The Man Of Honour

The Man Of Honour

14

 

 

Sejak Ahok muncul di Jakarta, banyak pihak yang tidak suka.

Sudah menjadi rahasia umum apa alasan yang membuat pihak-pihak ini tidak suka. Mereka tidak suka karena Ahok mampu bekerja dan menghasilkan karya yang benar-benar nyata dan dinikmati oleh warga Jakarta tapi mempersempit laba haram mereka.

Ketika kalimat fenomenal “Pemahaman Nenek Lu” keluar dan diviralkan,ditambah lagi dengan peristiwa teriakan ‘maling” yang dia tujukan pada seorang ibu yang berusaha mencuri uang KJP yang seharusnya tidak diambil tunai, Ahok langsung disudutkan sebagai Pejabat yang tidak sopan dan bermulut jamban. Padahal semua orang tahu, kalimat itu dia tulis untuk siapa dengan alasan apa.

Namun demikian Ahok tetap bersikap biasa. Dia tanggapi semua usaha menyudutkan dia dengan senyum dan kelakar sambil terus bekerja dan berkarya.

Masih tidak puas dengan usaha pertama, usaha keduapun diturunkan. Isu Sara menjadi pilihan. 

Segala cercaan seperti “Asing Aseng”, “Cina babi”, dan hujatan-hujatan yang menggunakan istilah yang hanya diucapakan di neraka pun bertebaran di dunia maya. Belum lagi foto-foto editan yang maha kejam untuk dikomsusi mata. Bersamaan dengan itu, mereka angkat pula isu reklamasi, RS Sumber Waras dan penggusuran, seolah Ahok adalah seorang kriminal yang pro konglomerat 9 naga.

Ahok tetap menanggapinya biasa. Ahok sadar sepenuhnya resiko menjadi Pejabat dengan status double minority. Dia hadapi segala ejekan, hinaan, hujatan dan tuduhan dengan senyuman, kesabaran dan keyakinan. Sampai akhirnya apa yang dia quote-kan menjadi viral, “Biar dibenci, Saya tetap melayani dan mengasihi”.

Isu SARA tidak mempan, ajang Pilkada akan segera datang, mereka mulai kejang-kejang.

Namun apa mau dikata, ucapan Ahok yang oleh seluruh penduduk Kampung Pramuka di kepulauan Seribu tidak dipermasalahkan, ibarat durian jatuh ditangan mereka. Maka babak berikutnya Ahok pun diserang dengan Isu AGAMA.

Gelombang massa yang datang entah dari mana tiba-tiba memenuhi Jakarta berteriak-teriak pakai pengeras suara meminta Pemerintah untuk memenjarakan Ahok karena telah menghina agama mereka. Sampai-sampai ada seorang pemuda gila yang melaporkan Ahok telah menyakiti perasaan  seluruh umat Islam sedunia.

Pilkada tiba, Ahok didera dengan sindiran-sindiran dari Anies Baswedan yang dikemas dengan kata-kata manis nan sadis. Saya baru sekali ini menyaksikan debat dimana ada kandidat dari awal sampai akhir isi debat cuma hujatan dan hujatan. Ditambah kampanye hitam yang juga menyudutkan pendukung dan memecah belah warga.

Dan Ahokpun kalah di Pilkada. Warga merasa lara dan Balai kota banjir bunga. Ini adalah kejadian pertama di Indonesia bahkan didunia seorang pejabat yang begitu dicintai rakyat. Ahok kalah Pilkada dengan sangat terhormat. Bunga persembahan warga pada Ahok sudah mengalahkan bunga persembahan pads Lady Diana.

Saking terhormatnya, sampai ada pihak yang tidak suka! mereka membakar bunga-bunga yang kami kirim ke Balai Kota.

Isu agama ini memang kejam. Tidak hanya menjadikan Ahok seorang pesakitan, mereka berhasil memenjarakan Ahok dua tahun lamanya. Memisahkan Ahok dengan Djarot dan warganya.

Ternyata putusan sidang memenjawakan Ahok 2 tahun lamanya ibarat menembak sarang lebah. Reaksi rakyat diseluruh Indonesia bahkan dunia benar-benar sangat tidak terduga. Berjuta-juta lilin menerangi malam. Mulai dari Ibu Kota Negara sampai Papua dan belahan lain di dunia.

Menanggapi ini semua Ahok hanya bilang pada Djarot, “Saya ikhlas untuk menjalani ini, untuk memberikan pencerahan kepada seluruh warga. Saya akan terima ini, hadapi ini dengan tegar, dengan tetap teguh menempuh jalur hukum’,” – lalu menutupnya dengan kalimat, “Jangan membenci siapapun.”

Seorang teman di group Whatsup menshare tulisan dari Bapak Herry Tjahyono, yang sangat menggugah. Dia menulis :

” Saat itu juga saya langsung menangkap bahwa orang ini adalah manusia berhati baik – bahkan mulia. Perhatikanlah, semua kalimatnya di atas itu memberikan pesan, Justru pada puncak penderitaan dan kesakitannya – dia sama sekali tak memikirkan dirinya sendiri. Dia memikirkan warganya – agar mendapatkan pencerahan pikiran dan ketenangan hati dengan tidak mennyimpan kebencian. Seolah dia ingin menyerahkan dirinya untuk orang lain. Benar yang pernah kita dengar, hidup Ahok telah diwakafkan untuk rakyat dan bangsanya. Di mana dan kapan lagi kita akan bertemu orang seperti itu?” 

Jujur, saya nangis membaca tulisan dia tentang Ahok….

“Sebuah pribadi yang langka. Tak sekalipun kita mendengar ungkapan dendam, sakit hati, benci. Bahkan tak sekalipun terdengar ungkapan untuk menyalahkan siapapun, padahal ia mengalami puncak ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Semua karya dan prestasi hebatnya dicampakkan begitu saja bak keset yang diinjak-injak, namun dia hanya berkata : “Jangan membenci siapapun.”

Tanpa bermaksud menyesali apapun, saya sering merenung : betapa (warga) Jakarta bukan hanya telah mencampakkan seorang gubernur terbaik yang mungkin tak tertandingi – tapi juga membuang seorang manusia mulia yang bahkan telah mewakafkan hidupnya untuk mereka.
Ahok telah mencukupkan dirinya sendiri. Satu-satunya keinginannya hanyalah bersimpuh di hadapan-Nya. Dalam sepi. Dalam diam.

Teman saya itu mengakhiri kalimatnya dengan tulisan,

“He is the man of Honour!” 

Dan saya sangat sangat sangat setuju dengannya. Bagaimana menurut anda?

Share.

About Author

Pendukung Pemerintahan yang SAH! Muslim yang mendukung Ahok dan Jokowi. Warga Negara yang mencintai Negerinya.

  • About

    Seword.com adalah website opini terpercaya dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin bergabung menulis, kirimkan contoh artikelnya ke email redaksi@seword.com

    Ada kompensasi Rp 3 perhits/view dan dibayarkan setiap bulannya. Misal anda menulis 10 artikel dengan hits/view 11.212 perartikel maka anda berhak mendapat Rp 336.360,-

    Untuk pemasangan iklan atau kerjasama lainnya dapat dikirim ke iklan@seword.com

    Kontribusi ke rekening Mandiri
    13700 13064 080
    PT SEWORD MEDIA UTAMA
    KCP Yogyakarta Diponegoro

    Alifurrahman
    WA: +150 6802 8643

  • Seword Fanspage