Surat Cinta untuk Ahok

Surat Cinta untuk Ahok

15

Bagi pejuang-pejuang yang membela Ahok di luar sana maupun para penulis seword, Ahok bukan hanya sosok gubernur. Melebihi itu semua, Ahok adalah simbol perjuangan melawan radikalisme, korupsi, dan ribetnya birokrasi selama ini. Sangatlah wajar buat kami, para pejuang Ahok ini sangat sedih dan kecewa ketika melihat hasil quick count kemaren. Rasanya sangat susah move on dan melanjutkan menulis di seword. Jujur dari dalam hati saya, baru kali ini saya meneteskan air mata ketika ada pejabat publik yang tidak terpilih ketika pilkada.

Saya pernah membuat pengakuan di salah satu media sosial bahwa dulu saya sama tidak peduli dengan politik karena menurut saya, orang yang ingin berkecimpung di dunia politik adalah orang yang tidak benar. Tetapi pandangan itu dipatahkan dengan kehadiran Jokowi dan Ahok. Awalnya saya skeptis melihat mereka berdua mau mencalonkan diri menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta melawan Foke. Yang satu dari Solo dan yang satu dari Belitung ingin melawan petahana yang sudah punya pengikut banyak. Yang satu kelihatan tidak tegas dan yang satu WNI keturunan tionghoa. Kombinasi maut yang dipandang sebelah mata tidak hanya kebanyakan warga Jakarta, tetapi hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Awalnya saya mencibir keberanian mereka berdua dengan ideologi yang mereka tawarkan ketika kampanye pemilihan gubernur Jakarta. Ketika itu, saya menjadi salah satu warga yang golput dalam pemilihan karena sama sekali tidak ada sedikit kepercayaan yang tersisa dalam diri saya untuk pejabat publik karena begitu susahnya birokrasi untuk warga-warga yang tidak punya uang dan kekuasaan. Muak adalah kata sifat yang cocok menggambarkan perasaan saya ketika itu.

Tetapi semua stigma di dalam pikiran saya mengenai tidak ada orang baik di dunia politik dihancurkan ketika mereka berdua terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta tahun 2012 menggantikan Foke. Saya awalnya berpikir mereka berdua terpilih pun hanya kebetulan karena banyak warga Jakarta yang bingung ingin memilih siapa akhirnya asal-asalan nyoblos mereka.

Tepat setelah mereka dilantik, saya mulai merasakan perubahan-perubahan di Jakarta. Perubahan itu terasa nyata sekali dan kelihatan. Pelan-pelan sifat apatis saya terhadap politik memudar karena mereka berdua, tetapi saya masih memilih untuk diam saja karena saya dulu adalah seorang yang suka cari aman dan cinta damai. Ya, saya menikmati segala pencapaian Jokowi-Ahok di Jakarta dan mengharapkan Jakarta menjadi kota maju setidaknya layak disandingkan dengan Singapura. Saya diam dan menikmati hasil karya mereka untuk Jakarta.

Singkat cerita, Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden tahun 2014 dan akhirnya naik duduk di kursi presiden menggantikan SBY. Saya senang karena masa pemerintahan sebelumnya berakhir juga setelah 10 tahun tetapi sekaligus khawatir karena apa benar pilihan saya, Jokowi, yang notabene bukan seorang Jenderal akan memimpin Indonesia. Puji Tuhan, semua itu ditepis Jokowi dengan menunjukkan terobosan-terobosan baru untuk Indonesia.

Jokowi menjadi presiden RI, otomatis kursi gubernur Jakarta yang masih 3 tahun pindah tangan ke Ahok, WNI keturunan tionghoa. Ahok dengan karakter beringas melibas siapapun yang ingin mencuri uang rakyat dan terkenal dengan sikap tidak kompromi membuat dirinya dimusuhi hampir seluruh pejabat publik yang duduk di DPRD. Tetapi dirinya tidak peduli, dirinya terus menegakkan hak-hak rakyat kecil. Seluruh pihak yang ingin bermain dengan anggaran pasti dilibas habis oleh Ahok.

Sayangnya, sikap tegasnya membuat musuh-musuh Ahok bersatu dan merancang rencana agar bisa melengserkan Ahok dari kursi gubernur. Segala cara dilakukan, mulai dari demo gubernur tandingan, rekayasa korupsi rumah sakit Sumber Waras, isu reklamasi membela pengusaha-pengusaha tionghoa, sampai memfitnah istri Ahok sudah dilakukan. Tidak ada cara yang berhasil menurunkan Ahok dari kursi gubernur sampai jabatan dia sudah diambang batas waktu 5 tahun pergantian gubernur. Ketika Ahok membutuhkan 51% untuk kembali melayani warga Jakarta, perjuangannya adalah perjuangan yang patut diacungi 2 jempol.

Saya yang dulu apatis dan cenderung suka main aman memutuskan untuk menulis di seword dengan tujuan melawan kabar-kabar hoax di luar sana dan ingin mengajak pembaca melihat semua hal dari dua sisi. Saya mulai menulis artikel-artikel agar pembaca seword tidak melihat suku atau agama dari seorang calon pemimpin daerah, tetapi programnya. Ketika pada akhirnya Ahok juga kalah karena isu-isu seperti itu, saya merasa kecewa sekaligus lega karena setidaknya saya pernah berjuang bersama Ahok meski melalui tulisan acak-acakan saya.

Ijinkan saya menulis sepucuk surat cinta untuk Ahok, dimanapun beliau berada sekarang.

Pak Ahok, sampai ketika pidato kerjamu di pulau seribu diubah dan disebarluaskan seolah-olah kamu menista agama dan menjadikan kamu seperti kriminal, pesakitan yang berbulan-bulan harus menjalani sidang. Setiap minggu harus keluar masuk pengadilan dan didemo segerombolan massa sampai berjilid-jilid tidak menyurutkan perjuanganmu menjaga uang rakyat dari tangan-tangan maling anggaran.

Jangan tanya perasaan saya ketika saya melihat kamu menangis di ruangan sidang pertama kali, hati saya ikut hancur berkeping-keping melihat kamu yang begitu kuat akhirnya menangis karena ketidakadilan yang sedang terjadi di bumi ibu pertiwi, tempat di mana kamu lahir dan besar. Saya adalah dari sekian banyak orang yang percaya bahwa air matamu itu adalah air mata tulus. Sakit hati ketika melihat kamu menangis di pelukan kakak angkatmu yang masih saja dicemooh orang-orang bahwa itu rekayasa semata.

Pak Ahok, ijinkan saya warga Jakarta biasa, yang bukan siapa-siapa ini mengucapkan terima kasih banyak.
Perjuanganmu melindungi uang kami akan selalu diingat oleh seluruh anak negeri Indonesia.
Kegigihanmu membela kepentingan umum akan selalu kami kenang di dalam hati.
Percayalah, kami pejuangmu masih ada di sini, masih siap membelamu apapun posisimu kelak di Indonesia.

Pak Ahok, jangan patah arang.
Sebab benar seperti yang engkau bilang di konpers ketika tahu engkau telah kalah pilkada dari lawanmu.
Hanya Tuhan yang bisa memberikan maupun mengambil sebuah jabatan. Tanpa seijin Tuhan, tidak ada seorangpun yang bisa menjabat.

Pak Ahok, tetaplah menjadi Ahok yang kami kenal.
Tetaplah lemah lembut kepada orang yang membutuhkan pertolonganmu
dan tetaplah garang kepada oknum-oknum jahat yang ingin merongrong hak rakyat kecil walaupun engkau telah kalah dalam pilkada.

Pak Ahok, sosokmu akan kami kenang sampai akhir hayat kami.
Kebaikanmu memperjuangkan kebenaran akan kami teruskan ke anak cucu kami.
Terima kasih karena kamu menoreh sejarah untuk bangsa Indonesia dengan kalahnya kamu di pilkada bukan karna program dan cara kerjamu. Kekalahanmu adalah kekalahan terhormat.

Pak Ahok, tidak perlu menyesal lahir di tanah air Indonesia sebagai minoritas.
Karena kamu akan dikenang sebagai salah satu putera terbaik WNI yang jujur dan bersih.
Karena kamu akan menjadi pahlawan pejuang kebenaran di benak kami yang akan kami teruskan ke anak dan cucu kami.
Semoga gigihnya perjuanganmu menginspirasi semua anak muda Indonesia.

Pak Ahok, ijinkan aku berdoa untuk kebahagiaan dan kesehatanmu.
Semoga kamu selalu dilindungi oleh Tuhan apapun kondisimu sekarang.
Semoga kamu selalu sehat dan bahagia apapun rintangan di depanmu.

Pak Ahok, tetaplah tersenyum!

Salam hormat untukmu, Pak Ahok.
Salute!

Share.

About Author

Tukang hitung bangunan yang gemar menulis

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email [email protected], jika layak nantinya akan diberi akses sebagi penulis seword. Admin akan mereview setiap karya yang masuk sebelum layak ditayangkan.

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke [email protected]

    Alifurrahman
    BBM: 74B86AE4
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage