Sempat Tak Suka Laki-laki, Akhirnya Wanita Ini…

Sempat Tak Suka Laki-laki, Akhirnya Wanita Ini…

0

Cantik tapi belum dapat pasangan. Apa sebabnya?

Urusan menemukan jodoh memang gampang-gampang susah. Dikejar lari, tak dikejar malah datang. Ada juga yang putus asa hingga tak lagi memikirkan untuk mendapatkan pasangan. Namun, benarkah mereka benar-benar tidak mau lagi menemukan pasangannya?

Beberapa waktu lalu, klien wMawarta, usia 39 tahun, sebut saja namanya Mawar, datang dengan keluhan tak tahan dengan tekanan agar dirinya segera mengakhiri masa lajang. Sang wMawarta karir sebuah perusahaan swasta ini, di sesi konsultasi dengan tegas mengatakan, hidupnya akan baik-baik saja walau tanpa kehadiran seorang suami.

Saya hanya menyimak dan mendengarkan semua yang disampaikan dengan seksama, sembari menelisik, mana di antara keterangannya itu yang menjadi sumber masalah. Meski sebenarnya, saya tidak akan peduli dengan penyampaian saat klien sadar. Jawaban paling utama yang dibutuhkan adalah ketika dia dalam kondisi relaksasi yang nyaman dan dalam.

“Buktinya sampai sekarang, hidup saya baik-baik saja. Tenang-tenang saja. Tanpa suami, hidup saya ngga kiamat kok,” tegasnya. Yang jadi masalah adalah lingkungan di rumah dan lingkungan kerjanya.

“Saya ngga tahan dengan omongan orang rumah. Di sisi lain, saya menghormati mereka, orang tua dan keluarga saya. Tapi kalau sudah menyinggung soal cucu, rasanya saya lebih baik minggat jauh-jauh,” ulasnya.

Begitu pula ketika di kantor, tak sedikit yang menyindir soal status jomblonya. Belum lagi iklan di-TV yang sengaja kalimatnya diulang oleh rekan kerjanya, meski niatnya bercanda. “Truk aja gandengan…”

Kesendiriannya ini pula yang kadang membuat beberapa rekan kerjanya yang pria, bahkan atasannya, mencoba menggodanya. Namun dia mengaku, sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki.

“Laki-laki itu sumber masalah,” ucapnya dengan tatapan yang seolah berisi sesuatu yang sangat dalam. Sepertinya, inilah akar masalahnya.

Setelah dibimbing menggunakan teknik tertentu, memori bawah sadar Mawar ternyata terlempar ke usia 12 tahun. Yaitu ketika mengalami pelecehan seksual oleh pamannya sendiri. Ketika itu Mawar sedang tertidur siang di ruang tengah, di depan ruang televisi. Saking capeknya pulang sekolah, Mawar sampai tidak sempat berganti baju dan tertidur di sofa.

Saat itulah, entah bagaimana awalnya, Mawar terkejut ketika mendapat dirinya merasa tidak nyaman. Saat buka mata, tiba-tiba dia sudah melihat ada pamannya sedang berlutut di hadapan dia, dan sedang melakukan (maaf) onani.

Kontan saja Mawar teriak. Namun, mulutnya segera dibungkam oleh tangan pamannya. Sang paman buru-buru menghentikan aksinya dan kabur. Kejadian di atas merupakan akar masalah yang membuat Mawar enggan membuka hati untuk laki-laki, sekaligus mengalami trauma yang sangat dalam.

Untuk menetralisir trauma ini, Mawar kemudian dibimbing menggunakan teknik khusus agar tidak lagi punya perasaan tidak nyaman setiap dekat dengan laki-laki. Hasilnya, klien merasa lega, plong dan sangat nyaman.

Tiga hari setelah proses terapi itu, saya sempat menanyakan kondisinya. Mawar merasa jauh lebih nyaman, dan bisa bekerja bisa lebih tenang. Walaupun dia tetap dituntut keluarganya agar segera menikah, namun dia merasa biasa saja dan merasa kualitas hidupnya jauh lebih baik. “Sekarang benar-benar nyaman, pak,” tulisnya singkat ketika itu.

Setelah hampir tiga bulan, ternyata ada kabar menggembirakan. “Maaf pak, saya lupa kasih informasi. Barusan saya baru selesai akad nikah,” sebutnya (20/4) sore tadi.

“Katanya ngga suka laki-laki?” tanya saya bercanda. Dia hanya membalas singkat dengan emoticon senyum. Selanjutnya dia pun memohon doa restu agar ke depan perjalanan rumah tangganya bisa lancar.

Lantas siapa suaminya? Pria ini adalah temannya waktu SMP yang memang sangat suka dengan Mawar. Namun ketika itu Mawar sama sekali tidak punya perasaan kepada laki-laki.

“Saya ketemu dengan dia pas ada acara kantor di Jakarta, pak. Ya terjadi begitu saja. Karena sudah sama-sama injury time, ngga usah pakai pacaran. Langsung saja lamaran,” kisahnya.

Baik orang tua Mawar maupun orang tua dari suaminya, tidak menetapkan syarat yang repot dan rumit. “Yang penting bukan pesta pernikahannya, tapi kehidupan setelah ijab Kabul,” tuturnya. Itu pula yang melatari dirinya melangsungkan pernikahan dengan sederhana dan tidak banyak mengundang tamu. “Hanya teman, kerabat, orang dekat atau keluarga dekat,” sambungnya.

Selamat ya Mawar. Semoga bahagia dan segera mendapatkan buah hati. (*)

 

Share.

About Author

Hobi menulis, menyukai dunia teknologi pikiran.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage