Teroris Cicendo VS Teroris Los Angeles

Teroris Cicendo VS Teroris Los Angeles

7

Teroris kembali berulah. Ya, tingkah polah suatu kelompok yang telah dicap sebagai gembong teroris ini, sepertinya tidak ada habis-habisnya. Satu demi satu, serangan teror dilancarkan. Satu selesai, ada lagi serangan berikutnya-berikutnya. Sasarannya pun semakin beragam. Mulai dari diskotik, kafe, tempat wisata, hotel. Termasuk tempat ibadah, kantor polisi, lalu pos polisi di pinggir jalan pun, tak luput dari aksi para cecunguk tersebut. Ada satu lagi yang perlu ditambahkan ke dalam daftar sasaran para teroris itu: kantor kelurahan.

Oo what…?? Kantor kelurahan…? Are you kidding…??!

Tidak ada angin, tidak ada hujan. Di hari Senin yang super hectic, tiba-tiba muncul satu kabar yang sangat menjengkelkan. Bagaimana tidak menjengkelkan…? Ada satu lagi peristiwa serangan teroris. Tetapi, tunggu. Kali ini, jangan bayangkan serangan teroris yang ‘spektakuler’ macam WTC 11 September 2001. Atau serangan di hotel Mumbai pada November 2008 lalu.

Dengan menggunakan sebuah bom panci, sebuah ‘serangan’ dilancarkan. Dan kali ini yang ketiban sampur adalah Bandung. Kota sejuk nan sentosa. Sebuah kota yang sebelumnya tidak pernah terdengar sebagai sasaran serangan teror. Atau setidaknya, jarang sekali oknum kelompok teroris yang menggunakan Bandung sebagai home base. Tetapi apa yang terjadi di hari Senin, 27 Februari kemarin, akan mengubah pandangan orang kebanyakan akan kota Bandung. Bandung juga diserang, euy…!

Entah apa yang ada di benak para oknum teroris tersebut. Mereka menggunakan sebuah bom yang dirakit di dalam panci. Kemudian meledakkannya di sebuah lapangan. Lalu mereka lari tunggang-langgang menuju sebuah kantor kelurahan, yang tidak jauh dari lapangan tempat dimana bom telah diledakkan. Para teroris ini tak lupa ‘berbuat onar’ di kantor kelurahan, seraya berteriak-teriak hendak menyampaikan suatu tuntutan.

Buat para Densus 88…, segera bebaskan teman-teman saya…!!!

Kurang lebihnya seperti itu, kronologi peristiwa bom panci yang kudengar dari media massa, kemarin. Kejadian yang berlangsung di kecamatan Cicendo, Bandung, itu, tentu saja menghentak perhatian khalayak ramai. Namun yang pasti, serangan teroris ini telah berhasil menarik perhatian dari aparat keamanan: polisi. Padahal, segenap aparat kepolisian sedang berkonsentrasi untuk melakukan pengamanan. Khususnya pengamanan terhadap tempat-tempat yang akan dikunjungi oleh tamu negara yang ‘cukup’ penting.

Ya, semua sudah pada paham. Kalau besok, Raja Salman dari kerajaan Arab Saudi akan bertandang ke Indonesia. Bahkan Raja Salman membawa bala kurawa yang tidak tanggung-tanggung. Menurut kabar yang kudengar, rombongan Raja Salman menggunakan empat pesawat. Woow…, bisa terbayang, sih. Berapa banyak person yang menyertai raja yang satu ini.

Aku lumayan setuju dengan pendapat salah satu narasumber, di sebuah acara televisi yang membahas serangan teror di Bandung kemarin. Bahwa apa yang terjadi ini, merupakan salah satu upaya untuk mengalihkan perhatian pihak kepolisian. Walaupun serangan teror yang dilakukan ‘hanya’ dengan bom panci, tetapi tujuan mereka rasanya telah tercapai. Bisa jadi, konsentrasi aparat kepolisian sekarang terpecah. Terbagi antara penanganan pasca bom Cicendo, dan persiapan untuk pengamanan kedatangan Raja Salman.

Kembali ke kelompok terorisnya. Aku masih heran saja. Apa ya…, tujuan sebenarnya dari oknum yang meledakkan bom di lapangan itu? Pikiran liarku mengatakan, kalau oknum teroris itu sedang test drive. Mereka sedang mengujicoba, bagaimana ‘kekuatan’ dari bom yang mereka rakit di dalam sebuah panci! Jadi jika berhasil dan mempunyai daya eksplosif sesuai dengan yang mereka harapkan, mereka akan kembali ‘memproduksi’ bom panci seperti itu.

Maaf maaf. Perlu aku garisbawahi, ya. Tulisan ini ‘kan opini. Jadi jangan terlalu serius dalam membacanya. Juga, aku tidak akan memaksamu untuk percaya dan setuju dengan segala asumsi yang aku abadikan di dalam tulisan ini. So take it easy…, hahaa.

Mengutip dari narasumber yang kutonton di televisi tadi, serangan teror di Bandung kali ini, memang kurang direncanakan dengan matang. Bahkan tidak matang sama sekali. Serangan dilakukan secara sporadis. Bahkan mungkin saja bernuansa spontanitas. Tidak mempunyai target serangan fisik yang jelas. Pokoknya asal meledak! Pokoknya asal menyerang! Itu saja.

Kalau menurutku, peristiwa di Bandung ini, mirip dengan peristiwa serangan tunggal yang dilakukan oknum teroris terhadap petugas kepolisian, di sebuah poslantas yang ada di Tangerang beberapa waktu yang lalu. Serangan sporadis, membabi buta, tanpa ‘senjata’ yang memadai. Pokoknya menyerang polisi! Dan menunjukkan eksistensi.

Ingin menunjukkan pada semua, bahwa mereka masih ada…

Sekarang harapanku cuma satu. Semoga aparat kepolisian tidak begitu terganggu dengan adanya serangan di Bandung kemarin. Semoga aparat bisa segera mengetahui. Siapa dalang peristiwa tersebut. Lalu apa, tujuan sebenarnya yang ingin dicapai. Semoga aparat kepolisian tetap waspada, dengan segala gerak-gerik kelompok teroris. Apalagi bakal ada tamu ‘istimewa’ yang hendak bertandang ke Indonesia.

 

Teroris Cicendo VS Teroris Los Angeles

Begini. Sebagai penonton setia dari televisi nasional, ada satu momen yang ingin kuabadikan saja. Setelah cukup informasi terkait peristiwa bom panci yang ada di Bandung, aku mencari channel nonberita untuk sekadar refreshing. Saluran Global TV yang biasanya menjadi langgananku karena film-film impornya yang lumayan bagus, kali ini tidak kupilih. Karena kalau aku memaksakan menonton Global TV dan muncul ide untuk ‘cocoklogi’ kembali, aku belum siap untuk menerima bully-an.

Ya, di tulisanku sebelumnya, aku dianggap melakukan cocoklogi. Cocoklogi yang melibatkan Hary Tanoe, yang notabene pemilik Global TV. Dan alhasil, tulisanku dikomentari oleh para HT lovers. Komentar-komentarnya sudah bisa ditebak kali, yaa. Hahaa.

Sandra Bullock dan Keanu Reeves, pemeran utama film SPEED. Source: craveonline.com

Akhirnya pilihanku jatuh kepada Trans TV. Entah kebetulan atau Trans TV memang sengaja. Film yang diputar tadi malam, adalah SPEED. Buat yang belum tahu film Speed, silakan googling saja, deh. Buat anak 90-an, pasti hapal diluar kepala film action yang satu ini.

Kupikir, Trans TV sungguh tepat menayangkan Speed, pas ketika isu serangan teroris sedang menyeruak. Speed bercerita tentang seorang polisi yang bernama Jack Traven (Keanu Reeves). Dia harus menghadapi seorang ahli bom, yang ternyata seorang pensiunan polisi. Inilah kenapa film ini bertajuk speed. Karena Jack harus memiliki kecepatan, dan berlomba dengan waktu, untuk bisa menggagalkan segala rencana dari sang pensiunan tersebut.

Namanya saja film, ya. Sudah pasti semuanya fiksi. Tetapi kalau ngomongin film action produksi Hollywood, waahh…, berasa asli lah…! Sensasinya seperti ini. Bagaimana bila kamu, saat enak-enaknya berada di dalam sebuah lift, tiba-tiba lift itu putus dan meluncur deras dengan kecepatan maksimal. Atau…, tatkala kamu enak-enaknya naik bus, ternyata bus yang kamu tumpangi ada bom yang sedang aktif. Dan bom itu bisa meledak sewaktu-waktu, sesuai kehendak dari si penjahat!

Setting film Speed memang berada di Los Angeles. Inilah kenapa, aku memberi judul teroris Cicendo, berhadapan dengan teroris Los Angeles. Ini hanyalah imajinasi liarku. Berusaha memperbandingkan, teroris di Cicendo Bandung, barusan, dengan teroris di dalam cerita Speed. Terasa bagaikan langit dan bumi. Yang di Cicendo, terasa amatiran, spontan, dan ‘cuma’ modal nekat. Ya, modal nekat…! Sementara kalau yang di Los Angeles (versi film Speed), sungguh direncanakan dengan baik, rapi, dan ‘cerdas’.

Okelah. Sekali lagi, ini hanyalah imajinasi liarku saja. Tidak ada maksud dan harapan sama sekali, bahwa teror di Bandung harusnya seheboh dan semenggelegar seperti teror bom di film Speed. Oow…, ya jangan sampai laah…!

Semoga para teroris yang masih hidup di luaran sana, tidak mengadopsi gaya-gaya teroris di film-film Hollywood itu. Ups, tidak! Semoga…, para teroris tersebut, sempat membaca tulisan ini. Dan…, come on guys. Dunia ini lebih indah ketimbang bom yang meledak, right…?

God Bless You… (tulisan ini juga terpampang di badan pesawatnya Raja Salman, jadi stop justifikasi yang aneh-aneh ya!)

Share.

About Author

A history - TV shows - politics - general issues - media's freak. Non partisan. Udah, gitu aja.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Donasi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage