mudah-mudahan story saya tidak berulang ketika saya harus berurusan dengan orang kelurahan, kecamatan dan balai kota.

“Pemahaman nenek lo..!!” Saya pasti rindu ucapan santun dilontarkan pada orang-orang kasar yang suka nilep duit rakyat dari tingkat RT bahkan sampai tingkat DPRD. Setelah Ahok, adakah pejabat yang berani mengulangi spiritnya, sekalipun kata-katanya diganti dengan yang lebih santun? Misalnya “Tidakkah kamu tega mengambil uang rakyat dan menggunakannya untuk kepentingan diri sendiri. Itu tidak membuat rakyat bahagia. Nanti kamu masuk neraka loh.” Ha..ha…preet! Bagi koruptor tidak ada istilah neraka bro.

Saya jadi ingat bagaimana Mantan Mendagri ikut “kuliah umum” politik dari Ahok ketika Ahok menjelaskan dasar penunjukkan Lurah Susan itu konstitusional. Soal E-KTP, mendagri waktu itu, Gamawan dan teman-teman di DPR komisi 2 dibuat pusing karena Ahok sulit sekali diajak kongkalikong. Alih-alih kongkalikong, Ahok ngotot bahwa perhitungan mereka salah.

Siapa bilang Ahok tidak mahir dalam politik? Benar ia tidak mahir dalam politik kotor. Tapi, ia sangat unggul dalam politik nurani yang bersih. Itulah yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Sebagai seorang administrator keadilan di DKI ini, ia lugas ketika bicara soal program dengan delik angka yang mendengarnya saja kita mengangguk-angguk kagum. Saya pasti merindukan hitungan detil Ahok untuk permasalahan kusut di DKI ini.

Untunglah hati ini terhibur ketika melintasi RPTRA Kalijodo yang indah dan menawan. Menikmati lalu lintas Jakarta yang lancar ketika memandangi Busway yang lengang dengan Bus-bus besar ciamik yang melintasinya.   Saat memandangi sungai-sungai bersih di Jakarta, hati ini jadi damai. Mendapatkan pelayanan yang ramah dari wajah-wajah manis di kelurahan dan kecamatan itu sesuatu banget loh. Jakarta semakin cantik dengan trotoar-trotoar yang memanusiakan para pejalan kaki. Ah, masih banyak lagi karya Ahok yang monumental.

Hasil quick-count pilkada kemarin Ahok-Djarot kalah. Apakah kita mesti berdiam diri menerima kekalahan begitu saja? Menangis begitu saja mengenang kebaikan dan ketulusan Ahok? Tidak! Ini saatnya melanjutkan perjuangan Ahok. Banyak cara yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah dengan menolak lupa pada janji dari paslon 3 agar fondasi yang dibuat Ahok tidak diobrak-abrik semaunya. Itu pun masih ada keraguan dalam diri. Kita lihat saja kalau begitu.

Tinggal satu kekawatiran besar tertanam di hati. “ Sebentar lagi tikus-tikus akan berpesta pora, ketika sang kucing pergi.” Hati ini jadi gundah lagi.

Share.

About Author

Verba volant scripta manent; ....apa yang diucapkan akan hilang, tapi apa yang ditulis akan abadi. Biasa dipanggil RT. Suka bermain-mind dengan filsafat dan menulis. Masih belajar untuk "berbicara" dan "mendengarkan". Paling suka melamun diiringi 'di zi' (suling dari Cina)

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage